Mang Usep Ngalalana

Home » Hirup-Hurip » Restu Ibuku dan Beasiswaku

Restu Ibuku dan Beasiswaku

stock-illustration-22573433-motherhood“Aing mah rek kapok sakola teh engke mun geus lulus S3” (Saya mah akan kapok sekolah nanti setelah lulus S3). Iya, saya juga sama, saya hanya akan kapok sekolah setelah selesai S3 saya. Kapok sekolah lokh, bukan kapok belajar. Sekolah ada batasnya, SD sampai S3, sedangkan belajar itu dari sejak lahir hingga masuk ke liang lahat. Namun, karena sekolah itu butuh biaya yang tidak sedikit, maka satu-satunya jalan bagi saya adalah melamar beasiswa.  Setelah menyelesaikan program S2 saya di Arkansas pada tahun 2011, rencana saya adalah menikah terus kemudian melanjutkana sekolah S3 melalui beasiswa.

Sejak tahun 2012, setelah menikah, saya kembali aktif kembali mendaftarkan diri dan mengikuti ke berbagai program beasiswa dari mulai Australia Scholarship, Fulbright, dan LPDP, bahkan saya juga mencoba melalui jalur Assistantship yang banyak ditawarkan di kampus-kampus di luar negeri.  Namun sayang, semuanya berakhir dengan kegagalan. Hingga pada Agustus 2013, saya mengikuti seleksi beasiswa Fulbright dan Alhamdulilah, berhasil lolos seleksi dan dijadwalkan berangkat pada Agustus 2014.  Namun, karena status saya saat itu sudah menjadi dosen yang memiliki NIDN (Nomor Induk Dosen Nasional), mereka memasukan saya ke dalam kategori beasiswa Fulbright Dikti.  Karena ada kaitannya dengan NIDN, artinya, saya harus memperoleh ijin dan klairifkasi dari Direktoran Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) untuk bisa mengikuti beasiswa tersebut.

Dan disinilah semua masalah bermula. Agustus 2012, saya memutuskan untuk pindah kerja dari Uninus, Bandung, ke Unswagati, Cirebon.  Berhubung saya sudah memiliki NIDN dan saat itu yang mengurus proses NIDN saya adalah Uninus, maka di database Dikti, nama saya masih tercatat sebagai dosen di Uninus. Sementara itu, ketika mendaftar beasiswa, saya sudah berstatus dosen tetap Unswagati dan mendaftar beasiswa berbekal surat rekomendasi dari Unswagati.  Sebenarnya, saya sudah mengurus perpindahan NIDN saya ke Dikti sejak Januari 2012, jauh sebelum saya mendaftar beasiswa ke Fulbright.  Namun entah apa ganjalannya, NIDN tersebut tidak kunjung bisa dialihkan ke Unswagati. Fulbright memberi saya waktu hingga minggu pertama Januari 2014 untuk menyelesaikan urusan NIDN tersebut, jika tidak, maka beasiswa batal. Lebih dari lima kali saya datangi Dikti di Jakarta untuk menyelesaikan masalah NIDN ini, entah berapa dana yang sudah saya keluarkan, belum lagi tenaga dan pikiran. Namun, akhirnya saya harus menyerah. Hingga pada minggu pertama Januari 2014, Fulbright mengirim saya email pemberitahuan bahwa beasiswa saya dibatalkan.

Sedih, kecewa, marah, bercampuraduk saat itu. Saya harus kehilangan kesempatan sekolah S3 yang sangat saya impikan hanya gara-gara urusan administrasi. Kalau gagal karena saya memang tidak layak secara kualifikasi, mungkin saya tidak akan terlalu sakit, tapi ini gagal karena urusan sesepele administrasi di Dikti.  Selain itu, saya juga merasa malu sama pihak kampus, rekan kerja sesama dosen, dan mahasiswa di Unswagati. Mereka semua tahu bahwa saya lolos seleksi beasiswa Fulbright dan akan kembali ke Amerika untuk S3.

Saat itu, saya masih ingat, saya sedang mengawas UAS ketika menerima pemberitahuan pembatalan beasiswa dari Fulbright. Hal pertama yang saya lakukan setelah menerima kabar itu adalah menghubungi Ibu saya di Bogor. Saya ingin sekali curhat sama beliau. Saya tidak mungkin menghubungi isteri saya yang sedang di Amerika, karena ada perbedaan waktu saat itu. Dalam percakapan di telepon dengan Ibu, saya menceritakan semua kekesalan saya.  Ibu hanya menasihati saya untuk bersabar karena ini mungkin bukan rejeki dan Tuhan memiliki rencana lain. Selain itu, terdengar sangat ragu-ragu sekali, Ibu menyampaikan sesuatu yang menghentak saya.  Beliau berbicara dalam Bahasa Sunda, kurang lebih artinya seperti ini, “Nak, Ibu sebenarnya ada yang ingin disampaikan. Sudah tiga tahun ini, Ibu didiagnosa ada tumor dalam rahim Ibu. Sekarang sudah makin membesar. Sakit sekali kalau sedang ruku atau sujud ketika sholat. Ibu ingin dioperasi.” 

Mendengar kabar tersebut, saya spontan berucap Istighfar sekaligus bersyukur. Saya istighfar memohon ampun kepada Tuhan bahwa ternyata mungkin ini yang menjadi penyebab begitu sulitnya urusan yang saya jalani. Tuhan sengaja “melarang” saya untuk berangkat sekolah supaya saya bisa mengurus Ibu saya yang sedang sakit.  Rasa kecewa, sedih, dan kesal, gara-gara gagal memperoleh beasiswa seketika sirna, tergantikan oleh rasa bersalah; hingga kemudian saya membulatkan tekad untuk memfokuskan usaha saya untuk menyembuhkan Ibu.  Dan Alhamdulilah, sekitar Maret 2014, Ibu saya menjalani operasi di RSUD Cianjur. Tumornya sudah sangat besar. Bahkan, kata dokter yang mengoperasi beliau, ini rekor tumor terbesar yang pernah dioperasi di RSUD tersebut.

Dan setelah Ibu saya sembuh, Tuhan menunjukan kemahahebatanNya.  Saya yang tadinya sudah menyerah, masa bodoh dengan urusan perpindahan NIDN, bahkan sudah berdisksui dengan isteri untuk mencari pekerjaan lain, karena tanpa NIDN, bisa dikatakan seorang dosen tidak akan memiliki karir, memperoleh kabar dari Unswagati bahwa NIDN saya sudah pindah ke Unswagati, Alhamdulillah. Saya tanya ke bagian kepegawaian Unswagati siapa yang mengurus perpindahan tersebut, mereka menjawab tidak ada. Surat pemberitahuan datang begitu saja dari Dikti bahwa NIDN saya sudah pindah ke Unswagati.  Saya kemudian ceritakan semuanya ke Ibu saya, dan beliau berkata, “Nak, silahkan kalau mau mendaftar beasiswa kuliah lagi mah, Ibu Ridho, tapi kemana pun kamu pergi, bawa serta selalu isteri kamu.”

Anak mana yang tidak akan bergelora semangat hidupnya ketika meperoleh Ridho dari Ibu. Juni 2014, saya kembali mendaftar beasiswa ke LPDP, ini yang kedua kalinya setelah yang pertama gagal. Alhamdulilah, Agustus 2015, saya sudah kembali ke Amerika Serikat untuk menjalani kuliah S3 di Pennsylvania State University melalui beasiswa dari LPDP.  Sering saya merenung dan berkata dalam hati, terima kasih ya Allah, atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mengurus Ibu selama beliau sakit.  Dan Allah kemudian memberi saya hadiah berupa beasiswa yang jauh lebih baik dari yang dulu tidak jadi diberikan oleh Fulbright.  Ya, jika dibandingkan, saya menganggap bahwa apa yang LPDP berikan lebih baik dari yang Fulbright tawarkan dulu. Fulbright hanya menawarkan saya beasiswa sebesar $40 ribu per tahun sudah termasuk biaya kuliah dan biaya hidup. Artinya, saya harus mencari kampus dengan biaya kuliah maksimal $25 ribu per tahun, karena sisanya, $15 ribu, akan saya gunakan untuk biaya hidup saya dan isteri. Jika saya memilih kampus yang lebih mahal dari itu, maka berapa pun kekurangannya akan menjadi tanggungjawab saya. Fulbright juga tidak memberikan tunjangan untuk isteri. Selain itu, Fulbright hanya akan membiayai kuliah selama tiga tahun; sementara tidak ada kampus di Amerika Serikat yang menyediakan program S3 selama tiga tahun. Artinya, saya harus mencari sendiri dana untuk kuliah satu tahun terkahir.  Jika dibandingkan, LPDP tidak menetapkan batasan maksimal biaya kuliah, berapa pun biaya kuliahnya, mereka akan bayar. Selain memberikan biaya hidup untuk saya selaku penerima beasiswa, LPDP juga memberikan tunjangan untuk isteri saya. Saya sering merenung, ah, coba dulu saya tetap pergi sekolah melalui Fulbright, mungkin tantangan yang saya hadapi lebih berat. Saya yakin Tuhan pasti memberikan jalan, hanya saja, dengan dana terbatas yang Fulbright tawarkan, tantangan yang akan saya hadapi pasti jauh lebih berat. Lah, ini saja dapat tunjangan lebih dari LPDP masih terasa cukup berat.

Jangan pernah meremehkan do’a dan restu orang tua. Ridho mereka adalah RidhoNya Tuhan. Semoga, saya dan isteri bisa menjalani proses pengembaraan di Amerika Serikat Jilid II ini dengan sebaik-baiknya. Dan kembali ke tanah air, untuk membangun masyarakat dan mengangkat derajat diri, keluarga, dan orang tua.

Disclaimer:

THIS BLOG claims no credit for any images posted on this site unless otherwise noted. Images on this blog are copyright to its respectful owners. If there is an image appearing on this blog that belongs to you and do not wish for it appear on this site, please E-mail with a link to said image and it will be promptly removed.

Advertisements

2 Comments

  1. Filli Hidayat says:

    Terharu…..mengingatkan semua yg msh pny ibu utk berbakti krn ibu adlh syurga qt…

    Like

  2. Wahyu Alam says:

    Terharu saya membacanya, Pak.
    Ternyata perjuangan bapak itu luar biasa, jadi ikut merasakan sakit ketika urusan bolak-balik ke DIKTI tapi ngga digubris, luar biasa. Terima kasih sudah menulis di blog ini, Pak. Sehingga saya bisa belajar dari kehidupan bapak.

    Sukses dan sehat terus di Amerika sana, Pak. 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: