Mang Usep Ngalalana

Home » Hirup-Hurip » Tentang Punya Anak sambil Menempuh Pendidikan S3 di Luar Negeri

Tentang Punya Anak sambil Menempuh Pendidikan S3 di Luar Negeri

Penn State Library

Kali ini saya ingin berbagi cerita singkat tentang pengalaman pertama memiliki anak sambil menjalani pendidikan S3 di Amerika Serikat. Sebenarnya ada banyak cerita “seru, tegang, dan fun” tentang pengalaman ini, tapi saya hanya akan fokus pada satu aspek saja, yakni tentang pembiayaan. Karena saya yakin jika urusan keuangan ini menjadi salah satu pertimbangan utama ketika memutuskan akan menempuh studi di luar negeri dan di saat yang bersamaan memiliki rencana untuk mempunyai momongan.Mudah-mudahan sekelumit cerita dari pengalaman saya ini bisa memberikan semacam preview bagi rekan-rekan yang kebetulan saat ini sedang galau harus memilih: menikah dulu, punya anak terus kemudian melanjutkan kuliah atau jika sudah menikah, harus memilih antara punya anak dulu baru kemdudian melanjutkan studi; atau, memilih menjalani keduanya secara berbarengan.

Saya tidak akan bohong bahwa memiliki momongan sambil menempuh studi di luar negeri, khususnya Amerika Serikat, tidaklah mudah, khususnya terkait dengan masalah keuangan. Satu-satunya sumber penghasilan saya selama menempuh pendidikan S3 di Pennsylvania State University adalah dana bulanan beasiswa dari negara. Kenapa nekad memiliki momongan sambil kuliah di luar negeri? Usia merupakan faktor utama saya dan isteri mengambil keputusan ini. Sebenarnya sudah lama kami ingin memiliki momongan, tapi sejak menikah di tahun 2012, kami selalu menjalani LDR; jadi cukup sulit untuk merencanakan memiliki momongan.

Desember 2016, isteri menyusul saya ke Amerika Serikat. Sengaja dia baru datang enam bulan kemudian karena ketentuan dari pemberi beasiswa menegaskan bahwa tunjangan keluarga baru bisa diberikan pada bulan keenam. Rencana memiliki momongan ini memang sudah lama kami bicarakan, dan kami sepakat apapun itu, kami akan melakukannya. Tentu saja, kami menyadari segala konsekuensinya, termasuk masalah keuangan. Asuransi merupakan komponen keuangan yang paling penting.

Premi asuransi bagi mahasiswa asing di Amerika Serikat cukup mahal. Di Pennsylvania State University, AETNA selaku mitra kampus sebagai penyedia asuransi bagi mahasiswa menetapkan premi sebesar $3,250 per tahun. Angka yang sangat besar tentunya bagi kami sebagai mahasiswa yang hidup hanya mengandalkan dari beasiswa. Pemberi beasiswa hanya menanggung asuransi untuk saya; jadi, saya harus membayar sendiri asuransi untuk isteri. Karena isteri baru tiba di bulan Desember, saya hanya harus membayar asuransi untuk setengah tahun saja yakni sekitar $2500an untuk semester Spring dan Summer. Kami menggunakan sedikit tabungan dari tanah air untuk membayar ini.

Meraki Aksara Mikail Syaripudin

Alhamdulilah, Februari 2016, isteri positif hamil dan tentu saja kami berdua sangat senang. Tetapi, kami menerima kabar dari provider asuransi bahwa proses aplikasi asuransi untuk isteri saya bermasalah, sehingga isteri saya belum ter-cover. Akibatnya, saya tidak bisa membawa isteri ke dokter untuk pemeriksaan. Sebenarnya sih bisa saja melakukan pemeriksaan tanpa asuransi, artinya kami harus bayar sendiri. Tapi $200 untuk sekali pemeriksaan jelas terlalu mahal bagi kami. Akhirnya, kami memilih untuk menunggu proses aplikasi asuransi isteri selesai.

Hingga pekan kesepuluh kehamilan, proses alikasi untuk isteri belum kunjung selesai. Karena bagi kami berdua ini merupakan pengalaman pertama, jelas kami sangat khawatir karena belum sekalipun kami memeriksaan kehamilan tersebut ke dokter. Untungnya, melalui informasi yang saya peroleh di kampus, di kota tempat tinggal kami, State College, terdapat Pregnancy Resource Center, yang memberikan layanan pemeriksaan kehamilan secara gratis. Meski mereka tidak berwenang untuk mengambil tindakan medis, tapi layanan yang mereka sediakan cukup memadai jika hanya untuk sebatas pemeriksaan. Alhamdulilah, hasil pemeriksaan menunjukan kondisi kehamilan isteri saya sangat baik.

Singkat cerita, proses aplikasi asuransi saya selesai dan akhirnya kami bisa melakukan pemeriksaan ke dokter. Hari demi hari, minggu, hingga bulan berlalu, akhirnya Oktober 2016, melalui proses persalinan normal, isteri melahirkan anak pertama kami, seorang anak laki-laki yang kami beri nama Meraki Aksara Mikail. Sejak awal saya dan isteri sepakat untuk menjalani proses persalinan normal. Bukan karena kami menganggap proses persalinan normal lebih hebat dibanding C-section, melainkan karena dari hasil membaca berbagai rujukan dan bertanya kesana-kemari, kami menemukan bahwa proses persalinan normal lebih cepat proses pemulihannya dibanding persalinan C-section. Cepatnya proses pemulihan menjadi pertimbangan utama mengingat kami disini hanya tinggal berdua.

Pengumuman di dinding Rumah Sakit

Menyangkut soal pembiayaan, sesuai ketentuan pertanggungan asuransi yang dipakai di kampus saya, asuransi hanya menanggung biaya pemeriksaan kehamilan  hingga persalinan sebesar 90 persen; dan sisanya adalah co-insurance, yakni jumlah tagihan yang harus kami bayar sendiri. Berdasarkan tagihan dari rumah sakit, total biaya yang harus dibayar sejak masa pemeriksaan kehamilan hingga persalinan adalah sebesar $26000an. Sesuai ketentuan, 10 persen diantaranya (sekitar $2600an) menjadi tanggungjawab saya. Jumlah yang cukup berat tentunya bagi kami. Tentu kami memiliki sedikit tabungan, tapi itu sudah alokasikan untuk dana cadangan karena bagaimanapun sangat beresiko jika memiliki anak tanpa memiliki tabungan.

Akhirnya saya berkonsultasi dengan pihak rumah sakit guna memperoleh keringanan pembayaran. Pihak rumah sakit menanyakan darimana sumber penghasilan saya dan berapa penghasilan saya per tahun. Saya jelaskan bahwa saya mahasiswa yang hidup hanya mengandalkan dana beasiswa dari negara. Menurut pihak rumah sakit, total jumlah penghasilan saya per tahun masih jauh di bawah ambang batas penghasilan rata-rata penduduk disini. Artinya, saya termasuk dalam kategori keluarga pra-sejahtera. Rumah sakit akan memberikan saya keringanan pembayaran dengan catatan saya harus mengajukan dulu keterangan tidak mampu dari pemda setempat.

Akhirnya, saya mengajukan surat keterangan tidak mampu ke pemda setempat. Cukup mengisi formulir aplikasi online dan tak lebih dari 24 jam, surat tersebut sudah diterbitkan. Bagaimana mereka tahu bahwa penghasilan saya memang di bawah garis sejahtera? Saya dan isteri memiliki SSN (Social Security Number), dan melalui angka itulah, pemda melacak semua aset-aset saya. Jadi, susah untuk berbohong soal penghasilan disini.

Surat keterangan tersebut kemudian saya bawa ke rumah sakit, dan sekitar seminggu kemudian, saya memperoleh kabar bahwa saya sudah dibebaskan dari semua tagihan; saya tidak perlu lagi membayar sisa tagihan sebesar $2600an tersebut, Alhamdulillah! Bertambahnya anggota keluarga berarti bertambah pula anggaran yang dibutuhkan, termasuk untuk asuransi. Status anak saya yang otomatis menjadi warga negara Amerika Serikat karena lahir disini memberikan keringanan bagi kami. Dengan status warga negara, anak saya berhak memperoleh berbagai tunjangan dari negara seperti asuransi kesehatan dan tambahan suplemen makanan. Dan ini jelas meringankan beban anggaran keluarga kecil kami. Hingga saat ini, kami masih menerima santunan dana bulanan dari pemda setempat untuk membeli makanan bergizi bagi isteri saya yang sedang menyusui dan anak saya.

Mt. Nittany Medical Center

Bagi rekan-rekan yang sedang galau mengambil keputusan, sekali lagi saya katakan, memiliki momongan sambil kuliah di luar negeri itu tidak mudah, tapi juga memungkinkan untuk dijalani. Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan: pertama, cari tahu berapa premi asuransi di kampus tujuan sehingga kita bisa menyusun anggaran secara lebih terencana; cari informasi tentang apa saja yang di-cover, tidak di-cover, dan berapa persen co-insurance; kedua, sebesar apapun, tabungan yang dibawa dari tanah air akan sangat membantu; ketiga, cari tahu sumber-sumber tunjangan benefits dari pemda dimana kampus anda berlokasi. Misalnya, klinik gratis, tunjangan makanan bergizi untuk ibu dan anak, asuransi bersubsidi atau gratis dari negara/pemda setempat, atau bahkan tunjangan lain seperti tunjangan listrik dan sebagainya. Karena biasanya, di negara maju seperti Amerika Serikat, ada banyak tunjangan dari negara untuk keluarga pra-sejahtera. Dan tentunya, tidak perlu gengsi mengakui bahwa penghasilan kita memang di bawah garis sejahtera. Ada banyak ribuan mahasiswa di Pennsylvania State University yang seperti saya.

Darimana cari tahu informasi tentang hal-hal tersebut? Website kampus tentu saja menjadi rujukan utama. Dan yang tak kalah penting tentunya bertanya ke alumni atau mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di kampus tujuan anda, dan tentu saja, bertanya ke mahasiswa yang sudah berkeluarga. Ada banyak cerita seru sebenarnya dari pengalaman kami memiliki momongan sambil kuliah di luar negeri. Tapi, seperti saya bilang sebelumnya, saya hanya akan bercerita soal keuangan saja. Soal yang lainnya, silahkan anda coba sendiri; Berani?! 🙂

Catatan tambahan: Ini kisah saya di Pennsylvania State University. Tidak bisa digeneralisir karena meski sama-sama di Amerika Serikat, bisa jadi ketentuan di kampus dan negara bagian lain berbeda. Untuk pengalaman memiliki momongan sambil kuliah di negara lain, silahkan Google sendiri, ada banyak cerita tentang itu.

Disclaimer:

THIS BLOG claims no credit for any images posted on this site unless otherwise noted. Images on this blog are copyright to its respectful owners. If there is an image appearing on this blog that belongs to you and do not wish for it appear on this site, please E-mail with a link to said image and it will be promptly removed.

Sebagai mahasiswa program Doktor di Penn State University College of Education yang didanai melalui program beasiswa LPDP, tulisan pada Blog ini merupakan pendapat saya pribadi dan tidak mewakili Penn State University of College of Education maupun LPDP secara kelembagaan.

Advertisements

2 Comments

  1. khairulaini2017 says:

    Salam Usep,
    My name is Aini and I am from Malaysia. I received my doctorate from College of Education Penn State in 2012. It was interesting to read your blog as I brought back all the memories when I was there as a doctoral student. I learn a lot from the place and the people there and will never stop thanking Allah for giving me the chance to be there meeting all the great scholar there. All the the best Usep!!! You can do it.

    Like

    • usepsyarip says:

      Salam Aini,
      Salam kenal. Penn State is such a wonderful place. I meet a lot of wonderful people here. There are only two grad students with family from Indonesians; most of Indonesians here are undergrad. There are more Malaysians. So, I mostly interact with Malaysians that Indonesians. Pak Arif, a PhD student in Physics, he’s from Malaysia, and he’s really nice. Terima kasih.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: