Mang Usep Ngalalana

Home » Hirup-Hurip » Mitos Kuliah ke Luar Negeri lewat Beasiswa

Mitos Kuliah ke Luar Negeri lewat Beasiswa

Photo by aamu.eduMasih ingat dua tahun yang lalu, pada saat mengikuti seleksi beasiswa, yang Alhamdulilah saya berhasil memperolehnya sekarang, di ruang tunggu antrian untuk wawancara, saya berbincang dengan seorang pria peserta seleksi wawancara juga. Saya tanya beliau mau melanjutkan studi bidang apa? Kemana? Dengan meyakinkan beliau menjawab ingin melanjutkan studi S2 bidang TESOL ke Australia. Belum sempat saya bertanya apa alasannya, beliau langsung menjelaskan bahwa alasan utama memilih Australia karena disana mahasiswa bisa kerja sambil kuliah. Menurut beliau, kuliah ke luar negeri itu, khususnya Australia, adalah kesempatan bukan hanya untuk menambah ilmu dan wawasan, tapi juga “jalan pintas” untuk kaya. Beliau berujar bahwa dalam setahun kuliah di Australia, beliau harus bisa menabung setidaknya Rp. 1 M. Uangnya akan beliau pakai untuk modal usaha.

Ada begitu banyak mitos tentang kuliah ke luar negeri, khususnya lewat jalur beasiswa. Dan mitos terbesar yah itu seperti yang saya ceritakan di atas, bahwa mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri adalah jalan pintas untuk kaya raya. Tak sedikit orang, ketika mendengar saya akan kuliah ke luar negeri melalui beasiswa, berdecak kagum bukan karena kesempatan sekolahnya, melainkan karena kesempatan untuk jadi kaya. Kesannya, orang kuliah ke luar negeri pulangnya akan mampu beli mobil, beli rumah, tanah, dan sebagainya. Anggapan ini mungkin bersumber dari apa yang orang lihat tentang bagaimana para penerima beasiswa ke luar negeri nampak sangat “makmur“, bisa jalan-jalan ke tempat-tempat keren, dsb. Anggapan keliru lainnya adalah bahwa kuliah ke luar negeri itu bisa sambil kerja, mudah mendapatkan kerja hingga bisa nabung.

Photo by SAE InternationalMemang benar, mungkin ada orang yang dapat beasiswa ke luar negeri dan karena mungkin rejekinya, dia bisa memperoleh kesempatan mendapatkan pekerjaan hingga bisa jalan-jalan dan nabung untuk dibawa pulang uangnya. Well, it’s not always the case, not always true, tak bisa digeneralisir. Sejauh pengamatan saya terhadap rekan-rekan penerima beasiswa, dan juga dari pengalaman saya pribadi, uang yang dipakai untuk jalan-jalan itu biasanya hasil tabungan satu semester penuh atau bahkan satu tahun penuh, berjuang menghemat sehemat-hematnya, supaya bisa jalan-jalan pas liburan kuliah, bukan untuk dibawa pulang ke rumah membeli mobil, tanah, rumah, atau naik haji. Bela-belain puasa Senin-Kamis saking inginnya nabung supaya bisa jalan-jalan liburan. Atau bisa jadi memang dia secara financial memang mampu, jadi tanpa beasiswa pun sebenarnya mampu jalan-jalan kemana-mana.

Soal pekerjaan, baiklah, saya akan mempersempit konteksnya ke Amerika, karena dua kali beasiswa saya raih ke negara ini, saya kurang tahu bagaimana di negara lain. Betul bahwa mahasiswa diperbolehkan bekerja di kampus. Tapi, tak semudah yang anda kira, dan tak seperti yang anda bayangkan. Begini, ada ketentuan bahwa mahasiswa boleh kerja hanya di dalam kampus, biasanya di kantin dan perpustakaan atau membantu riset professsor. Itupun kerjanya maksimal hanya 20 jam/minggu, dengan gaji UMR setempat. Di Pennsyslvania, UMRnya $7,25/jam, jadi maksimal per bulan dapat sekitar $500an itupun dipotong pajak dan dibayarkananya tiap dua pekan. Gaji membantu riset professor lebih besar tapi tentu saja lebih kompetitif.

Photo by PSU Abington$500/bulan gede dong?! Baiklah, akan saya persempit lagi konteksnya ke Beasiswa, sekali lagi, kuliah ke luar negeri lewat beasiswa. Untuk memperoleh pekerjaan ini, mahasiswa harus apply working permit, ijin kerja; nah, kampus, ketika mereka tahu bahwa anda kuliah melalui beasiswa, mereka akan meminta anda melampirkan surat ijin boleh kerja sambil kuliah dari pemberi beasiswa anda. TIDAK semua pemberi beasiswa mengijinkan awardee-nya bekerja sambilan. Bahkan biasanya, si pemberi beasiswa ini malah yang paling berwenang menerbitkan ijin kerja, khususnya jika anda dibiayai oleh pemberi beasiswa yang berbasis di Amerika seperti Fulbright dan USAID. Beasiswa S2 saya dari USAID, dan mereka dengan tegas melarang penerima beasiswa memperoleh pekerjaan; sebenarnya mengijinkan sih hanya uang saku bulanan akan dipotong sejumlah gaji yang kita peroleh dari pekerjaan, yang artinya ngapain harus kerja juga.

Kan bisa kerja sembunyi-sembunyi? Jangan coba-coba, dan pekerjaan ini pun tetap susah didapat. Setahu saya, semua beasiswa ke Amerika Serikat, melarang awardee-nya memperoleh pekerjaan, meski di kampus sekalipun. Bagaimana dengan bekerja di luar kampus? Nah ini malah lebih ribet karena working permit-nya bukan hanya dari kampus, tapi juga dari pemerintah Amerika Serikat; ribet, mahal, dan lama prosesnya. Bahkan di Penn State, tempat saya kuliah, dengan tegas disebutkan bahwa working permit untuk bekerja di luar kampus hanya akan diberikan kepada mahasiswa yang dalam kondisi emergency secara keuangan.

Ketentuan imigrasi pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa mahasiswa internasional wajib mengambil minimal 9 SKS/semester. Saya kasih tahu ya, 9 SKS Pascasarjana di luar negeri itu cukup membuat mahasiswa gempor. Sangat padat dengan tugas baca dan nulis. Jadi jangan dikira segampang itu bisa kerja, apalagi kerja di luar kampus. Apalagi kalau kita ambil kuliah S2 yang hanya satu tahun dengan model trimester, kebayang padatnya seperti apa. Boro-boro mikir cari kerja.

Jadi, jika anda sedang dalam proses mencari beasiswa kuliah ke luar negeri, coba tanyakan lagi niat paling kuatnnya apa? Jika memang niatnya untuk cari uang, bisa nabung, supaya bisa dibawa pulang ke tanah air untuk beli mobil, rumah, tanah, atau naik haji, saya menyarankan sebaiknya pergi ke luar negeri sebagai TKI saja, bukan sebagai mahasiswa, apalagi lewat jalur beasiswa. Niatkan untuk mencari ilmu dan menambah wawasan, kalau tokh ada kesempatan untuk memperoleh rejeki dalam bentuk lain, uang dan pekerjaan misalnya, yah itu rejeki tambahan dari Tuhan. Tapi, don’t expect that too much. Ilmu dan jejaring baru yang kita peroleh selama menempuh pendidikan sudah cukup untuk dijadikan modal menambah rejeki setelah pendidikan selesai. Dan satu lagi, jika rekan anda sedang kuliah ke luar negeri, lewat beasiswa, jangan pernah beranggapan bahwa mereka akan pulang membawa penuh oleh-oleh untuk orang sekantor atau sekampus, atau menganggap pulang dia otomatis akan jadi orang kaya.

Nah kembali ke si orang yang saya ajak ngobrol di ruang tunggu seleksi beasiswa, yang saya ceritakan di atas, saya sempat mencatat namanya dan kemudian saya cek di pengumuman hasil seleksi, dan Alhamdulillah, namanya tidak ada disitu. Sayang sekarang sudah lupa lagi namanya.

Selamat berburu beasiswa!

Note: Catatan ini murni berdasarkan pengamatan dan pengalaman pribadi saya sebagai penerima beasiwa S2 dan S3 ke Amerika Serikat. Tidak bisa digeneralisir karena lain orang lain pengalaman, lain negara, lain sistem.

Disclaimer:

THIS BLOG claims no credit for any images posted on this site unless otherwise noted. Images on this blog are copyright to its respectful owners. If there is an image appearing on this blog that belongs to you and do not wish for it appear on this site, please E-mail with a link to said image and it will be promptly removed.

Sebagai mahasiswa program Doktor di Penn State University College of Education yang didanai melalui program beasiswa LPDP, tulisan pada Blog ini merupakan pendapat saya pribadi dan tidak mewakili Penn State University of College of Education maupun LPDP secara kelembagaan.

 

 

 

 

 

Advertisements

1 Comment

  1. sovisilviana says:

    Baru tau pak, ada alasan orang cari beasiswa tapi tujuannya kaya gitu. Sangat menggelitik, duh! 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: