Mang Usep Ngalalana

Home » Nyakola-Academia » Dampingi Guru untuk Saling Berbagi dan Belajar

Dampingi Guru untuk Saling Berbagi dan Belajar

IMG_0723Sebuah ungkapan disampaikan oleh Robert Meehan, seorang pendidik dan sastrawan Amerika Serikat, berbunyi seperti ini, “Life as a teacher begins the day you realize that you are always a learner.” Menjadi guru sejatinya menjadi pembelajar seumur hidup. Guru memiliki kewajiban untuk mampu menyeimbangkan antara learning to teach and teaching to learn. Mengajar sejatinya adalah sebuah proses belajar. Ada banyak cara yang bisa dilakukan guru untuk selalu belajar. Bisa belajar melalui jalur formal, misalnya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi; atau bisa juga belajar melalui jalur informal seperti mengikuti program pengembangan profesi dalam bentuk pelatihan, seminar, workshop, mentoring, dan sejenisnya. Ada satu cara belajar yang mudah, murah, tapi butuh keberanian, yakni belajar dari pengalaman, baik pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain. Saya bilang murah dan mudah karena sumber dan bahan ajarnya tersedia pada diri sendiri dan rekan kerja; akan tetapi, belajar pada diri sendiri dan rekan kerja jelas membutuhkan keberanian, yakni berani mengakui kekurangan dan kelebihan sendiri dan kelebihan orang lain serta berani untuk mau belajar dari kelebihan mereka. Kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman ketika saya mendampingi Profesor saya di Penn State menjadi pendamping kegiatan Professional Development untuk guru-guru Bahasa Inggris SMP dan SMA di State College Area School District.

Secara rutin dua kali sebulan sekelompok guru Bahasa Inggris SMP dan SMA di State College School District berkumpul untuk saling berbagi program pembelajaran yang mereka lakukan. Kegiatan ini biasanya didampingi oleh dua orang penilik pelajaran Bahasa Inggris dan seorang Profesor dari Penn State. Saya hadir dalam kegiatan tersebut sebagai pengamat atas ajakan Profesor itu.

Kegiatan dilaksanakan di Panorama Village Elementary. Sesuai jadwal, kegiatan dimulai pukul 8.30 pagi, dan semua guru sudah berkumpul sejak pukul 8.00. Ada tigabelas orang guru yang hadir pada kegiatan ini. Salah satu model pelatihan guru yang digunakan disini adalah menyuruh guru untuk melaporkan kegiatan pembelajaran yang mereka lakukan dalam bentuk video dokumenter singkat berdurasi maksimal lima menit. Dengan suasana yang sangat santai dan akrab, tidak ada acara sambutan kepala sekolah atau pejabat lainnya, layaknya di Indonesia, masing-masing guru menampilkan video dokumenter kegiatan belajar mereka.

Ada satu kesamaan yang saya temukan dari semua program pembelajaran guru-guru Bahasa Inggris disini yakni semuanya menekankan pada kegiatan membaca. Bagi mereka, membaca adalah ruh kegiatan pembelajaran karena dengan membaca, siswa dibiasakan untuk mengkritisi sumber bacaan yang mereka baca. Misalnya, ada guru yang mengajar Creative Writing dengan cara menyuruh siswa membaca sebuah cerita horor, dan kemudian siswa menulis lanjutan cerita horor tersebut sesuai dengan imajinasi mereka. Ada guru yang menugaskan siswanya membaca novel the Alchemist kemudian menganalisa bagaimana empati dimunculkan dalam cerita tersebut. Kemudian ada guru yang membahas tentang isu pertukaran dan pemahaman budaya melalui bacaan novel Persepolis; dan sebagainya.

Setiap satu video selesai diputar, pengawas membagikan secarik kertas kepada semua yang hadir dan meminta untuk menuliskan komentar, kritik, pertanyaan, atau saran kepada guru yang videonya diputar. Untuk menjamin tidak ada Baper, hadirin dilarang menuliskan namanya pada kertas komentar tersebut.

IMG_0710

Guru menyimak tayangan video dokumenter kegiatan pembelajaran rekan mereka

Setelah semua guru menayangkan video masing-masing, maka tahap selanjutnya adalah diskusi yang dipandu oleh Profesor. Profesor meminta para guru menyampaikan bagaimana mendapat mereka tentang project inquiry membuat video dokumenter tentang pembelajaran mereka. Para guru merespon bahwa mereka kini memiliki keahlian baru, yakni membuat video dan video editing. Selain itu, merekam kegiatan pembelajaran sendiri bisa menjadi alat untuk melakukan refleksi atas kegiatan pembelajaran sendiri.

Yang menarik bagi saya bukan bagaimana para guru membuat video kemudian berbagi dan saling mengomentari. Model seperti ini sudah banyak diterapkan di Indonesia; meski tidak sepenuhnya mirip. Yang menarik bagi saya adalah bagaimana program pengembangan profesi guru dilakukan dengan memperhatikan kontekstualitas dan kontinuitas dengan menumbuhkan komunitas belajar. Model pelatihan guru seperti ini sangat kontekstual karena yang dibahas adalah masalah keseharian yang guru hadapi di sekolah. Sehingga, solusi dan masukan yang diperoleh melalui diskusi dengan rekan sejawat, pengawas, dan profesor fasilitator dari kampus nyambung dengan kebutuhan guru.

Model pelatihan ini juga dilandaskan pada prinsip kontinuitas, yakni program pengembangan profesi dilakukan secara rutin dan berkala. Pelatihan guru itu bukan sebuah event atau kegiatan, melainkan sebuah proses. Agar para guru mau berubah dan meningkatkan kualitas mereka, maka harus dilakukan program pelatihan yang berkesinambungan dan didampingi. Siapa pendampingnya? Ya penagwas dan dosen dari kampus. Karena saking seringnya para guru bertemu, berbagi pengalaman mengajar, dan berdiskusi saling memberikan masukan, maka kemudian terbentuklah sebuah komunitas pembelajaran.

Tiga hal ini, kontekstualitas, kontinuitas, dan komunitas pembelajaran, yang tidak terwujud dalam pendidikan guru di Indonesia. Pelatihan guru lebih sering dilakukan dengan pola tradisional, yakni Diklat atau workshop, sehari atau seminggu penuh. Guru disuruh untuk menyimak paparan materi dari fasilitator. Apakah materinya nyambung dan sesuai dengan kebutuhan guru atau tidak, itu tidak menjadi masalah. Dan setelah Diklat selesai, maka guru kemudian diminta untuk kembali ke sekolah untuk menerapkan hasil Diklat tersebut.

Gambaran umum pelatihan guru di Indonesia. Guru menyimak paparan pemateri dalam bentuk Diklat. Setelah Diklat selesai, maka selesai pula proses belajar. Gambar: Fak. Peternakan Unpad

Gambaran umum pelatihan guru di Indonesia. Guru menyimak paparan pemateri dalam bentuk Diklat. Setelah Diklat selesai, maka selesai pula proses belajar.
Gambar: Fak. Peternakan Unpad

Sesampainya di sekolah masing-masing, guru kebingungan untuk menerapkan materi tersebut. Entah itu karena mereka paham materinya namun bingung tak memiliki sistem pendukung memadai untuk menerapkannya, atau karena mereka tidak paham dan tidak tertarik dengan materi yang disampiakn selama Diklat. Sehingga, ketika Diklat selesai, maka selesai pula lah kegiatan belajar.

Seharusnya, sebelum dilaksanakan Diklat, dilakukan dulu needs analysis guna mengetahui apa kebutuhan para guru. Sehingga, materia yang disampaikan selama Diklat sesuai dengan realitas masalah yang guru hadapi di sekolah. Dan setelah Diklat selesai, suruh guru kembali ke sekolah masing-masing untuk menerapkan materi yang dipelajari tapi tentunya dengan didampingi oleh seorang fasilitator pendamping yang disebut dengan istilah mentor atau coach.

Siapa yang seharusnya menjadi mentor dan coach ini? Pengawas dan dosen dari perguruan tinggi adalah orang yang tepat untuk melakukan itu. Khusus bagi dosen, menjadi mentor atau coach tentu saja bukan hanya memberikan peluang untuk melaksanakan pengabdian masyarakat, tapi juga untuk belajar dari para guru. Sehingga, program, perkuliahan yang diajarkan kepada mahasiswa sesuai dengan realitas di lapangan. Dengan kata lain, bekerjasama dengan guru merupakan upaya dosen untuk menjembatani antara teori dan praktik. Untuk itu, kemitraan yang baik antara kampus keguruan dengan sekolah merupakan salah satu sarana pendukung untuk peningkatan kualitas pendidikan baik calon guru maupun guru.

Jangan harap guru berubah hanya dengan ditunjuk-tunjuk, disuruh-suruh, atau dihimbau melalui Diklat. Tapi, dampingi mereka untuk berubah. Berjalanlah bareng dengan mereka, hela nafas dalam-dalam bareng mereka ketika menemui masalah di sekolah, lalu bersama-sama mencari solusi atas permasalahan tersebut.

Wallahu’alam

Disclaimer:

THIS BLOG claims no credit for any images posted on this site unless otherwise noted. Images on this blog are copyright to its respectful owners. If there is an image appearing on this blog that belongs to you and do not wish for it appear on this site, please E-mail with a link to said image and it will be promptly removed.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: