Mang Usep Ngalalana

Home » Hirup-Hurip » Lini Masa Seorang Pembelajar: Dulu, Kini, dan Selamanya

Lini Masa Seorang Pembelajar: Dulu, Kini, dan Selamanya

Photo: Keepcalmposters

Photo: Keepcalmposters

Saya menjalani hidup saya dalam sebuah siklus: I live, I learn, and I change, terus sepertu itu berulang-ulang. Saya menjadi pembelajar sejak saya dilahirkan hingga akhir menutup hayat. Seperti yang Tuhan saya perintahkan. Berikut ini adalah Lini Masa atau Timeline yang saya lalui selama saya menjadi pembelajar.

1985-1991: Saya menjalani tahap pertama perjalanan saya sebagai seorang pembelajar. Disini, di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tegal Batu, sebuah sekolah kampung di pelosok ujung timur Kabupaten Bogor. Saya tidak memulainya dari TK atau PAUD seperti umumnya anak-anak yang lain karena biaya sekolah TK atau PAUD terlalu mahal untuk dijangkau orang tua saya; selain itu, hanya ada satu TK-PAUD saat itu dan lokasinya di Ibu Kota Kecamatan, terlalu jauh untuk dijangkau.  Meski begitu, saya boleh berbangga karena saya tidak pernah turun ke ranking dua sekalipun selama enam tahun belajar di sekolah tersebut.

1991-1994: Perjalanan berlanjut ke Madrasah Tsnawaiyah Negeri (MTsN) Cariu. Madrasah ini berlokasi di Ibu Kota Kecamatan. Disini, prestasi terbaik saya hanya ranking 10 dari bawah. Tadinya saya sangat percaya diri mampu bersaing dengan siswa lain se-Kecamatan, tapi kenyatannya saya tak mampu bersaing. Di madrasah ini, I was nobody; malah catatan buruk yang saya jalani. Mabal (Istilah Sunda yang berarti bolos – dari rumah berangkat, tapi nyangkut di tempat main dingdong). Prestasi jeblok. Orang tua sedih; saya menyesal. Kalau berkunjung ke madrasah itu, dan jika guru-guru saya masih ada, lalu tanyakan ke mereka masih ingat siswa bernama Usep Syaripudin, mungkin jawaban mereka, “Ohhh budak tukang mabal, budak bangor tea?Well, I accept that; karena it was me at that time.

1994-1996: Saya menghabiskan waktu dua tahun ini menjadi tukang kuli bongkar muat batu kali, bongkar muat sekam, dan membantu orang tua jualan makanan olahan kikil. Semua itu saya kerjakan demi menabung supaya bisa melanjutkan sekolah. Ya, saya berhenti sejenak dari menjadi pembelajar di sekolah formal, karena orang tua tidak mampu membiayai. Tapi saya tetap menjadi pembelajar, secara non-formal, di sekolah kehidupan.

1996-1999: Alhamdulilah, ada rezeki, bisa kembali menjadi pembelajar di sekolah formal. Ada satu tekad besar dalam hati saya saat itu bahwa saya akan memperbaiki kesalahan yang saya lakukan ketika di MTsN dan akan berusaha meringankan beban biaya. Itu janji terhadap diri sendiri dan orang tua. Makanya, ketika orang lain mendaftar ke sekolah favorit, saya malah mendaftar ke sebuah SMK Swasta yang baru berdiri, namanya SMK Otista di daerah Jonggol (Jadi inget salah satu sinetron kan kalau mendegar kata Jonggol: Bapak mana, Bapak Mana, wakwaaw).

Saya beserta lima puluh orang siswa lain merupakan angkatan pertama di sekolah itu. Satu alasan utama kenapa saya memilih sekolah itu adalah karena sekolah itu menawarkan beasiswa 100% Gratis kepada siswa yang berhasil menjadi juara kelas. Saya pikir, ini kesempatan untuk meringankan beban orang tua. Saya tidak peduli orang berkata apa tentang sekolah saya; orang mengejek seperti apa terhadap sekolah saya; karena buat saya, dimanapun saya bersekolah, yang menentukan adalah bagaimana saya belajarnya. Dimanapun saya pasti berhasil. Alhamdulillah, saya hanya bayaran di semester pertama saja, karena di semester selanjutnya, saya Gratis. Di Sekolah inilah saya untuk pertama kalinya jatuh cinta ke pelajaran Bahasa Inggris, yang sangat saya benci ketika di MTsN. Penyebab saya menyukai pelajaran Bahasa Inggris adalah gurunya, Pak Surachman, namanya; seorang guru muda yang baru lulus Sarjana dari Universitas Pakuan, Bogor. Beliau mungkin tidak membuat saya bisa bicara Bahasa Inggris dengan baik, tapi Beliau berhasil menginspirasi saya untuk mencintai Bahasa Inggris. Karena tugas paling berat dari seorang guru bukanlah bagaimana membuat siswanya paham akan materi yang diajarkan, melainkan bagaimana menginspirasi siswanya untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Ada satu orang guru lagi di sekolah ini yang juga sangat menginspirasi; guru yang sampai hari ini saya anggap sebagai orang tua angkat dan saya kunjungi tiap lebaran, namanya Pak Ruchyana Bichri.

Satu pertanyaan paling mengerikan dan menyakitkan saya ketika menjelang kelulusan dari SMK adalah: “Sep, mau kuliah ke mana? Sayang atuh, kamu pinter, masa gak kuliah?! Guru dan teman saya terus menanyakan itu. Mereka tidak tahu bahwa saya sudah mengubur mimpi untuk kuliah itu jauh sebelum saat kelulusan tiba. Yah, tahu diri ajah, orang tua hanya tukang sayur keliling tokh, duit dari mana untuk biaya kuliah?! Dan dengan mengandalkan surat kelulusan, karena Ijazah SMK belum keluar, saya melamar kerja ke berbagai pabrik di daerah Cileungsi dan Cibubur. Alhamdulilah, diterima di pabrik alat musik.

Photo by: motivationgrid.com

Photo by: motivationgrid.com

Saya lupa hari apa, yang pasti sehabis Shubuh, orang tua saya memanggil; padahal saat itu saya lagi bersiap-siap berangkat ke pabrik untuk mengurus dokumen pekerjaan saya. Orang tua bertanya: hoyong kuliah henteu (Ingin kuliah gak)? Saya jawab, “Sudah lah, kerja dulu, nabung dulu, kuliahnya nyicil ajah D1 atau D3 dulu.” Saat itu, cita-cita saya adalah kuliah jurusan Perbankan; alasannya simpel, ingin bekerja di bank supaya pegang duit terus .. 😀 Tidak pernah terlintas dalam benak saya menjadi guru.

Bapak saya berkata: “Kalau mau kuliah, sok ajah. Tapi ada syaratnya.” Saya kaget, seneng sekaligus tidak percaya. “Syaratnya apa?”, tanya saya. “Syaratnya, pertama, cari kuliah yang murah, yang biaya masuknya dibawah dua juta, kalau bisa malah kurang; dan syarat yang kedua, Bapak dan Umi hanya bisa menjanjikan menyediakan biaya kuliah saja, untuk biaya hidupnya, mohon dibantu cari sendiri. Yah, Bapak juga pasti berusaha menyediakan biaya hidup, tapi tolong dibantu yah. Sanggup?!” Spontan saya jawab, “Sanggup!” dan saya pun melupakan rencana pergi ke pabrik itu. Selama seminggu kemudian, saya keliling Bogor, Bekasi, dan Jakarta, ke berbagai kampus; saya tanyakan biaya kuliahnya, saya bawa brosur dan rincian biayanya. Lalu saya seahkan ke orang tua saya. Reaksi mereka: “Semuanya mahal-mahal, Bapak tidak sanggup. Ada yang lebih murah lagi gak?

Saya lemes, mimpi kuliah yang sempat menyala kembali perlahan padam. Hingga ketika saya mengambil Ijazah ke sekolah, guru saya, Pak Ruchyana Bichri, beliau guru Bahasa Indonesia, menegur saya; karena saya nampak murung. Saya ceritakanlah ke Beliau masalah saya. Beliau menawarkan pilihan agar saya masuk ke FKIP saja. Kata Beliau, ada kampus FKIP di Bandung, murah, dan Dekannya adalah teman sekelas beliau di IKIP dulu (UPI sekarang). Hanya ada satu syarat berat lagi yang harus dipenuhi. Untuk kuliah di FKIP itu dan mendapatkan potongan biaya, saya harus berstatus anak guru. Lah gimana, Bapak saya tukang sayur toh?! Maka Pak Bichri pun menulis surat pernyataan bahwa saya adalah anak angkat beliau dan akhirnya Alhamdulilah, saya pun bisa kuliah di FKIP, mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, pelajara favorit saya.

1999-2004: Saya tidak akan menceritakan bagaimana Ups and Downs, tangis dan tawa, yang saya lalui selama kuliah; karena kalau diceritakan dan diangkat menjadi sinetron, episodenya bisa lebih panjang dari Tukang Bubur Naik Haji .. 😀 Yang pasti, selama kuliah saya tinggal di masjid, bukan karena santri dan jago ngaji, tapi karena tidak mampu membayar kos.

Lima tahun saya jalani kuliah di FKIP Universitas Islam Nusantara (Uninus), sebuah kampus swasta kecil tapi salah satu yang tertua di Jawa Barat. Di kampus ini, mimpi untuk sekolah ke luar negeri dimulai. Hal ini dikarenakan, ada beberapa orang dosen saya lulusan luar negeri. Pertama, Prof. Dr. Koyo Kartasurya, yang lulusan Syracuse University, NY; kemudian ada Dr. Suhendra Yusuf, M.A., ahli linguistik dari Ohio State University, USA; terus ada Ibu Hj. Kimtafsirah, M.A., ahli TESOL dari Univ. of Canberra, Australia;  dan Bapak Kamaludin, M.A., beliau ini ahli linguistik dari sebuah universitas di Paris, ah saya lupa, nama kampusnya susah diinget, serta beberapa dosen lainnya. Mereka ini, kalau di kelas, selain menjelaskan materi kuliah, pasti bercerita tentang pengalaman kuliah mereka di luar negeri. Reaksi saya dan teman-teman saya beragam ketika menyimak mereka bercerita pengalaman sekolah dan hidup di luar negeri. Ada yang bilang sombong dan tidak sedikit pula yang merasa kabita dan terinspirasi, ingin sekolah ke luar negeri. Salah satu mahasiswa yang terinspirasi itu adalah saya. Saya selalu memimpikan dan menghayalkan sekolah ke luar negeri. Kalau saya cerita ke teman saya tentang khayalan itu, reaksi mereka hanya menertawakan, Mimpi loe, kuliah disini ajah babak belur! … 😀 Di Uninus juga saya bertemu dengan dosen lain yang menginspirasi, yakni Pak Yosal, beliau ini yang kemudian memperkenalkan dan membawa saya ke dunia terjemah menerjemahkan.

Phoot by: quotesgram.com

Phoot by: quotesgram.com

Itulah kenapa, ketika mengajar di Unswagati, di kelas, saya sering cerita tentang pengalaman sekolah di Luar Negeri. Saya yakin, reaksi mahasiswa saya beragam, ada yang suka, ada yang sinis; tapi saya juga yakin, dan berharap, ada diantara mereka yang terinspirasi, memiliki mimpi tinggi seperti saya, dan berusaha keras mewujudkannya.

2004: Lulus kuliah S1 (sepuluh semester dengan IPK 3,09 … 3,1 saja tidak … 😀 ) Diterima mengajar sebagai guru honorer di SMAN 21 Bandung dengan honor Rp. 210.000 per bulan ditambah honor pembina Ekskul Bahasa Inggris sebesar Rp. 30.000 per bulan. Alhamdulilah!, karena saat itu saya juga punya pekerjaan lain sebagai penerjemah. Disinilah perburuan mewujudkan mimpi kuliah di luar negeri di mulai. Aplikasi pertama saya kirim ke beasiswa Ford Foundation ke Amerika Serikat; dan hasilnya hanya surat balasan ucapan terima kasih sudah berminat menjadi penerima beasiswa dan ucapan untuk tidak patah semangat … pastinya! Never give up is my middle name.

2005: Masih mengajar di SMAN 21 Bandung, kali ini honor naik menjadi Rp. 235.000 per bulan, honor pembina Ekskul masih tetap sama; hanya ada “iming-iming” pendataan untuk pengangkatan CPNS dari Pemkot Bandung. Lamaran beasiswa berlanjut. Kali ini ke ADS (Australia Development Scholarship); hasilnya Gagal … kembali hanya surat ucapan terima kasih dan dorongan untuk tidak patah semangat.

2006: Masih mengajar di SMAN 21 Bandung, dengan honor sama Rp. 235.000 per bulan, begitu juga dengan honor pembina Ekskul dan tetap dijanjikan untuk menjadi CPNS oleh Pemkot Bandung. Dua lamaran beasiswa saya kirimkana tahun ini, ke ADS lagi dan ke Perancis, dan gagal lagi.

2007: Tahun terakhir saya mengajar di SMAN 21 Bandung. Lamaran beasiswa ke ADS saya kirim lagi; dan tetap belum berhasil.

Photo: keep-calm.net

Photo: keep-calm.net

2008: Saya berhenti mengajar di SMAN 21 Bandung, untuk kemudian kembali ke Uninus menjadi Asisten Dosen. Kembali saya mengirimkan aplikasi beasiswa ke ADS dan kembali gagal. Tahun ini dua kegagalan dan satu keberhasilan. Kegagalan pertama adalah kembali ditolak ADS dan kegagalan kedua adalah ajakan menikah saya ditolak pacar; alasannya dia ingin S2 dulu, padahal mah beberapa waktu kemudian saya mendengar dia jadian sama seorang guru PNS .. nasiiiiib … !!!! Sejak saat itu saya sinis sama PNS … hahahah … Tapi ada satu keberhasilan. Seminggu setelah putus dengan pacar, saya diterima mengajar di SMP Al Azhar Jakarta, karena biaya hidup mahal, akhirnya saya minta ditransfer ke Al Azhar Bekasi.

2009-2011: The Dream Come True … Finally .. yeaayy! Ketika mengajar di Al Azhar, saya melamar beasiswa USAID dan Alhamdulilah … lolos seleksi. Saya mengundurkan diri dari Al Azhar dan memulai petualangan ke University of Arkansas, USA. Sebenarnya tahun ini saya juga kembali mendaftar ke ADS, dan kembali gagal.

Saya masih ingat, saat itu, 17 Agustus 2009, jam tujuh pagi, di Bandara O’hare Chicago, saya meneleon Bapak saya di Indonesia. Bapak hanya bilang, “Syukur atuuh sudah sampe Chicago, hati-hati, jangan lupa sholat!” Seminggu kemudian, setelah settle di Arkansas, saya menelepon ke rumah lagi. Kali ini Bapak saya cerita bahwa minggu kemarin, ketika saya nelepon dari Chicago, Bapak tuh baru pulang dagang dan dalam perjalanan pulang di angkot. Bapak diketawain orang seangkot dan disebut gila, gara-gara penumpang lain mendengar Bapak saya bilang “Syukur atuuh sudah sampe Chicago, hati-hati, jangan lupa sholat!”, dan penumpang tidak ada yang percaya kalau Bapak saya punya anak sekolah di Amerika. Lah, lagian, siapa yang akan percaya kalau ada Bapak-bapak bertampang kusam, pakaian lusuh, bertopi lepek, dan menjijing kantong keresek sisa dagangan dan mengaku punya anak lagi kuliah di Amerika … !!! No way Jose!

Salah satu hal terhebat dan terindah dari pengalaman di Arkansas adalah saya bertemu dengan Love of my life, perempuan cantik nan pintar yang kemudian menjadi pendambing hidup saya hingga sekarang. Menarik, kami sama-sama tinggal di Bandung, kami suka nongkrong ke Gramedia yang sama, tapi tidak pernah bertemu; dan kami harus menempuh perjalanan setengah lingkaran bumi untuk saling bertemu dan tak terpisahkan lagi! So sweeett!

2011: Lulus dari Arkansas, kembali ke Alma Mater saya di Uninus Bandung. Mengajar di FIKOM dan FKIP selama setahun.

2012: Setelah menikah, saya dan isteri memutuskan untuk pulang kampung ke Majalengka. Dan saya diterima mengajar di FKIP Unswagati. Tahun ini, mimpi baru muncul, sekolah PhD ke Luar Negeri. Dan usaha pun dimulai dengan mengirim aplikasi ke ADS, usaha yang keenam kalinya saya mendaftar ke ADS. Kali ini, sesuai dengan ketentuan dari ADS bahwa untuk melamar S3 harus sudah punya calon Profesor untuk menjadi pembimbing, saya bukan punya hanya calon, tapi status saya saat itu sudah diterima sebagai mahasiswa di University of Southern Australia. Tapi, kembali, gagal.

Tahun ini saya juga melamar ke Fulbright, dan Alhamdulilah diterima. Hanya sayang, karena status saya dosen yang sudah memiliki NIDN, saya tidak dimasukan ke Fulbright Presidential Scholarship Program, melainkan ke Fulbright Dikti Funded Program. Disinilah masalahnya, Dikti mensyaratkan agar NIDN saya berstatus aktif dan jelas. Masalahnya, karena saya baru pindah kerja dari Uninus ke Unswagati, NIDN saya, di database Dikti, masih tercatat di Uninus, sementara saya melamar beasiswa dari Unswagati. Fulbright memberikan waktu hingga akhir Minggu pertama Januari 2013 untuk mengklarifikasi masalah ini. Tapi, Allah punya rencan lain, hingga batas waktu yang sudah ditentukan, saya tidak bisa mengklairifikasi status NIDN saya, dan Fulbright pun membatalkan beasiswa saya.

Kecewa, sedih, sekaligus malu, karena Pak Dekan sudah membewarakan bahwa saya akan kembali ke Amerika untuk S3. Tapi, seminggu setelah pembatalan beasiswa, perassaan kecewa dan sedih itu hilang, berganti menjadi syukur, karena saya mengetahui bahwa Ibu saya sakit. Saya bersyukur bukan karena Ibu saya sakit, tapi karena saya merasa Allah sengaja melarang saya pergi agar saya merawat Ibu saya yang terkena Tumor rahim.

2013: Isteri berangkat ke Amerika untuk menjadi pengajar Bahasa Indonesia di Columbia University, NY, melalui Fulbright. Sementara saya, fokus dengan proses penyembuhan Ibu saya. Alhamdulilah, setelah dioperasi, beliau akhirnya dinyatakan sembuh. Saya masih ingat perkataan Ibu saya, “Jug, ayeuna mah, Emi tos sehat, bade kamana wae ke emi didoakeun. (Gih, sekarang mah, Ibu sudah sehat, mau kemana pun Ibu ridho dan doakan)”.

2014: Tahun ini saya melamar ke LPDP, ini yang kedua kalinya, karena yang pertama di tahun 2013, saya gagal karena LPDP tidak menerima dosen sebagai peserta beasiswa. Alhamdulilah, usaha yang kedua ke LPDP berhasil. Ada satu cobaan sebulan setelah saya dinyatakan lolos seleksi LPDP. Bapak saya, ketika hendak berangkat belanja sayuran untuk dagang, angkot yang ditumpangi beliau ditabrak truk. Akibatnya, lengan kiri bagian atas patah dan tulang rusuk retak. Shock, tidak pernah saya mengalami rasa takut kehilangan orang yang dicintai seperti itu sebelumnya. Alhamdulilah, setelah dirawat dua pekan, Bapak dapat diobati.

2015: 6 Agustus, saya berangkat ke Penn State, dan disinilah saya sekarang … Alhamdulilah!!!

Perjalanan panjang masih menanti; saya yakin, perjalanan itu tidak akan mudah, tapi tetap menyenangkan dan menantang.

“And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it. It’s the possibility of having a dream come true that makes life interesting. There is only one thing that makes a dream impossible to achieve: the fear of failure. People are capable, at any time in their lives, of doing what they dream of. There is only one way to learn. It’s through actions.” — Paulo Coelho in the Alchemist.

Disclaimer:

THIS BLOG claims no credit for any images posted on this site unless otherwise noted. Images on this blog are copyright to its respectful owners. If there is an image appearing on this blog that belongs to you and do not wish for it appear on this site, please E-mail with a link to said image and it will be promptly removed.

Advertisements

1 Comment

  1. vicky says:

    Hade pa tulisan na, ciga na eleh raditya dika oge. Hehehe
    So inspiring..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: