Mang Usep Ngalalana

Home » Nyakola-Academia » PPL Model PDS di Penn State: Bagaimana Guru Masa Depan Dipersiapkan

PPL Model PDS di Penn State: Bagaimana Guru Masa Depan Dipersiapkan

Praktik Pengenalan Lapangan Kependidikan atau lazim dikenal dengan istilah PPL merupakan komponen terpenting dalam proses pendidikan calon guru. PPL memberikan kesempatan kepada para calon guru untuk menerapkan semua konsep yang mereka pelajari di kelas selama perkuliahan melalui praktik mengajar di sekolah. Melalui kerjasama segitiga antara mahasiswa praktikan, guru pamong, dan dosen pembimbing, PPL memberikan kesempatan kepada mahasiswa calon guru untuk merasakan dan mengenali langsung kehidupan sekolah. Pada artikel ini, saya akan sedikit memperkenalkan seperti apa Pennsylvania State University, College of Education menjalankan program PPL. Sejak tahun 1980an, kampus-kampus keguruan di Amerika Serikat mulai menerapkan model pendidikan guru yang meniru model pendidikan dokter. Model pendidikan guru tersebut dinamakan Professional Development School (PDS). Program kemitraan antara kampus dengan sekolah dalam mendidik para guru masa depan. Salah satu alasan saya memilih Penn State adalah program PDS di kampus ini merupakan salah satu yang terbaik di Amerika Serikat.

Sekilas tentang PDS.

Meniru model pendidikan dokter, mahasiswa calon guru ditempatkan selama satu tahun ajaran penuh di sekolah untuk mengenali dan merasakan langsung suasana sekolah. Sekolah diistilahkan sebagai Teaching Hospital, dimana para calon guru mempraktikan semua konsep pengetahuan tentang pengajaran dan pendidikan yang mereka pelajari di sekolah. Ada 4 (Empat) misi utama program PDS sebagaimana ditetapkan oleh NCATE (National Council for Accreditation of Teacher Education), sebuah lembaga yang bertanggungjawab memberikan akreditasi terhadap semua Fakultas Keguruan di US. Kelima standar tersebut adalah: 1) Pendidikan guru masa depan; 2) Peningkatan kualitas dosen keguruan; 3) Memfasilitasi inkuiri dan riset bagi guru, mahasiswa, dan dosen, dan 4) Peningkatan prestasi siswa di sekolah. Di Penn State, inisiatif penyelenggaraan PDS dimulai pada tahun 1998. Butuh waktu sekitar enam tahun untuk program PDS tersebut tumbuh dan mulai berjalan. Enam belas tahun berjalan, program tersebut berhasil meraih berbagai penghargaan baik dari pemerintah negara bagian Pennsylvania maupun pemerintah Federal US. PDS di Penn State mengusung misi 4 (Empat) E sebagai berikut: Enhancing educational experience of all children, Ensuring high quality inductions of new teachers, Engage in furthering professional goal of teachers and teacher educators, dan Educate the next generation of teacher educators. Jadi, sasaran program PDS bukan hanya meningkatkan kemampuan guru, tapi juga teacher educators, yakni para dosen.

Proses, Prosedur, dan Pelaksanaan PDS

Photo by: news.psu.edu

Photo by: news.psu.edu

Di Penn State, College of Education, ketika mahasiswa memasuki awal tahun ketiga perkuliahan, Semester lima, mereka diberi pengarahan tentang 3 (Tiga) jenis PPL yang tersedia. Yang pertama adalah PPL yang biasa disebut dengan Traditional Field-Experience Program. Program ini sama seperti umumnya program PPL yang ada di kampus-kampus di Indonesia. Mahasiswa dikirim ke sekolah untuk mengajar selama satu semester dan didampingi oleh dosen pembimbing serta guru pamon. Jenis PPL yang kedua adalah PPL Internasional. PPL ini ditujukan khusus kepada mahasiswa yang mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (TESOL) dan berencana untuk menjadi pengajar TESOL di berbagai negara. PPL ini dilaksanakan di luar Amerika Serikat. Biasanya mahasiswa dikirim ke Amerika Latin atau China untuk PPL. Dan PPL jenis ketiga adalah PDS. Jadi, mahasiswa tidak diwajibkan untuk memilih PDS; mereka diberi kebebasan untuk memilih jenis PPL mana yang mereka inginkan dan sesuai dengan kondisi mereka.  Sekarang ini, 70% mahasiswa memilih untuk mengikuti PPL model PDS. PPL Model PDS menerapkan proses seleksi yang sangat ketat.

Proses Seleksi

Semua mahasiswa di Semester lima diundang untuk menghadiri sesi orientasi tentang PDS. Orientasi ini biasanya dilaksanakan pada bulan September. Pada bulan Oktober, mahasiswa yang menyatakan tertarik untuk mengikuti PDS diundang untuk menghadiri penjelasan pemaparan lebih detil tentang segala sesuatu terkait dengan PDS. Setelah mengikti sesi pemaparan ini, mahasiswa diberi kesempatan untuk melakukan proses Pre-Application, yakni proses dimana mereka menyatakan ketertarikan untuk mengikuti PDS. Pada tahapan ini, mahasiswa harus mengisi pendaftara Online dengan menuliskan pernyataan ketertarikan terhadap PDS dan melampirkan transkrip akademik. Mendaftar pada tahapan ini tidak serta merta menjadikan mahasiswa peserta PDS; melainkan, hanya menjamin bahwa mereka akan diundang untuk mengikuti seleksi. Mahasiswa yang tidak mendaftar pada tahapan Pre-Application ini tidak akan diundang untuk melakukan Formal Application.

Tahapan selanjutnya adalah mahasiswa yang mendaftar melalui proses Pre-Application akan diundang untuk mengikuti sesi informasi berikut yang biasanya dilaksanakan pada bulan Januari. Berbeda dengan sesi informasi sebelumnya, yang diselenggarakan oleh dosen. Pada sesi informasi ini, yang menjadi pematerinya adalah Mahasiswa Senior yang sedang mengikuti program PDS yang tengah berjalan. Tujuannya adalah untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa calon peserta PDS memperoleh informasi langsung dari “para pelaku” PDS yang tengah berlangsung. Karena, siapa lagi yang mampu memberikan pemaparan kegiatan PDS secara jelas selain peserta yag tengah menjalaninya. Dalam proses ini, dosen dan fakultas sama sekali tidak dilibatkan. Tujuannya supaya mahasiswa senior tersebut mampu memberikan penjelasan sejelas-jelasnya tanpa intervensi pihak fakultas. Pesan yang disampaikan para senior biasanya adalah “Jika kalian tidak siap berkorban (waktu, tenaga, dan biaya), tidak suka bekerja keras, dan tak memiliki komitmen untuk menjadi guru yang hebat, maka jangan ikut PDS. Karena PDS merupakan program yang menuntut banyak dari mahasiswa”.

Biasanya, setelah pertemuan ini, jumlah mahasiswa yang tertarik mengikuti PDS akan berkurang. Mahasiswa yang tersisa hanyalah mereka yang benar-benar ingin mengikuti program PPL PDS ini. Sehingga, komitmen mereka terhadap pelaksanaan program ini sangat tinggi. Maka, pada tahap selanjutnya, mahasiswa yang tertarik dan berkomitmen terhadap PDS ini kemudian akan diundang untuk mengajukan Formal Application yang biasanya dilakukan pada akhir Januari. Pada tahapan Formal Application ini, mahasiswa harus mengisi Formulir Online dan mengajukan 8 (Delapan) essai dengan panjang masing-masing maksimal dua halaman. Kedelapan esai tersebut harus mampu menjawab pertanyaan sebagai berikut:

  1. Uraikan alasan kenapa ingin menjadi guru dan ingin berpartisipasi pada program praktik mengajar melalui PDS selama satu tahun penuh di sekolah?!
  2. Ceritakan pengalaman apa yang anda miliki tentang bagaimana berhubungan dengan anak sekolah atau penahkah ada memiliki kesempatan berhubungan dan bekerjasama dengan anak sekolah?!
  3. Ceritakan apa saja usaha yang anda lakukan untuk menjadi guru yang hebat?!
  4. ceritakan dan uraikan pengalaman apa saja yang anda miliki terkait dengan menjalin hubungan dengan orang lain dan apa manfaat pengalaman tersebut terhadap perkembangan kemampuan anda dan menjadikan anda lebih baik dibanding orang lain?!
  5. Ceritakan pengalaman tentang bagaimana anda menerima masukan dari orang lain dan bagaimana anda merespon masukan tersebut untuk kebaikan anda?!
  6. Ceritakan kejadian, pengalaman, kegiatan, atau bahan bacaan apa yang membentuk persepsi anda tentang seperti apa guru yang baik itu?!
  7. Silahkan ceritakan informasi lain yang relevan dengan anda dan tujuan anda mendaftar di program PDS ini (Misalnya hobi, prestasi, tujuan hidup, dsb).

Mahasiswa pendaftar akan diberi tahu bahwa esai mereka akan dibaca dan diseleksi oleh tim penyeleksi yang terdiri dari dosen, guru pamong dari sekolah, dan mahasiswa PhD. (Alhamdulilah, untuk tahun ini saya dilibatkan untuk menjadi tim seleksi). Tim penyeleski akan melakukan penilaian terhadap esai-esai tersebut dengan memperhatikan pada kualitas tulisan dan ide yang pendaftar uraikan. Tahapan seleksi selanjutnya adalah wawancara. Mahasiswa diundang untuk menghadiri sesi wawancara selama kurang lebih 30 menit. Biasanya, terdapat enam hingga tujuh tim pewawancara yang terdiri dari tiga orang (dosen, guru pamong dari sekolah, dan mahasiswa PhD).

Conceptual Framework of Penn State College of education. Photo by: Penn State College of Education

Conceptual Framework of Penn State College of education.
Photo by: Penn State College of Education

Selanjutnya, nilai untuk semua tahapan seleksi akan digabungkan diurutkan. Sebelum menentukan berapa orang peserta yang akan diterima, Tim PDS akan menentukan terlebih dahulu berapa sekolah yang siap menampung dan berapa guru pamong dan dosen pembimbing yang siap menjadi pembimbing. Jika berdasarkan penghitungan, misalnya, PDS hanya akan menerima 50 orang peserta saja, dan jika ada 60 orang peserta mendaftar, maka peserta dengan ranking nilai seleksi 51-60 akan dinyatakan gugur. Mahasiswa akan diberi pemberitahuan melalui email tentang hasil seleksi. Khusus bagi mereka yang tidak lolos seleksi, Tim Seleksi akan mengundang mereka untuk mengikuti sesi wawancara umpan balik dimana mereka akan diberikan penjelasan kenapa mereka gagal lolos seleksi.

Tahapan selanjutnya, mahasiswa yang lolos seleksi akan dikelompokan dan ditempatkan pada sekolah-sekolah yang siap menampung mereka. Yang menarik, ketika mahasiswa ditempatkan di sekolah tertentu, mereka tidak otomatis dipasangkan dengan guru pamong tertentu. Proses pemasangan mahasiswa dengan guru pamong dan dosen pembimbing mengikuti mekanisme tertentu. Proses pemasangannya seperti berikut:

Mahasiswa dikelompokan dan ditempatkan pada sekolah tertentu. Kemudian, mereka akan diminta untuk mengunjungi sekolah tersebut dan mencari siapa saja guru yang akan menjadi pamong mereka. Guru yang akan jadi pamong, biasanya memasang tulisan “A PDS Mentor Lives Here” di pintu ruangan dan kelas mereka. Sehingga, mahasiswa tahu mana guru yang akan jadi pamong, mana yang tidak; karena tidak semua guru di sekolah menjadi pamong. Pada tahapan ini, baik mahasiswa maupun calon guru pamong akan saling berkenalan dan “mempromosikan” diri masing-masing. Mahasiswa harus meyakinkan guru pamong untuk menjadi pembimbng mereka; dan guru pamong harus menarik mahasiswa agar mau menjadi praktikan mereka.

Seminggu kemudian, semua mahasiswa praktikan di sekolah dan calon guru pamong akan dikumpulkan pada kegiatan “Social meeting“, semacam kegiatan Speed dating alias Kencan Kilat; dimana mereka akan saling bersosialisasi, berbicara, dan ngobrol banyak hal tentang apapun yang mereka suka. Konsepnya lebih mirip seperti sebuah Party. Setelah sekitar satu jam saling bersosialisasi, mahasiswa praktikan akan diminta untuk meninggalkan ruangan. Sementara itu, dipandu oleh dosen dari kampus, para guru pamong akan memilih dan menentukan ingin dipasangkan dengan siapa. Melalui proses perkenalan dan sosialisasi, para guru pamog memiliki gambara sekilas tentang karakter dan kemampuan mahasiswa praktikan. Berdasarkan informasi tersebut, guru pamong memilih siapa yang akan mereka bimbing. Biasanya, guru pamong akan diminta memilih maksimal tiga dengan urutan Pilihan Pertama, Pilihan Kedua, dan Pilihan Ketiga. Jika ternyata ada mahasiswa yang tidak terpilih, pada akhirnya, dosen pembimbing akan menentukan sendiri dengan siapa mahasiswa tersebut akan bekerja.

Video Courtesy: Penn State College of Education

Pelaksanaan PPL Model PDS

Mahasiswa praktikan mulai hadir ke sekolah sekitar dua pekan sebelum sekolah dimulai. Mahasiswa bekerjasama dengan guru pamong mempersiapkan semua kelengkapan mengajar seperti Lesson Plan, Bahan Ajar, Media Ajar, menyiapkan ruangan kelas, dan sebagainya. Modelnya adalah kerjasama, yakni bukan praktikan yang bekerja sendiri atau pamong sengaja memanfaatkan tenaga praktikan. Pada tahap ini, dosen pembimbing dari kampus juga sudah mulai terlibat. Jadi, rencana kegiatan pembelajaran itu merupakan hasil kerjasama mahasiswa, guru pamong, dan dosen. Sehingga, yang belajar pada dasarnya bukan hanya mahasiswa, tapi juga dosen dan guru pamong saling membelajarkan satu sama lain.

Tiga bulan pertama pelaksanaan praktik, mahasiswa tidak diperbolehkan untuk mengajar. Tugas mereka hanya membantu guru menyiapkan bahan ajar, Lesson Plan, dan sebagainya. Selain itu, selama tiga bulan pertama ini, mahasiswa diberi tugas untuk menjadi observer kegiatan belajar mengajar yang guru lakukan. Pada tiga bulan pertama ini, dosen pembimbing juga akan turut serta menjadi pengajar di kelas. Tujuan pada tahap ini adalah memberikan contoh dan pengenalan kepada mahasiswa praktikan tentang proses belajar mengajar. Salah satu ciri yang membedakan model PDS dengan PPL biasa adalah tugas dosen pembimbing bukan hanya mengawasi dan membimbing, tapi juga mencontohkan tentang mengajar yang baik itu seperti apa.

Pada tiga bulan berikutnya, mahasiswa praktikan mulai diberi tugas mengajar, tapi sifatnya masih tandem dengan guru pamong. Pada tahap ini, mahasiswa menjalani co-teaching dengan guru pamong; jadi belum sepenuhnya dilepas untuk mengajar. Mahasiswa praktikan akan diberi kewenangan untuk mengajar penuh di kelas pada paruh kedua praktik mengajar; atau pada semester kedua di sekolah.

Mahasiswa praktikan, guru pamong, dan dosen pembimbing harus mengadakan dua kali pertemuan tiap pekannya. Hari Senin, mereka mengadakan Pre-conference, tujuannya adalah untuk membahas rencana mengajar selama satu minggu ke depan; dan pada hari Sabtu, mereka mengadakan Post-conference, denga tujuan mengevaluasi program satu pekan yang sudah berjalan.

Photo by: ed.psu.edu

Photo by: ed.psu.edu

Teacher Inquiry

Perbedaan lain yang sangat signifikan antara PDS dengan PPL Biasa adalah pada program Teacher Inquiry. Jika pada PPL biasa, mahasiswa hanya diminta menyusun laporan kegiatan PPL, maka pada model PDS, mahasiswa diwajibkan melakuian inkuiri, yakni penelitian AutoEthnografi atas kinerja mereka sendiri selama mengajar. Di akhir kegiatan PPL model PDS, kampus menyelenggarakan kegiatan bernama Inquiry Conference, untuk memfasilitasi para mahasiswa praktikan untuk mempresentasikan hasil inkuiri mereka selama PPL. Biasanya, konferensi ini mengundang guru dan dosen se-negara bagian Pennsylvania dan para pejabat kementerian pendidikan baik di negara bagian maupun di pemerintah Federal.

Konferensi ini merupakan “Perayaan” atas keberhasilan mahasiswa menjalani program PDS. Selain para guru, banyak juga orang tua para mahasiswa praktikan turut hadir; karena bagi mereka merupakan sebuah kebanggan ketika menyaksikan anak mereka mempresentasikan hasil penelitiannya di hadapan ratusan peserta konferensi.

Demikian sekilas tentang bagaimana Penn State mempersiapkan dan mendidik guru-guru terbaik di masa depan. Untuk mempelajari lebih jauh tentang PDS di Penn State, silahkan kunjungi websiste PDS Penn State pada tautan-tautan berikut:

Professional Development School Penn State

Professional Development School State College School District

Inquiry Conference Penn State (Disini anda bisa mengunduh contoh-contoh hasil penelitian inkuiri mahasiswa praktikan)

Disclaimer:

THIS BLOG claims no credit for any images posted on this site unless otherwise noted. Images on this blog are copyright to its respectful owners. If there is an image appearing on this blog that belongs to you and do not wish for it appear on this site, please E-mail with a link to said image and it will be promptly removed.

 

 

 

Advertisements

2 Comments

  1. […] Sedikit perkenalan terhadap the National Association for Professional Development School (NAPDS), organisasi ini menaungi semua program Professional Development School (PDS) yang dikelola oleh kampus-kampus di Amerika Serikat. Singkatnya, PDS adalah model pendidikan guru yang mengadopsi model pendidikan dokter. Saya tidak akan mengulas secara detil tentang PDS disini. Silahkan kunjungi website the National Association for Professional Development School (NAPDS) untuk mempelajarinya lebih jauh. Sedangkan untuk contoh PDS, silahkan baca postingan saya sebelumnya pada tautan berikut tentang Professional Development School (PDS) di Penn State. […]

    Like

  2. […] Tahun ini saya kembali dilibatkan untuk menjadi anggota tim seleksi mahasiswa untuk program PDS (Professional Development School). PDS adalah model pendidikan guru yang meniru model pendidikan calon dokter dimana mahasiswa harus menjalani “clinical practice” dalam bentuk praktik mengajar selama satu tahun penuh di sekolah. Mahasiswa tingkat akhir di fakultas keguruan di Penn State diberi dua pilihan model praktik mengajar, yakni praktik mengajar tradisional, seperti layaknya yang praktik mengajar di kampus keguruan di Indonesia, mahasiswa mengajar di sekolah selama kurang lebih tiga bulan sampai satu semester. Pilihan yang kedua adalah mengikut program PDS, yakni melakukan praktik mengajar selama satu tahun ajaran penuh. Karena PDS ini memerlukan komitman tinggi mahasiswa praktikan, makanya dilakukan seleksi guna memilih mahasiswa mana saja yang layak untuk direkrut mengikuti program PDS. Lebih lanjut tentang PDS dapat dibaca pada postingan saya sebelumnya DISINI. […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: