Mang Usep Ngalalana

Home » Nyakola-Academia » Tantangan Mendidik Guru yang Adaptif

Tantangan Mendidik Guru yang Adaptif

Dalam literatur tentang pendidikan guru, LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan)  di banyak negara, selalu dikritisi atas ketidakmampuannya untuk mendidik dan mempersiapkan guru yang berkualitas. Kritik juga menyasar pada terlalu lebarnya kesenjangan antara teori yang diajarkan di LPTK dengan realitas yang ada di sekolah. LPTK juga dikritik karena terlalu menjaga jarak dengan sekolah. Di Indonesia, dalam laporan studi mereka tentang tentang pendidikan guru di LPTK negeri di seluruh Indonesia, USAID menemukan kondisi yang sama. Jika anda dosen pengajar mata kuliah Microteaching atau metode pembelajaran, dan anda membimbing mahasiswa PPL, anda akan dengan mudah melihat kesenjangan ini.

Kesenjangan antara teori dan praktik mungkin tidak akan bisa sepenuhnya dihilangkan. Kurikulum LPTK mungkin tidak akan mampu mengakomodasi beragam realitas yang ada di sekolah dengan segala keunikan konteksnya. Tapi, kesenjangan ini bisa dijembatani dengan merancang program pembelajaran calon guru yang mampu mempersiapkan mereka menjadi guru yang adaptive expert. Yakni, guru yang mampu mengadaptasikan dan menerapkan pengetahuan teoretis yang mereka pelajari di kampus pada beragam realitas yang mereka temui di sekolah.

Guru yang adaptive expert memiliki kemampuan dan kemauan untuk belajar dari kegiatan mengajar. Kembali, LPTK banyak dikritisi karena program pendidikan guru yang mereka kelola tidak mampu membekali calon guru dengan kemampuan adaptif. Pendidikan calon guru di LPTK lebih menekankan pada menyediakan toolbox yang berisi alat dan beragam strategi untuk mengajar. Tapi, tidak mempersiapkan guru untuk mampu mengadaptasikan penggunaan alat dan strategi tersebut pada berbagai konteks sekolah yang beragam. LPTK terlalu fokus pada mempersiapkan guru untuk menjadi pengajar, bukan pembelajar.

Picture: KeepCalmAndPosters.com

Untuk mendidik guru yang memiliki keterampilan adaptif, LPTK harus menanamkan fondasi lifelong learning yang kuat dalam diri calon guru. LPTK harus merancang program pembelajaran dan mempersiapkan materi pembelajaran yang memfasilitasi calon guru untuk mampu belajar dari mengajar; untuk mampu merefleksikan apa yang mereka kerjakan. Untuk menanamkan fondasi lifelong learning dan mempersiapkan guru untuk menjadi adaptive expert, Linda Darling-Hammond, dkk, di Stanford Graduate School of Education, menyarankan agar LPTK terlebih dahulu mengantisipasi dan menangani tiga masalah utama dalam pendidikan guru, yakni apprenticeship of observation, the problem of enactment, dan problem of complexity.

Setiap mahasiswa yang mendaftar ke LPTK membawa bekal pengetahuan tentang apa guru itu dan seperti apa pekerjaan guru itu. Sayangnya, pengetahuan awal tentang profesi keguruan ini mereka peroleh secara taken-for-granted; pengetahuan yang mereka telan mentah-mentah dari hasil observasi selama duabelas tahun menjadi siswa di sekolah. Pengetahuan ini sangat dipengaruhi oleh konteks lingkungan. Mahasiswa calon guru yang bersekolah di sekolah negeri berkualitas mungkin memiliki pengetahuan berbeda tentang profesi keguruan dibanding mereka yang sekolah di sekolah biasa; mereka yang berasal dari keluarga guru bisa jadi memiliki pengetahuan tentang profesi keguruan yang berbeda dengan mereka yang bukan berasal dari keluarga guru.

Dengan kata lain, pengetahuan tentang profesi keguruan yang mahasiswa calon guru bawa ke LPTK itu hanya berupa persepsi atas “cangkang”, bukan inti dari profesi keguruan. Inilah yang dinamakan dengan apprenticeship of observation. Coba tanyakan ke mahasiswa keguruan tahun pertama, kenapa kuliah di LPTK? Apa guru itu? Kemungkinan kita akan memperoleh jawaban-jawaban seperti ini, “saya perempuan, pekerjaan jadi guru cocok untuk perempuan”, menjadi guru itu pekerjaan mulia karena bisa bekerja sekaligus beramal”, atau “pekerjaan guru itu mudah, bisa banyak waktu untuk keluarga”. Persepsi seperti ini berasal dari apa yang mereka amati selama menjadi siswa.

Apprenticeship of observation ini harus ditangani dengan seksama karena jika dibiarkan, maka akan memperburuk masalah berikutnya dalam pendidikan guru, yakni the problem of enactment. Belajar menjadi guru mengharuskan mahasiswa calon guru untuk memiliki pola pikir dan tindak tanduk layaknya seorang guru. Ada beberapa LPTK mewajibkan mahasiswanya untuk berpakaian layaknya seorang guru dan melarang pakaian casual seperti yang berbahan jeans. Ini tentu saja sebuah inisiatif yang baik guna menumbuhkan identitas keguruan dalam diri mahasiswa sejak dini. Akan tetapi, peraturan formal berpakaian saja tidak cukup untuk memfasilitasi mahasiswa berpikir dan bertindak layaknya seorang guru.

The problem of enactment adalah masalah yang terkait dengan kemampuan mahasiswa calon guru untuk menerapkan teori yang mereka pelajari. Masalah ini tidak bisa diatasi hanya dengan peraturan formal cara berpakaian; melainkan harus dengan program pembelajaran yang menjembatani teori dengan realitas di sekolah. Mahasiswa calon guru bukan hanya harus paham teorinya, tapi juga harus mampu menerapkannya dalam berbagai konteks sekolah. Makanya, pembelajaran yang hanya fokus pada hafalan beragam teori dan prosedur mengajar jelas tidak memadai.

Masalah yang ketiga dalam pendidikan guru adalah the problem of complexity. LPTK harus membantu mahasiswa calon guru menyadari kompleksitas profesi guru. Mahasiswa calon guru sejak dini harus disuguhkan pada berbagai realita seperti apa pekerjaan guru itu. Mereka harus paham bahwa pekerjaan guru itu melibatkan aspek personal, sosial, kultural, bahkan politis; bahwa menjadi guru itu bukan hanya soal bagaimana berinteraksi dengan siswa, tapi juga interaksi dengan orang tua siswa, rekan sejawat, dan yang lainnya; bahwa setiap siswa memiliki kebutuhan dan gaya belajar tersendiri, dan seterusnya. Termasuk menghadapkan mereka pada realitas seperti apa dan bagaimana guru honorer itu, apa hak dan kewajiban seorang guru, berapa gaji guru, dan sebagainya.

Dan yang lebih penting lagi adalah membekali mahasiswa calon guru dengan pemahaman bahwa mengajar itu bukan rutinitas, melainkan pekerjaan yang membutuhkan inovasi dan kreatifitas. Oleh karena itu, menjadi guru bukan hanya harus siap mengajar, tapi juga harus rajin belajar. Mereka harus dibekali kemampuan untuk mampu belajar dari dirinya sendiri melalui refleksi; mampu melakukan penilaian atas praktik mengajar mereka sendiri. Kemampuan ini penting guna mempersiapkan mereka menjadi guru yang adaptif, yang mampu menyesuaikan cara mengajar dengan konteks sekolah yang berbeda-beda.

Ketiga masalah dalam pendidikan guru ini harus ditangani sejak dini. Usaha untuk menangani ketiga masalah ini harus merata dan terintegrasi di semua mata kuliah di LPTK. Setiap mata kuliah harus memiliki keterkaitan erat dengan dunia nyata di sekolah. Sajikan apa yang ada di sekolah kepada mahasiswa. Ada dua mata kuliah di tingkat satu yang sebenarnya bisa dimaksimalkan guna menangani ketiga masalah ini sejak dini, yakni mata kuliah Profesi Kependidikan dan Pengantar Pendidikan. Berdasarkan pengalaman saya sebagai lulusan LPTK dan sekarang bekerja di LPTK, saya melihat kedua mata kuliah ini terlalu dijejali dengan teori.

Ketika saya masih mahasiswa di sebuah LPTK, sebagai calon guru, saya dikenalkan pada berbagai definisi profesi guru sebagaimana dikemukakan para pakar; juga dikenalkan pada berbagai macam kompetensi yang wajib dimiliki seorang guru. Sayangnya, semua itu disampaikan dalam bentuk hafalan, bukan pemahaman. Kami, mahasiswa diminta untuk mengetahui berbagai kompetensi guru tanpa contoh nyata seperti apa implementasi kompetensi tersebut di sekolah, dan bagaimana mempelajari dan meningkatkan kompetensi tersebut. Dan semua yang dosen bahas pada mata kuliah tersebut merujuk pada buku teks Profesi Kependidikan. Bahkan, pernah saya menemukan ada mata kuliah profesi kependidikan yang ujian akhir semesternya membolehkan mahasiswa membuka buku dan pertanyaan yang diajukannya adalah, “sebutkan definisi-definisi profesi menurut pakar A, B, dan C?”, dan kemudian dosennya uring-uringan karena jawaban mahasiswa semuanya sama dan menuduh mahasiswa saling contek.

Menurut saya, kedua mata kuliah ini sebenarnya tidak membutuhkan buku teks sebagai rujukan, karena bahan ajarnya berserakan dalam kehidupan sehari-hari. Gunakanlah isu-isu terkini tentang pendidikan sebagai bahan ajar supaya pengetahuan dan pemahaman mahasiswa tentang apa dan bagaimana profesi keguruan itu lebih aktual dan faktual. Coba tanyakan ke mahasiswa tingkat satu di LPTK, apa tugas guru? Jawaban mereka kemungkinan tidak jauh dari aspek mengajar dalam artian berada di kelas.

Mereka bisa jadi belum paham bahwa menangani Bullying juga tugas guru; bahwa guru sering berada pada posisi dilematis antara mengajar demi siswa bisa atau mengajar demi memenuhi target kurikulum, atau kondisi dimana banyak guru yang harus memiliki pekerjaan sampingan demi memenuhi kebutuhan hidup. Pengetahuan-pengetahuan seperti ini biasanya baru mahasiswa calon guru peroleh keitka mereka PPL di sekolah. Mereka mengetahuinya dari guru di sekolah tempat mereka PPL, bukan dari pembelajaran yang diperoleh selama di LPTK. Memahami isu-isu seperti ini baru ditingkat akhir perkuliahan tentu saja sangat telat.

Hal lain yang harus dilakukan guna menangani ketiga masalah dalam pendidikan guru ini adalah dengan meningkatkan kemampuan dan pengetahuan praktis para dosen, khususnya kemampuan pedagogis. Studi yang dilakukan USAID sebagaimana saya kutip di atas juga menemukan bahwa salah satu sumber penyebab lebarnya kesejangan teori dan praktik dalam pendidikan guru di Indonesia adalah lemahnya kemampuan pedagogis dosen LPTK. Studi tersebut menemukan bahwa dosen LPTK di Indonesia sangat hebat dalam penguasaan bidang studi, namun lemah dalam kemampuan pedagogi. Akibatnya, mereka tidak mampu menjadi role model yang baik bagi mahasiswa calon guru.

Pedagogi pendidikan guru itu memiliki dua tingkatan. Pertama, guru belajar content, yakni bidang keilmuan sesuai dengan mata pelajaran yang akan diajar, dan yang kedua adalah guru belajar mengajarkan content tersebut. Artinya, kapasitas dosen LPTK juga harus berada pada dua tingkatan ini. Jangan hanya hebat pada bidang studi yang diampu tapi juga mumpuni secara pedagogis. Untuk mendesain sebuah proses pembelajaran calon guru yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan, maka pengetahuan dosen LPTK tentang realitas di lapangan juga harus memadai. Oleh karena itu, terjun ke bawah, bermitra dengan guru, merupakan sebuah keharusan.

Image by Shutterstock

Literatur dalam pendidikan guru menyebutkan bahwa salah satu tugas utama dosen LPTK adalah menjadi role model pembelajaran bagi mahasiswa calon guru. Jika ingin mahasiswa kelak menjadi guru yang kreatif, maka ajarilah mereka dengan cara-cara yang kreatif. Jika ingin mereka kelak menjadi guru pembelajar, guru yang memiliki adaptive skill, maka tunjukanlah kepada mereka seperti apa menjadi guru pembelajar itu, seperti apa adaptive skills itu.

Sebenarnya ada satu masalah tambahan dalam pendidikan guru di Indonesia – selain ketiga masalah yang saya ulas di atas. Yakni, penomena bahwa LPTK selalu menjadi pilihan terakhir untuk melanjutkan studi. LPTK ditantang untuk mendidik dan mempersiapkan mahasiswa menjadi guru yang berkualitas, padahal bisa jadi sebenarnya mereka tak memiliki rencana dan cita-cita menjadi guru. Masuk LPTK hanya karena faktor disuruh orang tua atau karena tidak ada pilihan lain, atau hanya karena ingin belajar content saja, ingin belajar Bhs. Inggris saja, matematika saja, dan seterusnya. Soal jadi guru atau tidak, itu bagaimana nanti.

Tulisan ini hanyalah otokritik terhadap diri saya sendiri sebagai dosen LPTK. Tidak dimaksudkan untuk menyinggung atau mengkritisi pihak lain. Ini hanya refleksi atas apa yang pernah saya alami dan saksikan selama tigabelas tahun terakhir bergelut dibidang pendidikan; baik sebagai mahasiswa LPTK, guru, dan sekarang gurunya guru di LPTK.

Wallahualam …

Disclaimer:

THIS BLOG claims no credit for any images posted on this site unless otherwise noted. Images on this blog are copyright to its respectful owners. If there is an image appearing on this blog that belongs to you and do not wish for it appear on this site, please E-mail with a link to said image and it will be promptly removed.

Sebagai mahasiswa program Doktor di Penn State University College of Education yang didanai melalui program beasiswa LPDP, tulisan pada Blog ini merupakan pendapat saya pribadi dan tidak mewakili Penn State University of College of Education maupun LPDP secara kelembagaan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: