Mang Usep Ngalalana

Home » Nyakola-Academia » Bisakah Kita Mengajarkan Apa yang Kita Tidak Ketahui?

Bisakah Kita Mengajarkan Apa yang Kita Tidak Ketahui?

Image by Shutterstock

Image by Shutterstock

Learning to teach should not be a process of “discovery learning” or “learning by doing”, but rather learning that intentional, deliberate, and goal directed by expert teacher educators who are skilled at moving teachers towards theoretically and pedagogically sound instructional practices and greater levels of professional expertise” (Johnson & Golombek, 2016).

Saya termasuk orang yang meyakini bahwa menjadi guru yang baik dapat dilakukan melalui proses “discovery learning” atau “learning by doing”; bahwa dengan semakin banyaknya pengalaman diraih, maka seiring berjalannya waktu, seseorang bisa menjadi guru yang handal. Keyakinan inilah yang memandu bagaimana saya mengajar mahasiswa saya di sebuah kampus keguruan.

Saya mengajar dua mata kuliah, Keterampilan Dasar Mengajar (KDM) dan Microteaching. Kedua mata kuliah ini berkaitan erat satu sama lain dimana mahasiswa belajar teori mengajar di KDM dan mempraktikannya di Microteaching; dan keduanya merupakan prasyarat yang harus dipenuhi mahasiswa untuk bisa mengikuti program praktik mengajar (PPL) di sekolah. Saya sering mengambil keputusan berdasarkan pemahaman saya akan kedua konsep tersebut. Saya meluluskan mahasiswa dan mengijinkannya mengikuti PPL padahal sebenarnya mahasiswa tersebut belum siap. Saya melakukan ini karena saya meyakini bahwa mahasiswa tersebut butuh praktik, bukan hanya teori. Dan saya berprasangka baik bahwa mahasiswa akan belajar menjadi guru by doing melalui berbagai discovery yang mereka lakukan selama PPL. Sehingga kemudian pengalaman praktik ini akan mempersiapkan mereka menjadi guru yang lebih baik.

Disini letak kekeliruan saya dalam memahami “discovery learning” dan “learning by doing”. Saya memahami konsep itu apa adanya, taken for granted, membiarkan mahasiswa menjalani sendiri proses belajar menjadi guru dengan harapan dia akan menemukan hal-hal baru untuk dipelajari dan seiring berjalannya waktu, pengalaman melalui proses “discovery” dan “learning by doing” itu akan menempa mereka menjadi guru yang handal.

IMG_0723Percakapan dengan Dr. Karen Johnson, salah seorang professor anggota komite disertasi saya dan membaca bukunya beliau, saya menemukan bahwa proses belajar menjadi guru itu seharusnya bukan sebuah “discovery learning” atau “learning by doing”. Sebagaimana kutipan bukunya beliau di atas bahwa belajar menjadi guru itu merupakan sebuah proses yang intentional, deliberate, and goal oriented, sebuah proses yang disengaja, diniatkan, dan memiliki tujuan yang pasti; serta untuk mencapainya, harus  directed by expert teacher educators who are skilled at moving teachers towards theoretically and pedagogically sound instructional practices and greater levels of professional expertise, dipandu oleh gurunya guru yang handal dan mampu memandu mahasiswa dalam menjembatani konsep-konsep teoretis yang dipelajari di kampus dengan realitas di lapangan di sekolah; sehingga kemudian mahasiswa calon guru tumbuh menjadi guru professional yang handal.

Belajar menjadi guru itu harus dipandu oleh gurunya guru, dosen di fakultas keguruan, yang handal, yang tidak hanya paham teori tapi juga mumpuni dalam praktik. Menurut teori sosiokultural-nya Vygotsky, manusia belajar melalui proses interaksi sosial; dan interaksi inilah yang kemdudian menjadi mediator antara apa yang dipelajari dengan realita yang ditemukan. Dalam proses belajar menjadi guru, Johnson mengingatkan bahwa mahasiswa memahami tiga konsep, yakni academic concept, teori yang dipelajari di kampus, kemudian everyday concept, yaitu konsep yang mahasiswa bawa dari hasil pengamatan dan pengalaman sehari-hari, misalnya pengalaman belajar di sekolah, dan practical concept yakni konsep yang mereka temukan ketika mereka praktik mengajar di lapangan. Melalui interaksi sosial, dosen menjadi mediator yang membimbing mahasiswa dalam memadukan ketiga konsep tersebut.

Peranan dosen sangat penting dalam memandu mahasiswa memadukan ketiga konsep tersebut. Karena guru yang handal adalah mereka yang mampu mengharmoniskan academic, everyday, dan practical concept dalam keseharian mereka. Artinya gurunya guru yang handal pun seharusnya memiliki kualitas seperti ini. Tentunya tidak bisa mengajar metode mengajar hanya dengan menunjukan video contoh mengajar, atau hanya dengan duduk dan berdiri diam di muka kelas sambil membaca Power Point. Melainkan harus menggunakan seluruh anggota tubuhnya untuk mencontohkan seperti apa mengajar yang baik itu. Kalau ingin mahasiswa tumbuh menjadi guru yang mampu mengajar dengan aktif, efektif, dan menyenangkan, maka ajarilah mereka dengan cara-cara seperti itu ketika di kampus.

Phoot by Cambridge.org

Phoot by Cambridge.org

Dosen adalah gurunya guru, seorang mediator yang memandu mahasiswa dalam perjalanan menuju satu tujuan yakni menjadi guru handal dan professional. Apapun mata kuliah yang dosen ajar, mereka seharusnya memiliki pengetahuan pedagogic pembelajaran yang memadai. Tidak bisa hanya karena mengajar mata kuliah non-pengajaran kemudian menjadikan itu alasan untuk tidak mendalami bidang pengajaran. Mau tidak mau, suka tidak suka, faktanya kita mengajar di fakultas keguruan, kita mengajar calon guru, kita mempersiapkan tenaga guru yang handal, maka sudah seharusnya kita, dosen gurunya guru, memiliki kemampuan mengajar yang handal pula.

Terkait dengan hal ini, sebuah penelitian yang dilakukan USAID tahun 2009 menemukan bahwa salah satu masalah besar dalam pendidikan keguruan di Indonesia adalah terlalu besarnya kesenjangan antara teori dan praktik, antara apa yang diajarkan di kampus dengan realitas di sekolah. Penelitian tersebut menyebutkan bahwa salah satu sumber penyebab kesenjangan tersebut adalah kualiatas dosen. Menurut penelitian tersebut, dosen di LPTK di Indonesia sangat handal dalam bidang keilmuan mereka, namun lemah dalam keterampilan pedagogic. Dosen Bahasa Inggris, misalnya, sangat hebat dalam penguasaan ilmu Bahasa Inggris-nya, namun sayangnya tidak mampu menjadi role-model yang baik tentang seperti apa mengajar yang baik itu. Menariknya, penelitian ini dilakukan di seluruh LPTK negeri di Indonesia yang sering dianggap memiliki fasilitas SDM dan daya dukung yang lebih memadai. Bagaimana dengan LPTK swasta? Padahal sekitar 80% LPTK di Indonesia adalah swasta.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa swasta bisa jadi lebih buruk, bukan itu yang saya tuju. Point utama saya adalah bahwa usaha untuk meningkatkan kualitas guru itu harus dimulai sejak dini, sejak di perguruan tinggi tempat calon guru dididik dan dipersiapkan. Artinya, usaha tersebut harus dimulai dengan meningkatkan kualitas pembelajaran di kampus. Sebenarnya kritik terhadap LPTK bahwa mereka tidak mampu mendidik guru siap pakai bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan di berbagai negara, termasuk negara-negara maju. Lalu bagaimana LPTK di negara-negara tersebut menyikapi kritik tersebut? Mereka merombak kurikulum dengan tujuan lebih mendekatkan kampus dengan sekolah.

Di Belanda, misalnya, mereka sudah menghapus university-based teacher education, dan menggantikannya dengan school-based teacher education dimana mahasiswa keguruan sudah tidak lagi belajar menjadi guru di kampus, melainkan sepenuhnya di sekolah. Materi ajar dan ujian disusun melalui kolaborasi antara dosen dengan guru. Tujuannya adalah untuk menyambungkan pengetahuan teoretis dosen dengan pengalaman praktis guru. Sehingga mahasiswa calon guru memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang siap pakai.

Photo by: news.psu.edu

Photo by: news.psu.edu

Sementara di Amerika Serikat, banyak kampus keguruan yang mulai menerapkan model pendidikan dokter dalam mendidik calon guru. Di fakultas kedokteran,  hanya dokter yang bisa mengajar calon dokter. Prinsip ini diterapkan di fakultas keguruan. Di Penn State, misalnya, melalui program PDS (Professional Development School), mahasiswa menjalankan praktik mengajar selama satu tahun ajaran penuh di sekolah; meniru model koas di pendidikan dokter. Menariknya, dosen pembimbing juga harus ikut mengajar. Di satu bulan pertama, dosen mengajar, memberikan contoh mengajar langsung di kelas di sekolah. Sementara guru pamong dan mahasiswa menjadi observer. Di bulan kedua PPL, gantian guru pamong yang mengajar sementara dosen dan mahasiswa jadi observer. Di bulan ketiga, guru pamong dan mahasiswa tandem mengajar di kelas dan dosen jadi observer. Mereka bertiga berkolaborasi merancang RPP, bahan ajar, dan evaluasi. Mereka terlibat dalam diskusi dan saling belajar membelajarkan satu sama lain. Baru di bulan keempat dan seterusnya mahasiswa diberi wewenang mengajar penuh. Ini yang disebut dengan gurunya guru berperan sebagai mediator dalam pembelajaran mahasiswa calon guru.

Tentu saja kita tidak harus meniru apadanya, photocopy, program yang negara-negara maju tersebut jalankan.  Karena memindahkan mesin Ferrari ke Avanza tidak akan serta merta menjadikan Avanza seperti Ferarri. Yang harus kita tiru adalah bagaimana para dosen, professor itu mau mendekatkan diri dengan guru di sekolah. Professional development bagi para dosen tersebut bukan hanya penelitian, publikasi jurnal, dan menjadi pemakalah di berbagai seminar nasional dan internasional. Tapi juga mereka mau turun ke bawah, ke sekolah, untuk belajar meningkatkan kemampuan. Bahwa sebenarnya, di sekolah pinggir kampus kita itu ada banyak ilmu untuk dipelajari.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun. Ini hanya refleksi diri saya sendiri, otokritik bagi diri sendiri, sebagai seorang dosen fakultas keguruan, gurunya para calon guru. Jujur saya harus mengakui bahwa ada banyak momen dimana ketika saya mengajar, dan ada mahasiswa mengajukan sebuah pertanyaan, khususnya pertanyaan terkait dengan praktik mengajar di kelas, saya masih kebingungan untuk memberikan jawaban. Momen inilah yang kemudian memunculkan satu pertanyaan di benak saya, can we teach what we don’t know? Bisakah kita mengajarkan sesuatu yang kita tidak ketahui? Tentu tidak. Saya teringat ucapan pimpinan saya, Dekan FKIP di tempat saya mengajar, pada suatu rapat beliau berkata, “mengajar itu pekerjaan yang menyiksa ketika kita tidak menguasai apa yang kita ajarkan.”

Wallahu’alam Bishowab

Rujukan

Johnson, K. E., & Golombek, P. R. (2016). Mindful L2 Teacher Eductaion: A Sociocultural Perspective on Cultivating Teachers’ Professional Development. ESL & Applied Linguistics Professional Series. New York and London: Routledge – Taylor & Francis Group

Evans, D., Tate, S., Navarro, R., & Nichols, M. (2009). Teacher Education and Professional Development in Indonesia: A Gap Analysis. Jakarta: USAID Indonesia

Disclaimer:

THIS BLOG claims no credit for any images posted on this site unless otherwise noted. Images on this blog are copyright to its respectful owners. If there is an image appearing on this blog that belongs to you and do not wish for it appear on this site, please E-mail with a link to said image and it will be promptly removed.

Sebagai mahasiswa program Doktor di Penn State University College of Education yang didanai melalui program beasiswa LPDP, tulisan pada Blog ini merupakan pendapat saya pribadi dan tidak mewakili Penn State University of College of Education maupun LPDP secara kelembagaan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: