Mang Usep Ngalalana

Home » Nyakola-Academia » Teacher Educator Series: Supervisi dalam Konteks Pendidikan Calon Guru

Teacher Educator Series: Supervisi dalam Konteks Pendidikan Calon Guru

IMG_0723Jika mahasiswa calon guru ditanya apa pengalaman paling berkesan selama kuliah di fakultas keguruan? Selain pengalaman terkait dengan relasi sosial mereka di kampus, mereka kemungkinan akan menjawab PPL, atau praktik mengajar di sekolah. Hal ini karena PPL merupakan salah satu tahapan paling penting dalam proses pendidikan calon guru di LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) – istilah umum yang biasa digunakan untuk menyebut lembaga pendidikan yang mempersiapkan tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan seperti Fakultas Keguruan, Institut Keguruan, STKIP, atau Universitas negeri keguruan seperti UPI, UNJ, dan yang lainnya.

Kenapa PPL menjadi tahapan paling penting dalam pendidikan calon guru? Berbagai penilitian mengungkapkan bahwa PPL memberikan dampak yang sangat besar terhadap bagaimana mahasiswa calon guru memandang profesi guru. Pandangan mahasiswa calon guru terhadap profesi guru bisa berubah drastis setelah menjalankan PPL. Ada mahasiswa yang keinginanya menjadi guru semakin kuat setelah PPL; tapi ada juga mahasiswa yang sebaliknya, dari tadinya ingin menjadi guru berubah menjadi tidak ingin menjadi guru. Baik buruknya persepsi ini sangat dipengaruhi bagaimana pengalaman PPL yang mahasiswa jalani.

Salah satu masalah terbesar dalam pendidikan calon guru adalah terlalu besarnya kesenjangan antara teori yang diajarkan di kampus dengan realitas yang ada di ruang-ruang kelas di sekolah. Saya akan membahas masalah kesenjangan ini pada artikel lain. Yang ingin saya bahas pada artikel ini adalah salah satu cara yang bisa digunakan untuk menutupi kesenjangan tersebut, yakni kegiatan supervisi dalam PPL.

Picture by rryshke.wordpress.com

Picture by rryshke.wordpress.com

Dengan menggunakan triad partnership framework, segitiga kerjasama antara mahasiswa praktikan, guru pamong, dan dosen pembimbing, kegiatan PPL ini bisa menjadi professional development opportunity yang sangat hebat bagi semua pihak yang terlibat, ini idealnya. Bagi mahasiswa, jelas, dalam PPL ada supervisi, sesuai namanya, super dan visi, artinya mahasiswa akan memperoleh dua pasang mata super yang akan membantu mereka melihat keluar, ke proses pembelajaran yang mereka jalankan, dan ke dalam untuk melakukan refleksi.

Guru bisa belajar hal-hal baru dari mahasiswa PPL dan dosen. Kalau ditanya seperti apa guru yang ideal itu? Berdasarkan pengalaman saya, maka saya akan menjawab mahasiswa yang sedang PPL adalah gambaran guru yang mendekati ideal. Kenapa? Mereka selalu punya hal baru untuk disajikan di kelas. Ketika masuk kelas, bawaanya banya, gambar, alat peraga, materi ajar, video, dan sebagaianya. Mereka begadang semalam sebelumnya untuk menyusun kegiatan pembelajaran yang menarik. Mahasiswa PPL itu masih penuh dengan idealisme dan semangat untuk belajar dan berinovasi.

Bagi dosen, jelas, supervisi selama PPL merupakan kesempatan istimewa untuk melihat dunia nyata pendidikan seperti apa. Mungkin selama ini dosen hanya tertarik membaca buku dan jurnal, melakukan penelitian yang kadang lingkupnya berada di luar sekolah, sibuk kesana kemari menghadiri seminar nasional dan internasional, sibuk membangun jejaring ditingkat regional bahkan global, tapi lupa untuk beraksi ditingkat lokal. Realita dunia nyata pendidikan ini kemudian dibawa kembali ke kampus dan dijadikan landasan penyusunan rencana perkuliahan. Harapannya, kesenjangan antara apa yang dosen ajarkan di kampus dengan realita di lapangan semakin menyempit.

Burns (2012) menyusun sebuah framework supervisi yang bisa digunakan dalam konteks pendidikan calon guru. Framework ini merupakan pengembangan framework sebelumnya yang disusun oleh Glickman, dkk. Nampak pada gambar berikut, bagian yang berwarna merah adalah pengembangan yang Burns lakukan agar framework Glickman sesuai dengan lingkup pendidikan calon guru.

Framework Supervisi Model Burns
Nampak pada gambar di atas bahwa supervisi itu ditopang oleh lima komponen yakni karakteristik personal, fungsi dan beliefs-in-action, tasks, unifikasi tujuan, dan tujuan akhir. Untuk menjadi supervisor yang efektif jelas membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang memadai pada bidangnya, dalam hal ini bidang pengajaran dan pembelajaran sesuai mata pelajaran yang diampu. Hal ini seharusnya menjadi pendorong supervisor, khsuusnya dosen, untuk selalu belajar. Tidak bisa hanya karena latar belakang keilmuannya berbeda kemudian tidak mau mempelajari bidang keilmuan keguruan. Tidak bisa berkata, “latar belakang saya mah linguistik, “saya mah sastra”, “saya mah matematika murni” atau excuses lainnya sehingga menolak untuk mempelajari bidang keilmuan keguruan. Seperti halnya mahasiswa yang mungkin sebagian besar motivasi mereka masuk keguruan bukan karena ingin jadi guru, tapi karena tak ada pilihan lain, namun karena sudah ada di FKIP, mau tidak mau mereka harus mempelajari ilmu keguruan. Dosen juga sama, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, kalau mengajar di FKIP yah harus belajar ilmu keguruan, apapun latar belakang keilmuan anda.

Keterampilan interpersonal juga tak kalah penting. Terkait hal ini, power relation dan norma sosial masyarakat kita mempengaruhi bagaimana hubungan interpersonal dalam PPL. Idealnya, hubungan segitiga antara dosen, guru pamong, dan mahasiswa itu equal, karena sama-sama saling membutuhkan. Tapi, dalam kenyatannya sering hubungan terebut berubah menjadi hierarchical dimana dosen ada di puncak hirarki, guru ditengah, dan mahasiswa paling bawah. Dalam norma sosial kita, dosen selalu dianggap “lebih berpengetahuan” dibanding guru, makanya yang menjadi instruktur kegiatan Diklat itu dosen, padahal belum tentu seperti itu. Kalau disuruh lomba mengajar, belum tentu dosen lebih baik dari guru. Nah mahasiswa berada pada posisi paling bawah sebagai pihak yang dianggap ilmunya kurang, apalagi pengalamannya.

Hubungan hirarkis inilah yang memunculkan “enggan dan sungkan” dan “Enggan dan sungkan” ini bisa menjadi penghambat pembelajaran bagi ketiganya. Enggan dan sungkan untuk menerima masukan, mengakui kekurangan, menerima kritik, dan sebagainya. Padahal, idelanya ketiganya berperan sebagai critical friends yang saling melengkapi dan membelajarkan satu sama lain. Hubungan hirarkis ini dipengaruhi oleh beliefs, yakni landasan pilosofis bagaimana ketiga orang ini – dosen, guru pamong, dan mahasiswa, memandang siapa dirinya dan apa peranannya dalam hubungan itu? Serta seperti apa pembelajaran yang baik itu?

Kegiatan supervisi akan menjadi efektif sebagai media untuk saling belajar ketika semua orang yang terlibat memiliki beliefs, keyakinan, pandangan, bahwa kegiatan tersebut merupakan kesempatan untuk belajar, atau proses professional development. Jika pandangan seperti ini ada pada diri masing-masing pihak yang terlibat, maka kegiatan supervisi bisa berperan sebagai media untuk memberikan direct assistance, yakni saling memberikan feedback atas kinerja masing-masing. Feedback yang dimaksud jelas bukan dalam bentuk dictatorial feedback.

Sumber: rryshke.wordpress.com1

Sumber: rryshke.wordpress.com

Refleksi bagi diri saya sendiri ketika melakukan supervisi, kesalahan terbesar saya ketika mensupervisi mahasiswa PPL adalah ketika saya akan masuk kelas, niat saya adalah mencari kesalahan, apa yang salah dalam pembelajaran yang mahasiswa jalankan. Karena niatnya mencari kesalahan, maka tujuan supervisi tidak lain hanya untuk memperbaiki kesalahan. Kalau tujuannya memperbaiki, maka ujung-ujungnya adalah saya menyuruh-nyuruh mahasiswa, “kamu jangan begini”, “kamu seharusnya begini”, dan sebagainya. Tidak ada bedanya antara kegiatan supervisi dengan mandor bangunan. Padahal, seharunya ketika akan mensupervisi, saya tanya mahasiswanya, “Di kelas kamu ada masalah apa?, saya ingin kamu memperhatikan aspek apa di kelas?” dan sebagainya, biarkan mahasiswa menentukan dia butuh bantuan supervisi pada hal apa? Kemudian susunlah instrumen yang sekiranya mampu menangkap apa yang mahasiswa butuhkan. Setelah supervisi selesai, sajikan data hasil supervisi ke mahasiswa dan biarkan dia berefleksi atas data itu dan bantu brainstorming mencari solusinya. Hanya dengan cara ini pembelajaran terjadi.

Jika dilakukan dengan baik, kegiatan supervisi selama PPL bisa menjadi entry point terjadinya kemitraan yang lebih baik antara kampus dengan sekolah. Manfaat kemitraan tersebut banyak seperti community development untuk kedua belah pihak, peningkatan kualitas kurikulum, peningkatan kualitas kegiatan belajar mengajar, memfasilitasi kerjasama riset, dan sebagainya. Dan ultimate goal nya adalah peningkatan kualitas kerja organisasi yang menopang peningkatan hasil belajar di kedua belah pihak.

Wallahu’alam

Rujukan

Burns, R.W. (2012). Conceptualizing supervision in the professional development school context: A case analysis. Pennsylvania State University, College of Education, Dissertation.

 

Disclaimer:

THIS BLOG claims no credit for any images posted on this site unless otherwise noted. Images on this blog are copyright to its respectful owners. If there is an image appearing on this blog that belongs to you and do not wish for it appear on this site, please E-mail with a link to said image and it will be promptly removed.

Sebagai mahasiswa program Doktor di Penn State University College of Education yang didanai melalui program beasiswa LPDP, tulisan pada Blog ini merupakan pendapat saya pribadi dan tidak mewakili Penn State University of College of Education maupun LPDP secara kelembagaan.

Advertisements

1 Comment

  1. Suzana Rahman says:

    Keerrreeen Pa Usep, merasa dibekali niiihuntuk bimbingan baik perdana maupun pada saat supervisi, haturnuhuuun. Hanupis

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: