Mang Usep Ngalalana

Home » Nyakola-Academia » Berburu LoA untuk Studi di Luar Negeri

Berburu LoA untuk Studi di Luar Negeri

Photo credit: Penn State

Photo credit: Penn State

Bukti bahwa seseorang sudah diterima sebagai mahasiswa di sebuah universitas di Luar Negeri biasanya disebut dengan LoA (Letter of Acceptance atau Letter of Admission). Kalau di UK, Australia, atau Eropa, disebut juga dengan LoO (Letter of Offer). Biasanya, ada dua jenis LoA, yakni Conditional dan Unconditional LoA. Jika menerima LoA Unconditional, artinya kita diterima di kampus tersebut karena sudah memenuhi semua syarat yang ditentukan; namun jika universitas menawarkan LoA Conditional (Bersyarat), maka artinya masih ada persyaratan yang harus dipenuhi hingga kemudian diberi LoA Unconditional.

Sebelum memulai perburuan memperoleh LoA, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan. Hal utama yang harus dipersiapkan adalah kelengkapan syarat administrasi pendaftaran. LoA diterbitkan oleh kampus setelah mereka melakukan penilaian dan menyeleksi kelayakan seorang pelamar. Jadi, LoA diterbitkan diakhir proses seleksi. Oleh karena itu, pastikan bahwa kita mampu memenuhi semua persyaratan administrasi untuk bisa diterima di kampus yang kita tuju. Syarat administrasi saja dulu dipenuhi. Karena bisa jadi, meskipun ada Profesor yang tertarik dengan kita, kampus tetap menolak memberikan LoA ketika ternyata kita tidak mampu memenuhi syarat minimal pendaftaran perkuliahan di kampus tersebut, khususnya kemampuan bahasa.

Apa saja syarat administrasi tersebut? Yang pertama adalah bukti kemampuan bahasa. Ada dua jenis tes kemampuan bahasa yang biasa digunakan sebagai syarat mendaftar kuliah ke Luar Negeri. Jika kita akan mendaftar kuliah ke negara berbahasa Inggris atau ke negara bukan berbahasa Inggris akan tetapi bahasa pengantar perkuliahan Bahasa Inggris, maka kita harus menunjukan bukti kemampuan Bahasa Inggris yang memadai; bukti tersebut adalah Skor Tes IELTS atau TOEFL iBT. Kedua tes tersebut diterima di semua negara.

(Catatan: Sejak Februari 2015, UK melarang penggunaan semua produk tes dari ETS, termasuk TOEFL, untuk dipakai melengkapi persyaratan VISA dan pendaftaran Kuliah di negara tersebut. Hal ini dikarenakan ada terjadi perjokian di salah satu Test Center ETS di London untuk tes TOEIC. Meski masih ada beberapa kampus di UK yang menerima TOEFL, namun pemerintah UK memastikan bahwa mereka hanya menerima IELTS sebagai syarat aplikasi Visa, itu pun jika tesnya dilakukan di beberapa Test Center tertentu yang ditunjuk resmi oleh pemerintah UK. Saya belum memiliki informasi terbaru tentang apakah TOEFL sudah kembali berlaku atau belum di UK). 

Jadi, jika tujuannya ke UK, mungkin lebih baik IELTS saja. Tapi jika tujuannya selain ke UK, IELTS maupun TOEFL bisa diterima. Jenis tes yang diterima sebagai syarat pendaftaran kuliah adalah TOEFL iBT, bukan ITP , apalagi Prediction. Jadi, pastikan sudah memiliki bukti kemampuan bahasa. Biasanya, syarat minimal untuk kemampuan bahasa itu berbeda tiap kampus dan tiap jurusan. Namun, untuk amannya, maka usahakan memiliki skor tes IELTS minimal 6,5 atau 7,0 dan skor TOEFL iBT minimal 90-100. Dengan skor seperti ini, seseorang dianggap memiliki kemampuan bahasa yang memadai untuk kuliah di luar negeri. Silahkan buka tautan ini untuk mencari tahu informasi tentang TOEFL iBT dan IELTS, termasuk lokasi tes resmi, waktu, dan biayanya. Dan manfaatkan Google untuk belajar melalui Online Tutorial untuk persiapan tes.

Photo by: diplomatls.com

Photo by: diplomatls.com

Sertifikat kemampuan bahasa itu berlaku selama dua tahun. Jadi, setelah memiliki bukti kemampuan bahasa, kita punya waktu dua tahun untuk menggunakannya sebagai dokumen pendukung aplikasi.

Khusus bagi yang tertarik mendaftar kuliah ke Amerika Serikat, ada syarat lain yang harus dipenuhi yakni GRE. Graduate Record Exam (GRE) adalah sejenis Tes Potensi Akademik. Ada dua jenis GRE, General Test dan Subject Test. Subject Test wajib diambil oleh mereka yang akan mendaftar kuliah untuk bidang-bidang seperti Engineering, Biology, Chemistry, Physics, Psychology, dan Mathematics. Untuk mengetahui dengan pasti GRE mana yang disyaratkan, silahkan tanyakan ke kampus yang kita tuju atau pelajari di website kampus tersebut. Berikut adalah tautan untuk mempelajari Graduate Record Exam (GRE), termasuk tips, biaya tes, jadwal dan lokasi tes. Selain itu, ada banyak GRE Prep Test Online. Silahkan dicari di Google. Tes GRE berlaku untuk selama lima tahun. Persiapkan diri sebaik mungkin karena GRE ini bianya cukup mahal, selain juga tesnya lumayan berat. Ada juga tes lain yang harus diambil, khusus bagi mereka yang akan mendaftar ke Business School. Tes tersebut biasanya GMAT.

Sambil mempersiapkan tes-tes tersebut, kita juga bisa mulai mencari dan menyeleksi kampus mana saja yang akan kita tuju. Yang saya lakukan dulu ketika menyeleksi kampus adalah dengan mengelompokannya menjadi tiga kategori kampus, yakni: Kampus impian, Kampus realistis, dan Kampus nasib. Kriterianya kita tentukan sendiri. Namun, pastikan bahwa untuk semua kategori kampus tersebut, kita yakin mampu memenuhi semua persyaratan administrasi untuk diterima di kampus tersebut. Jangan sampai baru ditahap administrasi kita sudah gugur.

Ketika menyeleksi kampus yang akan dituju, jangan terlalu terkesima dan berpaku pada ranking kampus tersebut. Tokh, sistem perankingan kampus sendiri masih merupakan kontroversi yang selalu menjadi bahan perdebatan. Pastikan bahwa kampus yang kita tuju itu memiliki program yang sesuai dengan rencana kuliah dan riset kita. Selain itu, cari juga kampus yang menyediakan kesempatan dan peluang besar bagi kita untuk terlibat pada program di luar perkuliahan utama kita. Misalnya, cari informasi tentang apakah kampus tersebut menyediakan lowongan Asistensi baik itu itu Teaching Assistant, Administrative Assistant, atau Research Assistant. Karena, menjadi Asisten itu sangat bermanfaat, bukan hanya akan memperoleh tambahan uang saku, tapi juga yang paling penting adalah pengalaman kerja dan memperoleh firsthand experience. Kalaupun ingin menggunakan ranking sebagai rujukan, maka sebaiknya rujuklah ranking untuk jurusan atau program studi, bukan overall ranking kampus tersebut.

Setelah kampus yang dituju teridentifikasi, maka langkah selanjutnya adalah mempelajari syarat dan prosedur aplikasi di kampus tersebut. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah:

  1. Dokumen apa saja yang dibutuhkan; biasanya, syarat mendaftar kuliah ke Luar Negeri adalah melampirkan dokumen Ijazah dan Transkrip (S1 & S2 untuk aplikasi S3, dan S1 untuk aplikasi S2). Jika ijazah dan transkrip tidak berbahasa Inggris, pastikan melampirkan versi terjemahan dari dokumen tersebut, dan harus diterjemahkan oleh penerjemah tersumpah. Biasanya kampus mensyaratkan minimal IPK 3,0. Untuk program S3, beberapa kampus mensyaratkan IPK minimal 3.30-3.50. Silahkan pelajari persyaratan di kampus yang dituju.
  2. Statement of Purpose atau Study Objective; biasanya berbentuk satu halaman Essay. Ini merupakan salah satu dokumen terpenting dalam proses pendaftaran kuliah ke Luar Negeri. Melalui Essay ini, kita diminta untuk “menjual dan mempromosikan” diri kita sebaik mungkin hingga kampus yakin bahwa kita adalah orang yang tepat untuk direkrut sebagai mahasiswa. Seperti apa bentuknya Personal Statement itu, silahkan buka tautan DISINI dan DISINI; sedangkan tips-tipsnya bisa dibuka DISINI. Tulis sendiri, jangan meminta dituliskan ke orang lain. Kalaupun ingin meminta bantuan, cukup minta orang lain menjadi proofreader saja. Silahkan manfaatkan Google untuk belajar tentang Personal Statement.
  3. Bukti kemampuan bahasa; sudah dijelaskan di atas seperti apa.
  4. Letter of Recommendation; dokumen ini juga sangat penting. Tiap kampus memiliki ketentuan berbeda-beda. Tapi, pada umumnya, kampus mensyaratkan antara dua sampai tiga surat rekomendasi. Satu surat bianya diminta dari atasan tempat kita kerja (isinya memberikan penilaian atas kinerja professional kita, etos kerja, prestasi, serta bagaimana potensi kerja kita terhadap lembaga). Surat kedua biasanya dari dosen pembimbing akademik ketika kita S1 atau S2 (isinya memberikan pemaparan tentang kualitas akademik kita dan bagaimana potensi kita untuk bisa sukses di perkuliahan). Dan yang ketiga surat dari orang lain yang sekiranya bisa menguatkan dan memberikan penjelasan bahwa kita adalah kandidat yang tepat. Orang ini bisa saja dosen pembimbing skripsi atau tesis kita dulu waktu S1 atau S2. Karena kita akan kuliah di negara asing yang segalanya berbeda, pastikan surat rekomendasi memuat bagaimana kesiapan kita untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dan sukses selama perkuliahan. Contoh Surat Rekomendasi bisa dilihat DISINI dan DISINI. Tips-tips menulis Surat Rekomendasi bisa dilihat DISINI. Kembali, silahkan manfaatkan Mr. Google untuk mempelajarinya.
  5. Khusus untuk pelamar S3, kampus mensyaratkan agar kita melampirkan contoh bukti kemampuan menulis. Dokumen yang diminta biasanya makalah atau laporan penelitian. Hal ini berguna untuk membuktikan bahwa kita memiliki kemampuan dasar menulis akademik yang memadai.
  6. Curriculum Vitae dan Bukti Keuangan (Opsional – ada kampus yang meminta ada juga yang tidak). Untuk CV atau Resume kalau di Amerika Serikat, tulislah format CV atau Resume yang sesuai untuk tujuan akademik. Contoh CV/Resume untuk ke Amerika Serikat bisa dilihat DISINI dan DISINI; contoh CV untuk ke UK/Australia/Eropa, bisa dilihat DISINI dan DISINI.

Keputusan apakah seseorang akan diterima atau ditolak bersifat komprehensif. Artinya, jika salah satu syarat di atas kurang memadai, misalnya IPK kurang, tidak serta merta akan membuat kita gugur, akan tetapi kita harus menutupi kekurangan IPK itu dengan kehebatan pada bidang lain, misalnya nilai kemampuan bahasa kita sangat tinggi, contoh kemampuan menulis yang baik, atau Personal Statement dan Surat Rekomendasi yang meyakinkan.

Syaripudin, Usep - Graduate School Utilities-page-001

Contoh LoA dari Penn State

Satu hal lain yang wajib diperhatikan adalah tanggal-tanggal penting. Untuk kampus-kampus besar di Amerika Serikat, misalnya, penutupan pendaftaran untuk S3 biasanya dilakukan enam bulan sebelum perkuliahan dimulai. Misalnya, untuk mulai kuliah Agustus 2016, maka pendaftaran akan ditutup pada akhir Desember 2015, bahkan bisa jadi lebih awal. Jadi, perhatikan tanggal-tanggal penting ini dengan baik.

Menghubungi Professor 

Photo by: lsatfreedom.com

Photo by: lsatfreedom.com

Setelah memilih kampus mana yang akan dituju dan mempelajari persyaratan untuk mendaftar ke kampus itu, serta yakin mampu memenuhi persyaratan itu, maka langkah selanjutnya adalah proses aplikasi dengan tujuan memperoleh LoA. Berikut adalah langkah-langkahnya:

Menyeleksi profesor yang akan kita tawari menjadi Academic and Research Advisor kita selama studi. Caranya, kunjungi website jurusan atau program studi pada universitas yang kita tuju. Cari daftar nama dosen. Biasanya di website tersebut suka ada menu bernama Faculty and Staff, People, atau Directory. Jika di-klik, menu itu akan membawa kita pada daftar nama dosen, lengkap dengan photonya, alamat email, dan alamat kantor. Jika nama salah satu dosen di-klik, maka akan muncul CV dosen yang bersangkutan. Disitu, akan nampak informasi tentang latar belakang pendidikan, publikasi, mengajar mata kuliah apa saja, dan yang paling penting, bidang risetnya apa. Pastikan kita memilih dosen yang memiliki bidang riset sesuai dengan rencana studi kita. Cara lain untuk mengetahui bidang riset dosen adalah dengan memperhatikan daftar publikasinya. Lihat dengan seksama topik riset yang biasa dia lakukan pada bidang apa saja.

Berdasarkan pengalaman saya, sebaiknya tidak menghubungi satu dosen di satu universitas saja. Tapi, hubungi banyak dosen di banyak universitas yang kita tuju. Yang saya lakukan adalah email bombing. Tapi harus hati-hati, ketika copy-paste email, jangan sampai kirim email ke dosen berbeda di kampus berbeda, tapi nama kampusnya belum di-edit … saya pernah seperti itu dan Alhamdulilah tidak pernah dibalas oleh dosen itu .. 😀 Saya pernah menghubungi lebih dari 30 profesor di Australia, Inggris, New Zealand, dan US.

Ketika menghubungi profesor, yang saya lakukan adalah memperkenalkan diri secara singkat, serta menyebutkan latar belakang pendidikan, dan pengalaman profesional saya. Saya melakukan ini di lima kalimat pembuka di email yang saya kirimkan ke Profesor tersebut. Kemudian, saya sampaikan bahwa saya tertarik untuk melanjutkan studi di kampus tersebut dan menyebutkan alasannya. Sedikit lebay memuji-muji kampus tersebut tidak apa-apa. Lebay tapi tidak mengada-ngada, artinya, pujian yang kita berikan memang sesuai dengan informasi yang kita pelajari tentang kampus tersebut. Kemudian saya sampaikan bahwa setelah mempelajari Curriculum Vitae dia, saya yakin bahwa dia adalah Professor yang tepat untuk menjadi Advisor/Supervisor saya. Kembali, saya sampaikan pujian-pujian atas kehebatan dan reputasi dia.

Jika kita males mengunjungi satu per satu CV Profesor yang ada di kampus yang kita tuju, maka kita bisa gunakan cara lain, yakni dengan menghubungi ketua jurusan atau kordinator program studi. Saya juga melakukan cara ini, dan menyampaikan hal yang sama seperti yang saya sampaikan ke Profesor yang sata tuju. Nantinya, email kita akan disebarkan ke profesor-profesor lain. Saya pernah melakukan ini ketika saya mencari Profesor potensial untuk mendaftar ke University of Southern Australia dan University of Auckland, New Zealand. Hasilnya, ada dua orang profesor dari kedua kampus tersebut yang menghubungi saya.

Ketika menghubungi Profesor via email, jangan lupa lampirkan CV dan rencana penelitian. Bentuknya rencana penelitiannya tidak perlu spesifik seperti halnya sebuah proposal, walaupun dalam bentuk proposal tentu saja lebih baik. Yang saya lakukan dulu hanya melampirkan tiga halaman dokumen yang isinya hanya berupa topik dan rencana riset. Sebagai contoh, silahkan baca Panduan Proposal Penelitian untuk S3 ke Luar Negeri yang disusun oleh Pak Made Arsana (Dosen UGM, peraih beasiswa Australia dan PhD di Univ. of Wollongong) – silahkan klik tautannya.

Kira-kira seperti apa respon dari dosen-dosen itu? Jangan kaget jika memperoleh respon yang tegas, saklek, dan to the point, karena memang itu gaya berbahasa sesuai budaya mereka. Secara umum, saya memperoleh empat jenis respon dari profesor-profesor yang saya hubungi. 1) Ada profesor yang langsung mengatakan “Maaf, saya tidak tertarik dengan rencana riset anda”; 2) Ada profesor yang menyatakan, “Saya tertarik tapi untuk dua tahun ke depan, saya sudah penuh, tidak lagi bisa menerima mahasiswa baru”, salah satu yang memberi jawaban ini adalah seorang profesor di Stanford University; 3) Ada yang bilang, “Saya tertarik dengan anda, silahkan proses pendaftaran kuliahnya”; dan 4) Ada profesor yang bilang, “Saya tertarik dengan anda, apakaha anda siap untuk diwawancara?”

Jawaban kategori tiga dan empat yang kita cari. Jika memperoleh jawaban kategori tiga, artinya dia tertarik dan tidak merasa perlu melakukan follow-up, sehingga dia menyuruh kita langsung melakukan proses pendaftaran kuliah. Tapi, pernyataan tertarik ini tidak menjamin kampus akan memberikan LoA jika kita tidak mampu memenuhi persyaratan untuk dapat diterima di kampus tersebut. Jika jawaban nomor empat yang diperoleh, maka kita harus siap-siap diwawancara oleh profesor tersebut, biasanya melalui Skype. Saya pernah diwawancara oleh profesor dari University of Sheffield dan Univeristy of Southampton di UK dan Univeristy of Rochester di NY, USA. Wawancaranya berlangsung antara 30 sampai 40 menit. Adapun hal-hal yang ditanyakan lebih menekankan pada topik riset dan isu-isu terkait dengan disiplin ilmu kita. Pastikan kita juga harus mempersiapkan pertanyaan untuk profesor yang bersangkutan. Misalnya, tanyakan tentang peluang Asistensi atau Co-teaching, joint research, dan co-authorship buku atau jurnal. Jika ada profesor yang sampai menyatakan tertarik hingga ingin mewawancarai kita, ini tanda yang baik. Karena, meski tetap tidak menjamin akan terbitnya LoA, namun si Profesor itu bisa jadi faktor penguat ketika salah satu syarat pendaftaran kita ada yang kurang.

Penting untuk diperhatikan bahwa, meski ada profesor yang tertarik dengan kita, belum tentu kampus akan memberikan kita LoA jika kita tidak memenuhi syarat-syarat yang ditentukan untuk bisa diterima di kampus tersebut. Lihat kembali apa saja syarat mendaftar kuliah ke universitas di Luar Negeri seperti yang saya uraikan di atas.

University of Sheffield Offer September 2015-page-001

Setelah memperoleh kepastian ada profesor yang tertarik, maka langkah selanjutnya adalah melakukan proses pendaftaran kuliah. Biasanya dilakukan secara online, dan tiap kampus memiliki platform online masing-masing. Proses aplikasi online tersebut sangat mudah karena dilengkapi dengan panduan yang sangat jelas. Tidak semua kampus mensyaratkan biaya pendaftaran. Tapi kalau di US, rata-rata mensyaratkan biaya pendaftaran. Setelah semua dokumen diajukan, maka langkah selanjutnya adalah Berdo’a dan berharap mudah-mudahan aplikasi kita diterima. Ada tiga kemungkinan hasil yang kampus berikan: kampus memberikan LoA Unconditional-tanpa syarat (resmi menerima kita sebagai mahasiswa baru), memberikan LoA Conditional-bersyarat (Menerima kita sebagai calon mahasiswa dan harus melengkapi kekurangan persyaratan untuk menjadi mahasiswa), dan penolakan. Biasanya, butuh waktu sekitar 1-2 bulan sejak Deadline batas akhir pendaftaran ditutup untuk memproleh keputusan apakah kita akan diterima atau ditolak.

Waktu paling ideal untuk mempersiapkan diri mendaftar kuliah ke luar negeri adalah minimal satu tahun.

 

Pemaparan proses memperoleh LoA ini berdasarkan pengalaman pribadi saya selama proses mencari kampus untuk studi S3 saya. Pengalaman setiap orang dalam berburu LoA ini berbeda-beda tergantung bidang keilmuan dan negara tujuan studi. Bisa jadi, orang lain memiliki pengalaman dan prosedur berbeda.

Selama tiga tahun berburu LoA, Alhamdulilah saya berhasil memperoleh Unconditional LoA dari University of Melbourne, University of Southern Australia, University of Auckland, University of Sheffield, University of Southampton, University of Rochester, Ohio State University, Pennsylvania State University, dan satu Conditional LoA dari Harvard. Tapi, sepertinya rejeki dan jalan hidup saya menggariskan untuk memilih Pennsylvania State University, USA, sebagai tempat menuntut ilmu.

Selamat berburu, tetap penuh semangat!

Disclaimer:

THIS BLOG claims no credit for any images posted on this site unless otherwise noted. Images on this blog are copyright to its respectful owners. If there is an image appearing on this blog that belongs to you and do not wish for it appear on this site, please E-mail with a link to said image and it will be promptly removed.

 

 

 

 

 

Advertisements

14 Comments

  1. Leffi says:

    its very helpful, Sir. Thank You.

    Liked by 1 person

  2. Wayan Suana says:

    fullbright vs LPDP mana yang peluang diterimanya lebih besar pak?

    Liked by 1 person

    • usepsyarip says:

      Kalau dilihat dari jumlah peserta yang diterima per tahunnya, LPDP memberikan peluang lebih besar tentunya. Namun, baik LPDP, Fulbright atau beasiswa manapun, pastikan kita penuhi semua syarat administrasinya. Kan pada saat wawancara itu adalah saat terbaik kita menunjukan kepada penyeleksi bahwa kita kandidat yang sangat layak, hanya, kalau syarat administrasinya tidak lolos, bagaimana mungkin bisa dipanggil wawancara. Jadi, pastikan lolos tahap administrasi dullu.

      Like

  3. todi says:

    Izin bookmark and share..terimakasih

    Like

  4. yolanda says:

    assalamualaikum…nuhun mas…apakah semua langkah2 ini untuk kita mendapatkan beasiswa lgsg dari kampus yg di tuju..atau langkah2 ini jg berlaku ketika kita ingin memperoleh beasiswa semisal beaasiswa dr LPDP…..terlepas dari itu..tulisan ini sangat membantu sekali.terimakasih,

    Like

    • usepsyarip says:

      Salam. Yang saya uraikan adalah proses mendaftar kuliah baik untuk biaya sendiri maupoun beasiswa. Jika kita tertarik untuk memperoleh beasiswa dari kampus yang dituju, biasanya kampus akan meminta kita untuk mengisi form aplikasi tambahan selain aplikasi kuliah; atau ada juga kampus yang menyediakan bagian pada formulir aplikasi kuliah yang menanyakan dengan cara apa kita akan membayar biaya kuliah: apakah biaya pribadi, beasiswa dari kampus, ataua beasiswa dari lembaga lain. Tiap kampus memiliki mekanisme dan aturan berbeda mengenai beasiswa. Silahkan tanyakan langsung ke kampus yang dituju.
      Artikel ini sangat bagus untuk dibaca sebagai tips untuk memperoleh beasiswa:
      http://edukasi.kompas.com/read/2016/01/12/07210071/Mau.Mendapat.Beasiswa.Buatlah.Potret.Diri.Anda.yang.Charming.
      Good Luck

      Like

  5. messal says:

    utk mendaftar S2 perlu membuat proposal penelitian juga Pak?

    Like

    • usepsyarip says:

      Tergantung programnya; kalau S2-nya non-research, tidak perlu proposal; tapi kalau S2-nya by research, mungkin harus nulis proposal juga. Akan tetapi, kembali ke kebijakan kampus masing-masing. Jadi, pelajari persyaratan pendaftaran yang diuraikan oleh kampus yang dituju.

      Like

  6. schlrshphunter says:

    thanks for sharing your experience, sir. Saya jadi termotivasi untuk lajut kuliah master di USA, kebetulan saya awardee dikti scholarship di thailand. Insya allah tahun depan saya akan mencoba apply. Ijin bookmark, sir. 🙂

    Liked by 1 person

  7. randy says:

    Untuk mendapatkan minimal LOA conditional dari universitas Amerika apakah harus menyertakan tes GRE terlebih dahulu atau tergantung kampus. ? Terima kasih

    Like

    • usepsyarip says:

      Hampir semua kampus di Amerika mensyaratkan GRE. Tapi ada juga yang tidak mensyaratkan, tergantung jurusannya. Contohnya, Univ. of Rochester, NY, tidak mensyaratkan GRE untuk School of Education. Sekarang malah mulai banyak kampus yang menghapus GRE untuk admision ke program Master, tapi masih mensyaratkan GRE untuk program Doktor. Untuk lebih jelasnya, mungkin bisa ditanyakan langsung ke kampus yang dituju.

      Like

  8. […] S1 dan S2 saya melalui beaiswa. Saya memiliki pengalaman mendalam tentang ini. Silahkan telusuri blog saya ini. Anda akan menemukan informasi tentang bagaimana mencari LoA Disini. […]

    Like

  9. riowatuwaya says:

    Nice story with deep information. I like the part in letter of offer and letter of acceptance is actually identical, that’s finished my 28 days of searching an answer. Thank you.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: