Mang Usep Ngalalana

Home » Ngalalana-Adventures » NAPDS Conference 2016: Ketika Dosen, Guru, dan Mahasiswa Saling Membelajarkan

NAPDS Conference 2016: Ketika Dosen, Guru, dan Mahasiswa Saling Membelajarkan

NAPDS Logo Photo Credit by NAPDS

NAPDS Logo
Photo Credit by NAPDS

Tanggal 4-6 Maret 2016 kemarin, saya menjadi salah seorang anggota delegasi Penn State University, College of Education, menghadiri the National Conference of National Association for Professional Development School (NAPDS) yang diselenggarakan di Doubletree Hotel, Washington, DC. Dosen wali saya mewanti-wanti agar saya menghadiri konferensi ini karena topik yang dibahas sesuai dengan minat riset saya dalam bidang pendidikan guru. Bagi saya, konferensi ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk menyimak trends dalam bidang kemitraan universitas keguruan dengan sekolah dalam mendidik guru masa depan (Preservice teachers) maupun pengembangan profesi guru dalam jabatan (In-service teachers). Selain itu, setelah kurang lebih delapan bulan saya mengendap di kota kecil State College, akhirnya, saya bisa juga sedikit escape from daily routine di kampus. Di tulisan ini saya akan sedikit berbagi oleh-oleh yang saya peroleh dari konferensi tersebut.

Kesan pertama berada di konferensi tersebut, saya merasa tersanjung dengan bagaimana peserta konferensi menaruh hormat yang luar biasa kepada kami delegasi dari Penn State. Sesuatu yang wajar mengingat program Professional Development School (PDS) yang Penn State kelola bekerjasama dengan State College Area School District (Dinas Pendidikan kota State College) merupakan salah satu program PDS tertua dan paling berhasil. Hal ini dibuktikan dengan berbagai penghargaan baik ditingkat lokal negara bagian Pennsylvania maupun ditingkat nasional Amerika Serikat. Professor-professor dari Penn State memiliki reputasi yang sangat baik dan dikenal dikalangan penggiat pendidikan guru di Amerika Serikat. Pada konferensi tahun ini, Jim Nolan, yang baru saja pensiun dari Penn State, memperoleh kehormatan untuk menjadi Keynote Speaker. Saya memperoleh beberapa kesempatan berbincang dengan beliau di kampus membahas tentang pendidikan guru. Delegasi dari Penn State berjumlah sekitar tigapuluh orang yang terdiri dari Profesor, Guru, mahasiswa program S1 yang sedang menjalani praktik mengajar, dan mahasiswa program Doktor, termasuk saya.

Sedikit perkenalan terhadap the National Association for Professional Development School (NAPDS), organisasi ini menaungi semua program Professional Development School (PDS) yang dikelola oleh kampus-kampus di Amerika Serikat. Singkatnya, PDS adalah model pendidikan guru yang mengadopsi model pendidikan dokter. Saya tidak akan mengulas secara detil tentang PDS disini. Silahkan kunjungi website the National Association for Professional Development School (NAPDS) untuk mempelajarinya lebih jauh. Sedangkan untuk contoh PDS, silahkan baca postingan saya sebelumnya pada tautan berikut tentang Professional Development School (PDS) di Penn State.

Ada dua jenis sesi presentasi pada konferensi ini, yakni Concurrent session, dimana pemakalah menyampaikan materi dalam bentuk presentasi umum, dan sesi Round table discussion dimana pemakalah menyampaikan materi dalam bentuk diskusi pada sebuah meja bundar dengan kapasitas maksimal tujuh orang. Yang menarik bagi saya adalah semua presentasi disampaikan secara keroyokan oleh empat sampai enam orang. Tiap kelompok penyaji materi tersebut terdiri dari seorang profesor, mahasiswa program doktor, mahasiswa program S1, dan guru di sekolah tempat mahasiswa praktik mengajar; sekolah yang menjadi mitra kampus dalam penyelenggaraan pendidikan guru.

Yang mereka sampaikan dalam penyajian materi tersebut adalah berbagai program kegiatan kemitraan yang mereka lakukan. Yang paling umum adalah presentasi yang dilakukan oleh sebuah satu tim yang terdiri dari Profesor dosen pembimbing praktik, mahasiswa S1 yang sedang praktik mengajar, dan guru pamong mahasiswa tersebut. Mereka menyajikan penelitian yang lazim disebut dengan Teacher Inquiry yang mereka jalankan. Selain itu, ada banyak juga penyaji materi yang melaporkan Silabus dan Rencana Program Perkuliahan yang disusun bersama-sama oleh Profesor, guru, dan mahasiswa.

Intinya, konferensi ini memfasilitasi para profesor, guru, dan mahasiswa untuk saling berbagi cerita program kemitraan yang mereka jalankan dalam mendidik dan meningkatkan kualitas guru. Tema umum yang mengemuka selama konferensi adalah bagaimana mempersiapkan para calon guru dan meningkatkan kualitas guru dalam jabatan melalui kemitraan antara dosen di kampus dengan guru di sekolah.

Meski berstatus konferensi nasional, namun ada juga pemakalah yang berasal dari negara lain, khususnya negara yang memiliki program PDS dalam pendidikan guru. Saya menghadiri salah satu sesi presentasi tentang PDS di Belanda yang disampaikan oleh dua orang profesor dari sebuah universitas disana. Menurut mereka, Belanda kini menggunakan pendekatan berbeda dalam mendidik para calon guru sekaligus meningkatkan kualitas guru dalam jabatan. Sebelumnya, Belanda fokus pada pendidikan guru berbasis kampus – University-based Teacher Education Program, dimana kampus memegang peranan lebih banyak dalam mendidik dan mempersiapkan calon guru. Akan tetapi, pendekatan ini mendapat kritik yang tajam, utamaya dari guru di sekolah yang menilai bahwa program pendidikan guru di kampus belum mampu merespon kebutuhan di lapangan di sekolah. Menurut para guru, keterampilan yang dosen ajarkan di kampus tidak sesuai dengan realitas yang mahasiswa hadapi di sekolah. Ada kesenjangan besar antara teori dan praktik. Untuk itu, Belanda kemudian beralih ke pendekatan School-based Teacher Education, pendidikan guru berbasis sekolah dimana dosen dan guru bekerjasama dalam mendidik para calon guru.

Professional Development School (PDS) adalah pendekatan pendidikan guru berbasis sekolah. Melalui pendekatan ini, dosen di kampus duduk bersama dengan guru dari sekolah untuk menyusun dan merumuskan program pembelajaran untuk para calon guru. Mereka juga menyusun dan memberikan penilaian atas tugas-tugas yang mahasiswa calon guru kerjakan. Selain itu, ciri lain dari PDS adalah mahasiswa calon guru memperoleh kesempatan mengenal lingkungan sekolah dalam periode yang lebih lama.

Di Belanda, misalnya, sejak semester satu, mahasiswa keguruan harus berada di sekolah selama minimal satu hari dalam seminggu. Mereka tidak menjalankan tugas mengajar karena memang belum siap mengajar. Yang mereka lakukan adalah mengamati dan membantu guru dalam mempersiapkan dan menjalankan proses pembelajaran. Tujuannya adalah untuk memberikan eksposure lebih dini kepada mahasiswa calon guru tentang seperti apa lingkungan kelas di sekolah. Meningkat ke semester berikutnya maka jumlah hari berada di sekolah pun bertambah. Di Penn State, mahasiswa sejak tahun kedua harus sudah berada di sekolah. Dua hari dalam seminggu mereka berada di sekolah. Dan puncaknya, di tahun keempat perkuliahan, mahasiswa harus menjalankan tugas mengajar selama satu tahun penuh.

Melalui PDS, yang belajar bukan hanya mahasiswa calon guru, akan tetapi dosen pembimbing dan juga guru pamong. Sehingga PDS memfasilitasi terbentuknya komunitas pembelajar yang saling mendukung dalam peningkatan profesionalitas semua orang yang terlibat didalamnya.

Sinergi dan kemitraan inilah yang belum terbentuk dalam pendidikan guru di Indonesia. Dosen di kampus keguruan dan guru di sekolah masih berjalan masing-masing. Sehingga, terdapat kesenjangan yang luar biasa antara teori yang diajarkan di kampus dengan realitas yang ada di sekolah. Mungkinkah model PDS ini diterapkan di Indonesia?

Disclaimer:

THIS BLOG claims no credit for any images posted on this site unless otherwise noted. Images on this blog are copyright to its respectful owners. If there is an image appearing on this blog that belongs to you and do not wish for it appear on this site, please E-mail with a link to said image and it will be promptly removed.

Sebagai mahasiswa program Doktor di Penn State University College of Education yang didanai melalui program beasiswa LPDP, tulisan pada Blog ini merupakan pendapat saya pribadi dan tidak mewakili Penn State University of College of Education maupun LPDP secara kelembagaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: