Mang Usep Ngalalana

Home » Nyakola-Academia » Kenapa Ingin jadi Guru?

Kenapa Ingin jadi Guru?

Photo by Wayne0216, downloaded from http://www.shutterstock.com/pic.mhtml?utm_medium=Affiliate&tpl=46297-54701&utm_source=46297&utm_campaign=Pavel%20Nemec&id=360912101&irgwc=1

Photo by Wayne0216, downloaded from http://www.shutterstock.com

Tahun ini saya kembali dilibatkan untuk menjadi anggota tim seleksi mahasiswa untuk program PDS (Professional Development School). PDS adalah model pendidikan guru yang meniru model pendidikan calon dokter dimana mahasiswa harus menjalani “clinical practice” dalam bentuk praktik mengajar selama satu tahun penuh di sekolah. Mahasiswa tingkat akhir di fakultas keguruan di Penn State diberi dua pilihan model praktik mengajar, yakni praktik mengajar tradisional, seperti layaknya yang praktik mengajar di kampus keguruan di Indonesia, mahasiswa mengajar di sekolah selama kurang lebih tiga bulan sampai satu semester. Pilihan yang kedua adalah mengikut program PDS, yakni melakukan praktik mengajar selama satu tahun ajaran penuh. Karena PDS ini memerlukan komitman tinggi mahasiswa praktikan, makanya dilakukan seleksi guna memilih mahasiswa mana saja yang layak untuk direkrut mengikuti program PDS. Lebih lanjut tentang PDS dapat dibaca pada postingan saya sebelumnya DISINI.

Salah satu tahapan seleksi untuk mengikuti PDS adalah mahasiswa diminta untuk mejawab beberapa pertanyaan berikut dalam bentuk essay:

  1. Ceritakan kenapa anda ingin menjadi guru?!
  2. Ceritakan apakah ada pengalaman, kejadian, atau bahan bacaan yang mempengaruhi pandangan anda tentang kualitas guru yang baik itu seperti apa?!
  3. Ceritakan pengalaman dimana anda harus berurusan/bekerja dengan anak-anak atau anak sekolah?
  4. Jelaskan kenapa anda ingin mengikut praktik mengajar melalui PDS? Kira-kira bagaimana PDS akan memberikan manfaat positive bagi karir anda di masa depan?
  5. Praktik mengajar di sekolah itu membutuhkan komitmen dan kemauan untuk berkolaborasi dan bekerjasama, jelaskan apakah anda punya pengalaman dimana anda dituntut untuk berkomtimen tinggi dan harus berkolaborasi dengan orang lain?
  6. Selama praktik mengajar, anda akan berinteraksi dengan guru pamong dan dosen pembimbing, mereka akan membimbing sekaligus memberikan feedback terhadap kinerja anda, ceritakanlah sebuah situasi dimana anda harus menerima feedback dari orang lain, dan bagaimana anda bersikap terhadap feedback tersebut? Bagaimana anda memanfaatkan feedback tersebut untuk kemajuan anda?

Saya tidak akan menceritakan satu persatu secara detil bagaimana mahasiswa calon praktikan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas; saya hanya akan merangkum satu point penting dan menarik yang saya temukan ketika saya mengevaluasi dan membaca essay-essay mereka. Yakni, keyakinan mereka sejak awal bahwa mereka ingin menjadi guru. Alasan utama mereka kuliah di kampus keguruan adalah karena memang mereka ingin menjadi guru.

Dari essay mereka saya melihat bahwa sejak di SMA, mereka sudah mendesain “jalan” yang akan mereka tempuh untuk menjadi guru. Semua mahasiswa menuliskan bagaimana mereka sejak kelas 2 SMA sudah mulai mencari pekerjaan, baik pekerjaan berbayar maupun pekerjaan sukarelawan, yang ada kaitannya dengan tugas-tugas keguruan. Misalnya, ada yang menceritakan bagaimana mereka menjadi tutor untuk anak SD di lingkungan tempat tinggal, ada yang mengajar Les, menjadi babysitter, membantu menjadi tenaga sukwan di sekolah, atau pekerjaan lain yang ada kaitannya dengan pekerjaan guru.

Dengan kata lain, mereka sudah memiliki visiyang jelas tentang rencana karir di masa depan serta bagaimana “membangun” jalan guna meraih karir tersebut. Mereka sudah memiliki gambaran tentang bagaimana dan seperti apa pekerjaan guru itu.

IMG_0723Bagaimana dengan di Indonesia? Sekitar tahun 2013, saya mengajar delapan kelas mahasiswa tingkat akhir yang baru kembali ke kampus setelah menjalankan praktik mengajar (PPL) selama tiga bulan di sekolah. Saya kelompokan mereka dalam satu kelompok sejumlah 5 (lima) orang. Lalu, saya undang masing-masing kelompok untuk berdiskusi, semacam Focus Group Discussion di kelas. Saya berikan mereka tiga pertanyaan berikut:

 

 

  1. Dulu, ketika selesai UN di SMA, coba diingat-ingat kembali, ketika anda sedang sibuk mencari kampus untuk melanjutkan kuliah, bagaimana sih ceritanya hingga akhirnya anda menjatuhkan pilihan untuk kuliah di FKIP? Apa alasan/motivasi anda kuliah di FKIP?
  2. Selama hampir empat tahun kuliah di FKIP, apa sih pengalaman paling signifikan?
  3. Apa rencana setelah lulus kuliah? Mencari kerja sebagai Guru?

Kurang lebih seperti ini jawaban mereka. Kenapa kuliah di FKIP, Bhs. Inggris? Jawaban paling banyak adalah: karena suka Bhs. Inggris, karena murah, karena orang tua saya guru, dan karena tidak diterima di jurusan yang diinginkan; dan jawaban paling sedikit adalah karena saya ingin jadi guru. Lalu apa pengalaman belajar paling berkesan selama di FKIP? Mereka semua menjawab bahwa PPL adalah pengalaman paling berkesan, terlepas itu kesannya negative atau positive (Akan diulas secara terpisah pada postingan berbeda tentang ini).

Kemudian, bagaimana dengan rencana karir, jawaban mereka sedikit membuat saya tertegun. Sebagian besar mengakatan bahwa saya akan mencari pekerjaan lain dulu, jika tidak mendapatkannya, baru saya akan mempertimbangkan pekerjaan guru. Ada yang mengatakan akan mencari pekerjaan sebagai guru? Ada, tapi yang mengatakan dengan meyakinkan dan lantang bahwa “saya akan mencari pekerjaan sebagai guru” dapat dihitung dengan jari (Catatan bahwa guru yang dimaksud disini adalah guru di sekolah formal). Sisanya, menyatakan ingin menjadi guru tapi ada embel-embelnya, “kalau jadi PNS sih mau saja jadi guru, kalau tidak mah, yah cari pekerjaan lain dulu aja” atau “mau jadi guru tapi bukan di sekolah, di tempat kursus saja” atau “saya mau jadi gurunya guru, jadi dosen”.

Saya tidak tahu apakah ini phenomena umum di semua LPTK atau hanya di tempat kerja saya saja; karena saya belum menemukan ada riset yang secara mendalam mengulas tentang isu ini. Satu yang pasti bahwa phenomena ini merupakan tantangan terbesar bagi LPTK dalam mendidik dan mempersiapkan guru-guru terbaik. Mendidik calon dokter nampak “lebih mudah” dibanding mendidik calon guru, jika kasusnya seperti ini. Karena di fakultas kedokteran, mereka mendidik orang yang mungkin sejak dalam kandungan memang ingin menjadi dokter. Sementara itu, kuliah di FKIP dan bekerja menjadi guru selalu menjadi pilihan terakhir; kenapa masuk FKIP? Yah daripada tidak kuliah; kenapa jadi guru? Yah daripada tidak kerja.

LPTK merupakan satu-satunya pintu masuk ke profesi guru. Sehingga LPTK mengemban tanggungjawab yang besar dalam mendidik dan mempersiapkan guru masa depan. Berbeda dengan pabrik elentronik yang menyediakan garansi dan layanan purna jual, perguruan tinggi tidak seperti itu, sekali produksi langsung lempar ke pasar, apapun itu kualitas produknya. LPTK bertanggungjawab bukan hanya membekali mahasiswa dengan kemampuan sesuai bidang studinya (Subject matter knowledge) tapi juga kemampuan pedagogis.

Photo: wartasekolah.com

Photo: wartasekolah.com

Tantangannya, pertama, ada isu “bahan baku”, sudah menjadi rahasia umum jika siswa terbaik di SLTA masih enggan menempatkan FKIP sebagai tujuan utama melanjutkan studi. Sementara itu, sebagian besar LPTK adalah kampus swasta yang hidupnya sangat bergantung pada biaya kuliah dari mahasiswa. Sehingga, mereka berlomba-lomba merekrut mahasiswa sebanyak mungkin, sesuai kuota, agar mampu menutupi anggaran. Kalau sudah begini, maka seleksi mahasiswa baru hanya sekedar proses formalitas karena tujuan utamanya adalah mencapai kuota. Tantangan berikutnya ada di visi dan motivasi mahasiswa melanjutkan studi ke LPTK. Seperti diuraikan di atas, kuliah ke LPTK selalu menjadi pilihan terakhir. Itupun motivasinya bisa jadi bukan karena punya cita-cita menjadi guru, tapi lebih karena suka ke bidang studinya (Suka ke Bahasa Inggris, misalnya), dan meyakini bahwa dengan kemampuan Bhs. Inggris yang dimiliki, maka akan lebih banyak peluang terbuka, bukan hanya menjadi guru.

Menindaklanjuti disukusi saya tahun 2014 tersebut, tahun lalu, saya bersama Bu Lutfi, melakukan sebuah Mini-research tentang topik yang sama. Insya Allah, riset ini akan saya sajikan di Language Teacher Conference di University of California Los Angeles (UCLA) awal Februari 2017 ini. Saya akan mengulas lebih detil apa temuan riset saya dan Bu Lutfi pada postingan berikutnya. Namun, secara umum kami menemukan hal yang sama seperti yang saya temukan melalui disuksi saya dengan mahasiswa tahun 2013 lalu. Akan tetapi, ada hal menarik yang kami temukan terkait dengan pengalaman signifikan selama kuliah di FKIP. Ada kesan bahwa mahasiswa kurang begitu tertarik dengan mata kuliah-mata kuliah keguruan karena buat mereka mata kuliah tersebut terlalu teoretis, isinya hanya presentasi dan ceramah; apalagi setelah PPL mereka merasa bahwa apa yang dibahas di mata kuliah keguruan bertolak belakang dengan realitas yang mereka temukan di lapangan.

Seperti disebutkana sebelumnya bahwa LPTK merupakan satu-satunya pintu masuk ke profesi keguruan. Artinya, LPTK adalah pihak yang paling berwenang dan bertanggungjawab dalam mendidik dan mempersiapkan calon guru. Usaha untuk meningkatkan kualitas guru harus dimulai jauh sejak dini, yakni sejak para guru dididik di LPTK. Usaha peningkatan kualitas guru harus sejalan dengan usaha peningkatan kualitas proses pembelajaran di LPTK; sejalan dengan usaha peningkatan kualitas gurunya guru. Belajar menjadi guru itu tidak bisa dipandang sebagai sebuah proses “discovery learning” atau “Learning by doing”; akan tetapi sebuah proses pembelajaran yang terencana dan terarah serta dibimbing oleh mediator berkualitas; siapa mediator itu? Yakni mereka para gurunya guru.

Gaji selalu menjadi alasan utama kenapa mahasiswa tidak memprioritaskan pekerjaan guru setelah lulus kuliah. Proses pembelajaran di LPTK mungkin tidak akan bisa merubah persepsi ini, tapi karena sebagian besar dari mereka pada akhirnya bekerja sebagai guru setelah lulus (Perlu riset lanjutan disini), LPTK berkewajiban untuk “menyadarkan” mereka bahwa apapun jenis pekerjaan yang akan mereka cari nantinya setelah lulus, mereka tetap harus mengambil mata kuliah keguruan secara sungguh-sungguh. LPTK berkewajiban untuk menanamkan visi keguruan dalam diri mahasiswa. Bukan hanya mengatur cara berpakaian supaya nampak seperti guru, meski ini merupakan inisiatif yang baik, tapi juga pola pikir dan visi tentang keguruan. Penanaman visi keguruan ini bukan hanya tugas dosen mata kuliah keguruan, tapi harus terintegrasi pada semua mata kuliah.

Terakhir, saya teringat salah seorang mahasiswa pernah berujar seperti ini di kelas: “Pak, saya ingin menjadi guru, karena guru pekerjaan yang mulia, tidak kalah keren dari dokter. Kalau dokter malapraktik, korbannya hanya satu, si pasien itu, tapi kalau guru malapraktik, korbannya bisa satu generasi bangsa; hebatkan guru, Pak … ???!!!”

Wallahu’alam Bishowab

Disclaimer:

THIS BLOG claims no credit for any images posted on this site unless otherwise noted. Images on this blog are copyright to its respectful owners. If there is an image appearing on this blog that belongs to you and do not wish for it appear on this site, please E-mail with a link to said image and it will be promptly removed.

Sebagai mahasiswa program Doktor di Penn State University College of Education yang didanai melalui program beasiswa LPDP, tulisan pada Blog ini merupakan pendapat saya pribadi dan tidak mewakili Penn State University of College of Education maupun LPDP secara kelembagaan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: