Mang Usep Ngalalana

Home » Nyakola-Academia » Belajar dari Ksatria Baja Hitam dan Power Rangers

Belajar dari Ksatria Baja Hitam dan Power Rangers

Picture: KeepCalmAndPosters.com

Picture: KeepCalmAndPosters.com

Masa kecil saya termasuk beruntung karena hiburan di televisi masih cukup sehat, mendidik, dan menghibur. Biasanya saya numpang menonton televisi di rumah tetangga karena di rumah sendiri tidak ada televisi. Itu pun televisi di rumah tetangga masih hitam putih. Diantara sekian banyak acara televisi di hari Minggu, ada dua yang hampir selalu saya tonton, yakni Ksatria Baja Hitam dan Power Rangers. Ksatria Baja Hitam adalah sebuah cerita Superhero dari Jepang yang mengisahkan seorang pemuda bernama Kotaro Minami yang berjuang melindungi masyarakat dari ancaman monster anak buah Gorgom. Sementara itu, kisah Power Rangers kurang lebih sama, diadaptasi dari sebuah cerita Superhero Jepang, yang menceritakan tentang sekelompok remaja yang dengan kekuatan hebat yang mereka miliki, bertarung melindungi masyarakat dari serangan monster makhluk asing. Saat kecil, saya memahami kisah kedua film aksi anak-anak tersebut hanya dalam tataran hiburan belaka. Sekarang, ketika saya menyaksikan kembali episode film-film tersebut di Youtube, saya tersadarkan satu hal bahwa kedua kisah tersebut memberikan satu pelajaran yang berharga tentang perubahan. Para jagoan itu, supaya mampu mengalahkan para monster yang hebat dan ganas, harus melakukan perubahan hingga mereka memiliki kekuatan lebih. Ada dua nilai yang bisa dipelajari dari kedua kisah fiksi itu, yakni perubahan dan kerjasama.

Untuk bisa memenangi sebuah pertarungan, dalam bentuk apapun, dan dalam bidang apapun, seseorang harus mau melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Ksatria Baja Hitam mengajarkan bahwa untuk bisa mengalahkan monster anak buah Gorgom, Kotaro Minami harus berubah wujud hingga memiliki kekuatan lebih. Sedangkan Power Rangers menunjukan bahwa bukan hanya perubahan yang dibutuhkan untuk bisa memenangi pertarungan melawan monster jahat, tapi juga harus ada kerjasama. Bahu membahu satu sama lain demi memenangkan pertarungan.

Photo: kamenrider.wikia.com

Photo: kamenrider.wikia.com

Apapun profesi kita, di dalam lingkungan apapun kita berada, melakukan perubahan merupakan sebuah keharusan jika ingin tetap survive. Apalagi di jaman globalisasi seperti sekarang. Jika tidak melakukan perubahan, bisa jadi kita hanya akan menjadi objek dari perubahan yang dilakukan orang lain; hanya menjadi penonton, atau bahkan terlindas oleh perubahan yang terjadi. Darimana perubahan harus dimulai? seperti kata AA Gym, perubahan harus dilakukan dari yang kecil dulu, dari diri sendiri dulu, dan lakukan dari sekarang. Apapun konteksnya, prinsip perubahan itu sama, yakni people first, institution next. Rubahlah orangnya dulu, baru masyarakatnya akan berubah. Artinya perubahan harus dimuali dari individunya dulu.

Orang sering berbicara lantang bahwa dirinya adalah Agent of Change, agen perubahan. Apakah dia sendiri sudah siap berubah? Apakah diri dia sendiri sudah mampu menjadi contoh dari perubahan yang dia maksudkan itu? Perubahan kolektif yang terjadi di sebuah lingkungan, organisasi, masyarakat, bahkan bangsa, adalah hasil dari perubahan yang terjadi pada individu yang ada di dalamnya. Menjadi agen perubahan, menginginkan sebuah perubahan, tidak bisa hanya dilakukan dengan berorasi teriak-teriak membawa poster dan spanduk sambil memblokir perempatan jalan. Ironi, ketika sesorang yang mengaku dirinya agen perubahan, ingin menegakan hukum dan aturan di masyarakat, tapi dia sendiri tidak mampu menghormati dan menaati aturang sederhana di sekolah, kampus, atau bahkan di rumah.

Photo by: denofgeek.com

Photo by: denofgeek.com

Coba perhatikan manusia-manusia agung seperti para Nabi dan Rasul; atau manusia-manusia hebat seperti Mahatma Gandhi, Martin Luther King, Soekarno, dan yang lainnya, mereka adalah the greatest agent of change ever. Mereka memiliki satu kesamaan karakter, yaitu merubah dirinya sendiri sebelum kemudian melakukan perubahan di masyarakat. “Be the change you want to see in the world”, demikian kata Gandhi. Jadikanlah dirimu contoh perubahan yang ingin kamu wujudkan. Para Nabi dan Rasul menjadikan diri mereka Uswatun Hasanah, contoh dari perubahan yang ingin mereka lihat di masyarakat.

Perubahan itu butuh waktu karena perubahan adalah process, bukan event. Perubahan juga bisa jadi sebuah proses menyakitkan. Konon katanya seekor ular harus menahan rasa sakit yang luar biasa ketika dia merubah kulitnya. Tapi hasil dari perubahan yang butuh waktu dan menyakitkan itu sangat luar biasa. Seekor ular memiliki kulit baru yang lebih bagus dan larva berubah menjadi kupu-kupu yang indah. Seorang mahasiswa, misalnya, ketika ingin berubah, bisa jadi prosesnya menyakitkan. Bagaimana tidak, ketika akan melakukan perubahan, dia harus mau menanggalkan beberapa kebiasaan yang sebenarnya megasyikan, seperti nonton Drama Korea berjam-jam atau bermain Game, tapi karena ingin berubah, maka kebiasaan yang mengasyikan itu harus dihilangkang atau setidaknya dikurangi. Tapi percayalah, bahwa buah dari perubahan yang menyakitkan itu akan sangat luar biasa hebat dan mengasyikan. Mungkin hasilnya tidak langsung terasa saat itu, tapi nanti setelah terjun dan berada di masyarakat.

Photo by: liveyourlegend.net

Photo by: liveyourlegend.net

Kotaro Minami, dengan merubah dirinya menjadi Ksatria Baja Hitam, dia jadi memiliki senjata andalan yakni Tendangan Maut dan Pukulan Maut. Apa tendangan dan pukulan maut anda untuk bertarung melawan musuh anda? Apa senjata yang akan anda andalkan untuk menjadi pemenang dalam persaingan global seperti sekarang? Kita akan menghadapi pertarungan dan persaingan yang hebat. Dan musuh utama kita bisa jadi bukan orang lain, melainkan diri dan ego kita sendiri.

Mari kita berubah ke arah yang lebih baik. Jika anda mahasiswa, untuk bisa menjadi Agent of Change yang sesungguhnya, maka anda harus merubah diri anda sendiri menjadi seperti apa perubahan yang ingin anda lihat di masyarakat. Mungkin anda harus merubah cara belajar anda, atau bahkan mungkin merubah pandangan anda akan apa sesungguhnya tujuan belajar itu? Jangan harap bisa melakukan perubahan di masyarakat, jika anda sendiri tidak mampu melakukan perubahan atas diri sendiri. Dan jangan lupa, perluas jejaring. Anda tidak bisa melakukan perubahan seorang diri; melainkan, anda butuh kawan, butuh jejaring, supaya perubahan yang anda idamkan bisa terwujud. Bertemanlah dengan mahasiswa dari jurusan lain, dari fakultas lain, atau dari universitas lain. Bangun jejaring seluasnya.

Jika ingin menjadi pemenang, jika ingin melakukan perubahan di masyarakat, maka ubahlah diri kita sendiri terlebih dahulu menjadi lebih baik. Berubah …. !!!!

Wallahu’alam … !!!

Disclaimer:

THIS BLOG claims no credit for any images posted on this site unless otherwise noted. Images on this blog are copyright to its respectful owners. If there is an image appearing on this blog that belongs to you and do not wish for it appear on this site, please E-mail with a link to said image and it will be promptly removed.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: