Mang Usep Ngalalana

Home » Nyakola-Academia » Penelitian Guru: Untuk Pembuktian atau Untuk Pemahaman?

Penelitian Guru: Untuk Pembuktian atau Untuk Pemahaman?

Photo by the SURE Network

Photo by the SURE Network

Sederhananya, penelitian guru adalah inkuisi sistemati dan intensional yang dilakukan oleh guru. Teacher Research merupakan istilah umum, Umbrella term, yang menaungi berbagai macam penelitian yang dilakukan oleh guru. Istilah lain yang juga popular adalah Action research, yakni riset komparatif atas berbagai kondisi dan dampak dari beragam tindakan sosial, dan riset yang diarahkan kepada tindakan sosial. Apapun itu namanya, penelitian guru merupakan salah satu bentuk professional development dengan harapan adanya peningkatan kualitas mengajar guru yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas proses belajar siswa. Terus dalam praktiknya, tujuan penelitian itu apa? Apakah untuk membuktikan kehebatan sebuah strategi, metode, atau bahan ajar dalam meningkatkan prestasi siswa (Prestasi = nilai), atau untuk memahami misteri dan dinamika yang terjadi dalam proses pembelajaran sehingga guru semakin mamahami konteks pembelajaran yang dijalankan?

Selama puluhan tahun, belajar dan pembelajaran yang dilakukan guru telah menjadi topik penelitian yang menarik dikalangan para ilmuwan. Dalam perkembangannya, ada dua paradigma yang mendominasi penelitian bidang pendidikan, khususnya pembelajaran. Paradigma yang pertama disebut dengan process product research, yakni penelitian yang bertujuan untuk mengeksplorasi efektititas kegiatan pembelajaran tertentu dengan cara menghubungkan perilaku guru atau proses mengajar guru dengan perilaku siswa sebagai hasil belajar.

Paradigma ini memandang kegiatan pembelajaran sebagai sebuah proses cause and effect dimana perilaku guru dianggap sebagai penyebab munculnya perilaku siswa. Strategi mengajar yang guru terapkan akan berdampak pada prestasi belajar siswa. Jadi, paradigma ini lebih menekankan pada tindakan guru, bukan bagaimana guru memahami proses pembelajaran. Teaching yang guru jalankan menjadi perhatian utama dibanding learning yang siswa lakukan.

Dalam praktiknya, penelitian guru yang merujuk pada paradigma ini tidak dilakukan oleh guru, melainkan oleh peneliti yang berasal dari luar lingkup sekolah, biasanya dosen dari kampus. Meskipun dosen dan guru bekerjasama, dalam praktiknya, dosenlah yang lebih dominan karena dosen yang menentukan segala sesuatunya terkait dengan riset tersebut. Sementara guru hanyalah mitra kerja yang tugasnya hanya menjalankan apa yang sudah didisain oleh dosen. Karean tujuannya untuk pembuktian, metode penelitian yang umum digunakan adalah experimental quantitative.

Picture by: cambridge.org

Picture by: cambridge.org

Paradigma ini menganggap guru adalah bagian dari objek yang harus diteliti. Karena guru objek, maka peranan guru tidak lebih dari sekedar teknisi yang tugasnya hanya menerapkan apa yang peneliti tetapkan. Guru dipandang sebagai praktisi murni yang tak memiliki kapasitas untuk menjadi knowledge generator. Temuan dari penelitian ini adalah pengetahuan baru berupa bukti akan efektifitas tindakan tertentu tentang praktik pembelajaran dan tugas guru adalah menerima dan menerapkan hasil temuan tersebut.

Karena metode penelitian ini experimental quantitative dengan tujuan menguji hipotesa dan didesain dengan pemilihan sampel yang sangat seksama, dengan tujuan agar sampel yang digunakan mampu mewakili populasi, maka peneliti sering mengkalim bahwa hasil temuannya bisa digeneralisir, yakni bisa diterapkan pada lingkup yang berbeda. Jika hasil penelitian menunjukan bahwa strategi belajar A mampu meningkatan kemampuan siswa di kelas B, maka strategi itupun dianggap akan menghasilkan efetifitas yang sama ketika diterapkan di kelas C, D, dan yang lainnya.

Paradigma penelitian pendidikan yang kedua berakar pada bidang antropologi, sosiologi, dan linguistik dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan interpretif. Makanya penelitian ini sering disebut dengan penelitian kualitatif; ada juga yang menyebutnya dengan penelitian interpretif atau classroom ecology. Berbeda dengan paradigma pertama yang menganggap kegiatan belajar mengajar itu sebuah proses linear, maka paradigma ini berpadangan bahwa kegiatan belajar mengajar itu sangat kompleks, kontekstual, variatif dimana kelas yang satu berbeda dengan kelas yang lain, sekolah yang satu berbeda dengan sekolah yang lain. Setiap konteks dipandang memiliki keunikan masing-masing, sehingga tidak bisa diperlakukan dengan satu tindakan yang sama.

Tujuan penelitian pada pardigma ini bukan untuk membuktikan efektifitas sebuah tindakan, melainkan untuk memahami dinamika yang terjadi selama proses pembelajaran. Karena tujuannya memahami, maka data yang dikumpulkan lebih banyak dan beragam. Data tersebut bisa berupa catatan jurnal guru, observasi perilaku siswa, catatan harian siswa, dan sebagainya. Data-data tersebut kemudian dikumpulkan untuk dianalisa dan diinterpretasikan, makanya penelitian ini disebut juga interpretive studies.

Phoot by Cambridge.org

Phoot by Cambridge.org

Sama halnya dengan paradigma pertama, peneliti yang melakukan penelitian ini adalah mereka yang berasal dari lingkup non-sekolah dan bekerjasama dengan guru. Yang membedakan, disini peranan guru sama besarnya dengan peranan peneliti. Karena tujuan penelitiannya adalah untuk memahami dinamika yang terjadi dalam proses pembelajaran, maka perumusan masalah penelitian akan merujuk pada dinamika actual yang terjadi di kelas. Dan pihak yang paling paham akan dinamika ini adalah guru. Maka, peranan guru dalam proses penelitian ini sangat besar. Guru aktif terlibat dalam perumusan masalah, penyusunan desain penelitian, pengumpulan data, dan interpretasinya. Sedangkan pada paradigma pertama, perumusan masalah dilakukan oleh peneliti dengan merujuk pada hasil literature review. Sehingga menurut paradigma ini, guru bukan hanya knowledge recipients, tapi juga knowledge generator.

Temuan penelitian ini tidak bisa digeneralisir sebagaimana penelitian pada paradigma pertama. Menurut penelitian ini, realitas itu terbentuk melalui proses interaksi sosial yang unik di masing-masing konteks. Tidak ada satu realitas tunggal. Sehingga, apa yang berlaku pada satu konteks belum tentu berlaku pada konteks yang lain.

Demikian sedikit tentang dua paradigma riset dalam bidang pembelajaran. Semoga bermanfaat!

Wallahu’alam.

 

Disclaimer:

THIS BLOG claims no credit for any images posted on this site unless otherwise noted. Images on this blog are copyright to its respectful owners. If there is an image appearing on this blog that belongs to you and do not wish for it appear on this site, please E-mail with a link to said image and it will be promptly removed.

Sebagai mahasiswa program Doktor di Penn State University College of Education yang didanai melalui program beasiswa LPDP, tulisan pada Blog ini merupakan pendapat saya pribadi dan tidak mewakili Penn State University of College of Education maupun LPDP secara kelembagaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: