Mang Usep Ngalalana

Home » Nyakola-Academia » Praxis: Proses dimana Guru dan Dosen Saling Menguatkan

Praxis: Proses dimana Guru dan Dosen Saling Menguatkan

stock-photo-16295986-ivory-tower-of-fatehpur-sikriDi suatu masa, terdapat dua kerajaan dimana hiduplah dua orang puteri yang cantic dan cerdas bernama Thea dan Laticia.  Mereka masing-masing tinggal di sebuah Menara Gading yang indah.  Setiap hari, para petani selalu datang menemui puteri tersebut untuk mendengarkan pituah tentang bagaimana bercocok tanam. Kedua puteri tersebut sangat pandai akan pengetahuan bercocok tanam seperti tentang hama, kualitas tanah, ataupun cuaca.

Thea dan Laticia secara rutin menghadiri berbagai pertemuan di lingkungan kerajaan dengan tujuan untuk terus memperbaharui pengetahuannya. Namun, mereka sering merasa bahwa semua pertemuan tersebut hanyalah kegiatan rutin yang tak memiliki dampak signifikan terhadap pengetahuan mereka.  Mereka ingin kembali kotor dengan tanah.

Suatu hari, Thea dan sang pangeran tampan kekasihnya, berkunjung ke sebuah desa.  Namun, dia tak mampu menemukan istana yang bisa memberikannya kesempatan untuk kembali ke tanah pertanian.  Thea ditawari pekerjaan sebagai penasihat pertanian, namun dia merasa tidak puas hanya dengan menjadi pembicara saja.  Maka, akhirnya dia pun memutuskan untuk pergi kembali ke lading.

Di kerajaan lain, Raja memberikan memberikan kesempatan kepada Laticia untuk kembali ke lading. Dan Laticia dengan gembira melakukannya.  Dia kembali bergulat dengan tanah dan tanaman.  Pada sebuah acara pertemuan tahunan, Thea dan Laticia bertemu dan saling berbagi cerita tentang pengalaman kembali ke ladang dan berjanji akan berbagi rencana kerja selanjutnya.  Mereka kemudian sepakat untuk saling bertukar surat dan jurnal yang memuat gambar tentang pekerjaan mereka.

Di ladang, Thea dan Laticia melakukan ujicoba cara-cara baru dalam bercocok tanam,  kembali mengasah keterampilan dasar berladang yang lama tidak pernah terasah, dan menemukan kembali energy dan antusiasme dalam membantu para petani. Bekerja di ladang, bagi kedua puteri tersebut, tentu saja bukan hal yang mudah.  Pekerjaan tersebut membutuhkan kondisi fisik yang baik, merusak keindahan tangan mereka, membuat kering kulit lembut mereka, mengganggu kemolekan kaki mereka dan mengotori pakaian indah mereka. Namun, kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan bercocok tanam menjadi penyemangat utama mereka.

Kemudian, kedua puteri tersebut kembali ke Menara Gading nan Indah mereka. Namun, kali ini, mereka kembali dengan perasaan yang berbeda; mereka merasa lebih segar, merasa terbarukan pengetahuan dan keterampilannya.  Kemudian, mereka menggunakan ketermapilan dan pengetahuan baru tersebut untuk meningkatkan kemampuan bercoock tanam para petani.  Hingga kemudian, Raja memerintahkan agar semua puteri untuk tidak hanya diam di Menara gading nan indah.  Melainkan turun ke lapangan untuk belajar bersama rakyat.

Cerita di atas disarikan dan diterjemahkan dari Artikel berjudul Synthesizing Theory and Practice: Praxis for Professor, yang ditulis oleh Patricia H. Helps dan Patricia M. Ryan, dan terbit di Thought & Action: The NEA Higher Education Journal, hal.  121-128. Jurnal tersebut dapat diakses pada tautan ini: JURNAL 

Cerita di atas merupakan sebuah analogi dimana kedua puteri tersebut merupakan pencitraan dari seorang dosen Lembaga Pendidikan Keguruan yang tinggal di Menara Gading yang mewah, yakni kampus, dan para petani yang tiap hari menemui mereka untuk memperoleh petuah adalah para guru yang bekerja di ladang bernama sekolah.

Diakui atau tidak, masih ada semacam “jurang” pemisah yang membedakan kasta antara guru dan dosen. Dosen seakan digambarkan sebagai figur yang memiliki ilmu lebih banyak dari guru. Sehingga, dalam banyak kesempatan, seperti dalam kegiatan pelatihan, dosen selalu menjadi yang paling depan; berdiri di depan para guru, menjadi pemateri. Singkat kata, guru harus selalu belajar dari dosen.  Jika memang “norma”-nya seperti itu, maka seharusnya dosen menjadi pihak yang lebih tahu banyak hal dibanding guru.

Akan tetapi, sering, materi pelatihan yang dosen sampaikan dalam kegiatan pelatihan tidak sesuai dengan apa yang guru butuhkan di kelas.  Lebih parah lagi, cara penyampaian materi yang dosen lakukan juga kurang memadai. Dua jam berbicara dan menyampaikan materi berdasarkan tayangan Video dan Power Point kemudian ditutup dengan diskusi tidak akan memberikan hasil maksimal.

Bagaimana caranya agar materi pelatihan yang dosen sampaikan ke guru sesuai dengan kebutuhan guru di sekolah? Lakukan seperti apa yang kedua puteri dalam cerita di atas lakukan. Turun ke ladang, ke sekolah, berkotor-kotor ria dengan petani(guru) di ladang(sekolah). Menurut Paulo Freire, proses ini disebut dengan Praxis, yang bertujuan untuk menyelaraskan teori dengan praktik. Melalui praxis, teori dan praktik dihubungkan sehingga muncul sebuah hubungan yang dialectical, yakni hubungan dimana teori meningkatkan kualitas praktik dan praktik membantu menyempurnakan teori; dan seperti itu seterusnya. Hubungan dialectical ini sangat penting guna meningkatkan kualitas praktik yang berbasis teori.  Karena menurut psikologi materialis-nya Vygotsky, kebenaran terbaik dari sebuah teori hanya bisa dibuktikan di lingkup yang nyata.  Kebenaran terbaik dari sebuah teori pengajaran tidak bisa hanya dibuktikan di laboratroium Microteaching atau melalui penelitian eksperimental yang dosen lakukan di kampus; melainkan, hanya bisa dibuktikan di ruang-ruang kelas di sekolah.

Dengan turun ke ladang(sekolah), bekerja dengan guru, dosen  pada hakikatnya sedang melakukan sebuah kegiatan Praxis, dimana mereka memunculkan teori di kampus, kemudian mencari pembuktian terbaik dari teori tersebut di sekolah. Hasil pembuktian di sekolah kemudian dibawa kembali ke kampus untuk ditelaah dan dimunculkanlah teori baru untuk dibuktikan kembali di sekolah; dan seperti itu seterusnya.

Dosen dan guru akan memperoleh manfaat dari proses Praxis ini. Dosen akan semakin memperkuat program pembelajaran mereka dengan informasi yang diperoleh dari lapangan di sekolah; sehingga tak melulu hanya mengandalkan teori.  Sehingga, pembelajaran yang dosen sampaikan kepada mahasiswa lebih Contextualized, sesuai dengan realita yang terjadi di sekolah.  Bagi guru, proses Praxis ini membantu meningkatkan kualitas pembelajaran berdasarkan teori-teori terkini yang diinformasikan oleh dosen.  Intinya, proses Praxis ini akan membantu terbentuknya learning community, salah satu syarat peningkatan kualitas pendidikan di kedua belah pihak. Pada akhirnya, terjadi penguatan di kedua belah pihak.

Disclaimer:

THIS BLOG claims no credit for any images posted on this site unless otherwise noted. Images on this blog are copyright to its respectful owners. If there is an image appearing on this blog that belongs to you and do not wish for it appear on this site, please E-mail with a link to said image and it will be promptly removed.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: