Mang Usep Ngalalana

Home » Nyakola-Academia » Tiga Hal yang Hilang dalam Pendidikan Guru di Indonesia

Tiga Hal yang Hilang dalam Pendidikan Guru di Indonesia

stock-vector-vector-education-school-university-e-learning-concept-with-computer-245339470Tulisan ini merupakan refleksi dari salah satu topik diskusi pada mata kuliah Designing Staff Development Program yang saya ambil semester ini. Bahasan utama mata kuliah tersebut adalah bagaimana membangun sebuah Professional Development Program yang mendorong guru untuk selalu belajar untuk meningkatkan kemampuan baik personal maupun profesional sehingga berdampak pada meningkatnya kualitas proses belajar mengajar.  Tujuan utamanya tentu saja meningkatkan hasil prestasi belajar siswa. Untuk selalu meningkatkan kemampuan diri, guru harus menyeimbangkan antara dua kewaiban, yakni mengajar dan belajar.  Cara terbaik untuk belajar adalah mengajar, dengan catatan, setiap tindakan dan pengalaman dalam mengajar dijadikan bahan refleksi, “ber-tafakur“, mengukur apa yang sudah berjalan dengan baik, apa yang belum berjalan dengan baik, kenapa, dan bagaimana selanjutnya.  Usaha untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini merupakan sebuah proses belajar yang dilakukan oleh guru. Proses ini dinamakan Inquiry atau disebut dengan istilah lain sebagai Teaching as Inquiry. Lebih detil tentang Inquiry ini akan saya bahas pada postingan yang lain.

Selama ini selalu ada keluhan bahwa guru itu males belajar. Saya yakin, sebenarnya mereka itu ingin belajar, meski ada saja oknum yang tidak mau belajar pastinya. Hanya saja, guru seakan skeptis terhadap program pengembangan profesi yang selama ini dijalankan pemerintah, baik pusat maupun daerah.  Saya menduga, baru dugaan, karena belum pernah melakukan riset tentang ini, sumber dari sikap skeptis ini ada dua, yakni: pertama, mereka tidak merasakan secara langsung apa manfaat dari kegiatan pengembangan profesi itu; dan kedua, ada pameo mengatakan bahwa “Ah, seburuk apapun kualitas mengajar, guru mah tidak akan dipecat.” Anggapan seperti ini lumrah dikalangan guru PNS. Saya yakin sebenarnya manusia itu adalah makhluk pembelajar. Mereka butuh keterampilan baru dan bangga dengan keterampilan baru tersebut. Jadi, yang harus dilakukan adalah bagaimana memfasilitasi agar mereka terus belajar.

Di mata kuliah ini, saya dan rekan-rekan sekelas, dipandu oleh dosen, mendiskusikan berbagai program pengembangan profesi yang dilakukan di berbagai negara. Kami membaca setidaknya lima puluh artikel dari berbagai jurnal tentang pengembangan profesi guru. Dari semua rujukan yang saya baca dan diskusikan di kelas, saya menemukan bahwa ada tiga karakteristik utama program pengembangan profesi yang efektif, yakni: kontekstual, berkesinambungan, dan komunitas belajar. Tiga hal ini yang menurut saya tidak terdapat dalam program pengembangan profesi dan pendidikan guru di Indonesia.

Kontekstual: maksudnya adalah bahwa program pengembangan profesi dan pendidikan guru disesuaikan dengan apa yang guru butuhkan. Jika harus menyebutkan satu lingkungan di masyarakat dengan dinamika yang sangat tinggi, maka saya akan menyebut ruang kelas di sekolah sebagai salah satunya. Kenapa demikian? Ada setidaknya tigapuluh sampau empat puluh siswa dalam satu kelas, ditambah satu orang guru. Mereka berasal dari beragam latar belakang keluarga, suku, dan tingkat ekonomi. Mereka datang ke kelas dengan membawa motivasi masing-masing; dengan emosi yang beragam. Ini baru di satu kelas; bagaimana dengan satu sekolah, atau sekolah di satu wilayah. Tiap guru memiliki masalah masing-masing; sehingga, kebutuhan belajar mereka pun beragam. Selama ini, program pengembangan profesi dan pendidikan guru seperti menerapkan model Pukul Rata, guru diundang ke sebuah Diklat, kemudian disuruh menyimak ceramah tentang berbagai topik tanpa mempertimbangkan kebutuhan masing-masing guru. Guru butuh keterampilan dan kemampuan baru yang bisa langsung mereka terapkan untuk menangani masalah keseharian yang mereka temui di kelas. Dengan kata lain, yang guru butuhkan adalah kemampuan dan keterampilan praktis, bukan hanya konseptual. Oleh karena itu, model pelatihan berbentuk Diklat atau Training sudah banyak ditinggalkan di negara-negara dengan sistem pendidikan yang maju.

Berkesinambungan: program pengembangan profesi dan pedidikan guru bukan sebuah program One-shot-done, sekali dilakukan terus selesai. Berbagai literatur tentang pendidikan guru menyebutkan bahwa  program pengembangan profesi itu harus dilakukan terus menerus. Kenapa demikian? Karena untuk mendorong para guru selalu belajar, merubah cara mereka mengajar dan belajar, tidak bisa hanya melalui ditunjukan atau diajarkan melalui Diklat, melainkan harus dibimbing. Dosen saya berkata bahwa, “Teacher educators need to talk with teachers, walk with them, learn with them, and take a deep breath with them.” Selama ini yang terjadi di Indonesia seakan-akan seperti ini: “Guru diundang ke sebuah Dilat; diajarin, ditunjukin, diomongin, tentang metode mengajar yan baru, bahan ajar yang baru, atau hal-hal aktual lainnya. Setelah Diklat selesai, maka guru akan disuruh pulang, dan instruktur berkata Selamat jalan yah, terima kasih sudah ikut Diklat, diterapkan yah ilmunya, tahun depan kami akan uji lagi kompetensinya. Dan guru pun kemudian dibiarkan sendiri menerapkan ilmu baru yang mereka peroleh itu. Pembimbingan dan pendampingan ini penting, bukan hanya untuk membantu guru menerapkan hasil pelatihan, tapi juga untuk memastikan mereka menerapkan itu. Sehingga ada semacam rasa diawasi dalam diri mereka.

Lalu, bagaimana solusinya? Memaksimalkan MGMP merupakan salah satu solusi untuk pengembangan profesi guru. Tentunya, bukan model MGMP yang selama ini dijalankan. Rubah model MGMP-nya menjadi fokus ke MGMP ditingkat sekolah. Selama ini, MGMP dilaksanakan dengan sangat formal. Biasanya guru dari berbagai sekolah di satu wilayah dikelompokan dalam satu MGMP. Kemudian mereka memilih kordinator dan pengurus MGMP tersebut dan menyusun jadwal pertemuan dan program kegiatan. Kendala yang sering muncul adalah sulitnya menemukan jadwal yang sesuai dengan kondisi semua guru; dan karena melibatkan banyak guru, yang ada kegiatannya akan seperti Diklat lagi dan dengan biaya yang lebih besar.

Maka dari itu, fokus MGMP-nya harus ditingkat sekolah. Biarkan guru bekerja dalam satu kelompok di sekolah masing-masing; menyusun RPP, bahan ajar, strategi mengajar dan sebagainya. Siapa yang akan membimbing dan mendampingi mereka? Pengawas atau supervisor adalah orang yang bertanggungjawab untuk membimbing mereka. Namun sayangnya, hubungan antara guru dengan pengawas sudah kadung seperti boss dengan bawahan. Don’t mess up with me unless you will sorry for the rest of your life, begitu kira-kira kata supervisor. Oleh karena itu, maksimalkan program kemitraan dengan perguruan tinggi. Dosen di kampus keguruan harus menjadi pembimbing dan pendamping para guru.  Di kelompok MGMP itu, dosen bisa berperan sebagai mentor, tutor, coach, atau mitra belajar dan meneliti. Atau bahkan sekedar teman untuk curhat. Saya membayangkan, jika di satu kampus keguruan ada seratus orang dosen; dan masing-masing memiliki satu kelompok MGMP di sekolah, maka akan ada seratus kelompok pembimbingan dan pendampingan. Jika kemudian mereka ini saling berbagi dan bertukar program kegiatan, maka akan tercipta sebuah jejaring pembelajar yang sangat luar biasa. Yang pada akhirnya, akan menumbuhkan dan membangun sebuah komunitas belajar, syarat ketiga dari program pengembangan guru yang efektif.

Berbagai contoh model pengembangan guru yang efektif akan saya bahas pada postingan-postingan berikutnya.

Terima kasih.

Disclaimer:

THIS BLOG claims no credit for any images posted on this site unless otherwise noted. Images on this blog are copyright to its respectful owners. If there is an image appearing on this blog that belongs to you and do not wish for it appear on this site, please E-mail with a link to said image and it will be promptly removed.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: