Mang Usep Ngalalana

Home » Nyakola-Academia » Teacher Inquiry Series: Pengantar

Teacher Inquiry Series: Pengantar

2008-11-15_0705

Picture by: georgetowncollege.edu

Teacher Inquiry atau Teacher Doing Research merupakan salah satu strategi Teacher Professional Development yang saat ini banyak dijalankan di negara-negara maju. Saya sudah menasbihkan diri saya untuk memfokuskan penelitian saya pada bidang pendidikan guru dengan meliputi aspek seperti preservice teacher education, inservice teacher education, dan kemitraan antara kampus dengan sekolah dalam pendidikan guru. Saya akan menulis artikel tentang isu-isu pada bidang tersebut. Untuk artikel yang pertama ini, saya akan mengulas sedikit tentang  Teacher Inquiry. Artikel ini nantinya akan ditindaklanjuti dengan artikel-artikel lain guna mengulas lebih mendalam tentang Teacher Inquiry serta mencoba untuk merefleksikan dan mencari celah dimana letak kesesuaian Teacher Inquiry pada konteks pendidikan di Indonesia.

Apa yang dimaksud dengan Teacher Inquiry itu? Sebelum membahas apa itu Teacher Inquiry, mari kita sedikit telaah tiga tradisi riset yang ada dalam dunia pendidikan. Dana, Yendol-Hoppey, & Thompson-Grove (2002, h. 2) mengemukakan bahwa dalam dunia pendidikan, ada tiga tradisi riset yakni process-product research, qualitative atau interpretive research, dan teacher inquiry. Dua tradisi pertama, yakni process-product dan quantitative/qualitative, mendominasi bidang utama riset pendidikan.

Research Paradigm

Dalam tradisi riset process-product, guru dianggap sebagai seorang teknisi yang tugas utamanya adalah menerima dan menerapkan hasil riset yang dilakukan oleh orang lain yang berada di luar lingkup sekolah. Orang lain disini biasanya adalah dosen atau peneliti dari perguruan tinggi. Dengan menggunakan model penelitian eksperimental, dosen dan peneliti dari perguruan tinggi melakukan berbagai riset, biasanya tentang metode dan strategi mengajar; kemudian, hasil riset tersebut disebarkan ke para guru untuk diterapkan. Disini, peranan guru sangat pasif; guru bukanlah seorang problem poser ataupun problem solver, melainkan hanya sebagai implementer hasil riset orang lain.

Pada tradisi riset yang kedua, quantitative atau qualitative research, mengajar dipandang sebagai sebuah proses yang sangat kompleks, kontekstual, dan interaktif (Dana et al, 2002, h. 2). Berbeda dengan tradisi riset yang pertama, pada tradisi riset yang kedua ini, peneliti mulai mempertimbangkan konteks tiap sekolah sehingga masalah yang ditelitinya pun lebih spesifik untuk tiap konteks. Akan tetapi, sama halnya dengan tradisi yang pertama, penelitian pada tradisi yang kedua ini juga masih sangat didominasi oleh orang-orang dari luar lingkup sekolah, yakni dosen dan peneliti dari perguruan tinggi. Sehingga, berbagai pengetahuan tentang pengajaran yang beredar di sekolah-sekolah itu sebagian besar merupakan hasil penelitian orang lain, bukan guru. Kembali, guru diposisikan untuk menerima dan menerapkan hasil penelitian dari pihak lain.

Tradisi riset yang ketiga dalam bidang pendidikan adalah Teacher Inquiry atau disebut juga Teacher Research. Pada tradisi ini, guru berperan sebagai problem poser sekaligus problem solver. Tradisi riset ini tidak membedakan status guru sebagai pengajar dan status guru sebagai peneliti. Jadi, Teacher Inquiry adalah penelitian yang dilakukan oleh guru dimana guru berperan aktif dari mulai menetapkan masalah, mendesain riset, mengumpulkan data, hingga menginterpretasikan data dan menyusun langkah tindaklanjut. Siapa lagi orang yang paling tahu kondisi dan masalah di sekolah selain guru? Sehingga, melibatkan guru dalam proses pencarian solusi atas berbagai masalah di sekolah merupakan sebuah keharusan.

Teacher Inquiry dikenal juga dengan istilah Teacher Action research, yakni penelitian yang dilakukan oleh dan untuk guru baik secara individu maupun kelompok. Menurut Burnaford (2001), Teacher Inquiry adalah media bagi guru untuk melakukan refleksi atas kinerja profesional mereka, dan meningkatkan kualitas praktik profesional mereka di kelas. Carr & Kemmis (1986) dikutip dari Dana et al, (2002) mengungkapkan tiga manfaat Teacher Inquiry sebagai berikut: 1) teori dan pengetahuan baru yang dihasilkan melalui riset ini sangat kontekstual karena didasarkan pada realitas praktik pendidikan sehari-hari di sekolah; 2) guru terlibat aktif dalam meneliti masalah yang mereka hadapi sendiri; dan 3) karena guru terlibat aktif dalam proses penelitian, maka pengetahuan mereka akan meningkat, sehingga Teacher Inquiry menjadi media yang sangat baik untuk Teacher Professional Development.

Photo: wartasekolah.com

Photo: wartasekolah.com

Dalam tradisi Teacher Inquiry, peranan guru mengalami pergeseran. Guru bukan lagi sebagai penerima pasif pengetahuan yang dihasilkan melalui riset yang dilakukan oleh orang lain; melainkan sebagai active new knowledge seeker, yakni ikut mengidentifikasikan masalah dan mencari solusi atas permasalahan tersebut sehingga mereka memperoleh pengetahuan baru. Dengan kata lain, guru berperan bukan hanya sebagai pengajar, tapi juga sebagai pembelajar. Dikutip dari Stremmel (2007), riset menunjukan bahwa guru yang terlibat aktif dalam proses penelitian memiliki sikap yang lebih reflektif, lebih kritis dan analitis terhadap praktik pengajaran mereka, serta lebih terbuka terhadap masukan dan berkomitmen terhadap pengembangan profesi mereka (Oja & Pine 1989; Henson 1996; Keyes 2000; Rust 2007).

Tujuan utama dari Teacher Inquiry adalah memfasilitasi guru untuk belajar. Sehingga, Teacher Inquiry menjadi media untuk Professional Development bagi para guru. Jika selama ini, di Indonesia utamanya, Professional Development Program untuk para guru banyak dilakukan dengan menggunakan metode tradisional, seperti Diklat dan Workshop, maka Teacher Inquiry bisa dijadikan sebagai media untuk menindaklanjuti Dikat dan Workshop tersebut. Teacher Inquiry bisa menjadi salah satu solusi untuk peningkatan kualitas guru di Indonesia.

Di Indonesia, guru biasanya diundang untuk menghadiri Diklat atau Workshop dimana mereka harus menyimak berbagai pemaparan materi dalam periode waktu tertentu. Kelemahan utama model pengembangan profesi seperti ini adalah tidak adanya sustainabilitas (keberlanjutan) dan tidak kontekstualnya materi yang disampaikan. Sehingga, sering terjadi dimana Setelah Diklat dan Workshop selesai, maka selesai pula lah proses belajar. Setelah Diklat atau Workshop selesai, guru diminta untuk kembali ke sekolah masing-masing untuk menerapkan apa yang sudah dipelajari selama pelatihan. Namun yang terjadi kenyataannya tidak demikian. Ketika kembali ke sekolah, guru kesulitan untuk menerapkan apa yang sudah dipelajari. Hal ini dikarenakan oleh berbagai sebab; bisa jadi selama pelatihan dia tidak konsentrasi, kualitas pemateri yang kurang bagus sehingga guru kurang memahami materi yang disampaikan, atau karena memang materi yang disampaikan tidak sesuai dengan kebutuhan guru di sekolah. Sehingga, hasil dari pelatihan hanyalah setumpuk handout, softcopy materi dan PowerPoint dan photo-photo kegiatan.

Supaya guru mau berubah, yang harus dilakukan bukan menyuruh atau menunjukan mereka bagaimana cara berubah. Melainkan, guru harus didampingi untuk menerapkan hasil pelatihan sehingga terjadi perubahan dan peningkatan kualitas. Teacher Inquiry bisa menjadi media yang sangat baik untuk menindaklanjuti hasil pelatihan. Tentu saja, untuk melakukannya, guru butuh untuk didampingi. Oleh karena itu, Teacher Inquiry bisa dilakukan dalam secara kolaborasi baik antara sesama guru ataupun antara guru dengan pihak lain, seperti dosen dan peneliti di perguruan tinggi.

Demikian sekilas tentang definisi Teacher Inquiry. Artikel ini akan disambung dengan artikel-artikel selanjutnya tentang topik yang sama. Saya sengaja menyajikan Teacher Inquiry ini secara perlahan melalui beberapa artikel; dimulai dengan pengenalan umum yang teoretis hingga ke aspek teknis aplikasi Teacher Inquiry.

Sampai berjumpa pada artikel selanjutnya!

Sumber Rujukan:

Burnaford, G. (2001). School and university teacher action research: Maintaining the personal in the public context. In Burnaford, G., Fischer, J., & Hobson, D. (Eds.), Teachers doing research: the Power of action through inquiry (pp. 193-219). New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates

Dana, F.N., Yendol-Hoppey, D., & Thompson-Grove, G. (2002). The Reflective Educator’s Guide to Classroom Research: Learning to Teach and Teaching to Learn Through Practitioner Inquiry 2nd Edition. Thousand Oaks, CA: Corwin-Press

Stremmel, J.A. (2007). The Value of Teacher Research: Nurturing Professional and Personal Growth through Inquiry. Voices of Practitioner, Vol.  2(3). pp. 1-9.

Disclaimer:

THIS BLOG claims no credit for any images posted on this site unless otherwise noted. Images on this blog are copyright to its respectful owners. If there is an image appearing on this blog that belongs to you and do not wish for it appear on this site, please E-mail with a link to said image and it will be promptly removed.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: